
Iis memarkirkan motornya, lantas turun dari motor untuk berjalan ke pintu rumahnya agar bisa mengetuk pintu lebih dulu.
"Assalamualaikum... Bu... Ibu..."
Iis mengucap salam sekaligus memanggil sang Ibu.
Tak lama berselang, terdengar langkah kaki di dalam sana mendekati pintu,
"Waalaikumsalam..."
Suara Ibu turut terdengar.
Klek...
Terdengar berikutnya suara kancing pintu dibuka, Iis pun segera menuruni teras, berjalan kembali ke arah motornya untuk kemudian memasukkannya ke dalam rumah.
Ibu yang masih menggunakan mukenah terlihat menunggui daun pintu, dan saat Iis dan motornya sudah masuk ke dalam rumah, barulah Ibu menutup pintu rumah mereka lagi dan mengancingnya lagi.
"Bu, martabak yang biasanya tutup, jadi Iis belikan di tempat lain."
Kata Iis.
"Oh iyo, tidak apa-apa, wong Ibu yang penting kan martabaknya."
Ujar Ibu.
Iis mengangguk seraya tersenyum.
"Iis mau mandi dulu Bu, gerah."
Kata Iis pula seraya mengambil kresek wadah martabak telor titipan sang Ibu untuk ia bawa ke ruang makan.
Ibu sendiri masuk ke kamar lagi, untuk melepas mukenah dan ingin segera menikmati makan malam lauk martabak telor dan tumis Pare pedes yang baru ia masak sore tadi.
"Ibu numis Pare?"
Tanya Iis saat meletakkan martabak telor milik Ibunya, lalu melihat satu mangkuk kecil isi tumis pare.
Ibu yang baru keluar kamar dan menyusul Iis ke ruang makan tertawa kecil.
"Iya sore tadi ngobrol dengan Bu RT yang baru pulang dari swalayan, cerita-cerita kok akhirnya sampai ke tumis pare, Ibu jadi ingin makan tumis pare."
Kata Ibu, membuat Iis jadi tertawa juga.
Nyatanya Ibu memang kadang mulai seperti anak kecil, tiap dengar atau melihat makanan apa langsung tiba-tiba kepengin.
__ADS_1
Pernah sekali waktu melihat acara wisata kuliner di TV, waktu itu acaranya syuting di Jogja makan nasi oseng mercon. Langsung itu Ibu mau makan lauk oseng mercon.
Walhasil, Iis langsung merogoh dompet cukup lumayan untuk beli daging agar bisa masak oseng mercon, tak lupa ia harus cari resepnya juga.
Tapi masih bagus kalau kepenginnya makanan dalam negeri, karena lidah Ibu bisa dibilang akan selalu bisa nerima.
Yang paling menguji kesabaran Iis adalah, saat Ibu lihat orang makan pizza, Iis sudah sampai rela pesan pakai layanan antar dengan harga yang pastinya tak murah karena demi Ibu, eh ujungnya tidak dimakan.
"Katanya roti kok aneh, lengket macam dikasih latek. Enakan golang-galing."
Dan satu kotak pizza pun Iis pindahkan ke piring lalu dikirimkan ke tetangga sebelah.
"Wah dari aromanya sih enak."
Kata Ibu manakala membuka kotak wadah martabak telor.
"Iya, ini memang katanya tidak jauh beda dengan yang biasa Iis beli buat Ibu."
Ujar Iis yang kemudian ke dapur untuk mengambilkan piring kosong buat Ibunya makan.
"Kamu bukannya tadi mau mandi?"
Tanya Ibu ketika Iis kembali dengan piring kosongnya.
"Iya Bu, ini nanti mau buatkan wedang Ibu dulu."
Ibu menyendok nasi dari magicom.
Nasi yang mengepul panas itu beraroma daun pandan.
Iis memang diajari oleh Ibunya, jika masak nasi diberi sobekan kecil daun pandan agar aromanya harum.
Setelah menyendokkan nasi ke atas piring, Ibu duduk di kursi makan, piring berisi nasi panas itu ia diamkan sebentar agar uap panasnya berkurang.
"Tadi antar Mbak Wening bagaimana?"
Tanya Ibu saat Iis akhirnya kembali lagi ke ruang makan sambil membawa segelas besar teh tawar hangat.
Iis meletakkan gelas air teh hangat itu di atas meja dekat Ibunya,
"Bagaimana apa Bu?"
Iis tak mengerti maksud pertanyaan Ibunya yang baginya adalah absurd.
"Lah kamu ini lho, tidak pahaman, ya tentu saja ketemu adik Mbak Wening apa tidak?"
__ADS_1
Mendengar Ibunya begitu, Iis jadi nyengir.
Ia sungguh tak menyangka jika Ibunya akan menanyakan soal Ridwan.
Dan mengingat Ridwan, Iis jelas langsung teringat akan Anisa, yang lantas membuat ada sisi hatinya tiba-tiba sedikit sakit.
"Ditanya malah bengong."
Ibu terkekeh.
Iis jadi tersipu malu,
"Tidak Bu, tidak ketemu, Pak Ridwan kan sedang pergi dengan Pak Haji Imron."
Kata Iis.
"Iya, cuma kan siapa tahu pas kamu datang dia pulang."
Ibu terkekeh lagi,
Iis hanya tersenyum tipis.
"Tek mandi dulu saja Bu."
Kata Iis akhirnya.
Bukan, bukan karena Iis tak sopan pada orangtua, atau tidak menghargai kebersamaan dengan orangtua.
Iis hanya enggan nantinya jadi membahas soal Ridwan makin jauh, sedangkan Iis tak bisa lupa bagaimana ekspresi Anisa saat tadi menceritakan soal Ridwan.
Jelas ada harapan yang sangat besar di sana.
Harapan untuk bisa suatu hari bersama Ridwan. Bisa merasakan kehidupan yang berbeda dengan kehidupan yang ia jalani sekarang.
Iis pun berjalan menuju kamarnya, melepas tasnya, jilbabnya, dan kemudian meraih handuknya di kamar.
Iis baru keluar kamar, saat tiba-tiba ia ingat paper bag isi buku yang ia beli terbawa Anisa.
Tadi Anisa setelah makan baso akhirnya memang kembali ke toko buku, dan membeli satu novel.
Lalu, begitu mereka akan naik motor, Anisa menawarkan untuk paper bag isi buku Iis juga Anisa pangku saja saat membonceng pulang.
"Aduh, padahal nanti malam ingin baca Totto-Chan, kenapa bisa lupa."
Iis menepuk keningnya.
__ADS_1
**---------------**