Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
138. Belum Tersadar


__ADS_3

Sekitar pukul sembilan lebih seperempat, saat jam istirahat pertama sebentar lagi akan selesai, Iis akhirnya sampai di sekolah.


Diparkirkannya motornya dekat pintu masuk parkiran, lalu ia memilih jalan lebih jauh sedikit.


Iis tampak berjalan agak tergesa, beberapa anak masih tampak berlarian ke sana kemari meskipun bel istirahat selesai telah berbunyi di seantero sekolah.


Pak Ilham menunggu di kantin nggih Bu, saya lagi disuruh Pak Kepala Sekolah ke minimarket.


Iis membaca pesan singkat Mas Trisno.


Nggih Mas.


Balas Iis, yang kemudian memilih langsung menuju kantin, karena mengingat orang yang sedang menunggunya itu sejatinya telah menghubungi Iis sejak masih di rumah Ridwan.


Sesampainya di kantin, tampak Bu Saripah, penjaga kantin sekolah menyambut Iis. Tampak meja-meja kursi kantin tampak kosong tak ada siapapun yang duduk di sana,


Hanya Pak Udin saja, suami Bu Saripah yang terlihat sibuk mengelap meja-meja kantin yang kotor karena anak-anak, sementara selebihnya hanyalah tiga kucing milik Bu Sarifah, dan tiga kitten anakan yang sedang makan di sudut ruangan kantin.


Makan sisa-sisa ayam goreng sisa Guru dan para murid yang mungkin tidak sempat sarapan di rumah sebelum berangkat.


"Bu, tadi bener ada Mas Trisno?"


Tanya Iis.


"Oh nggih Bu, tadi di sini sama saudaranya, tapi katanya dipanggil Pak Kepala Sekolah."


Jawab Bu Saripah.


Iis lantas celingak-celinguk,


"Kalau saudaranya Mas Trisno ke mana?"


Tanya Iis,


Ditanya keberadaan saudara Mas Trisno, terlihat Bu Saripah ganti yang celingak-celinguk,


"Tadi sih duduk dekat pintu masuk, tapi kok tidak ada yo?"


Ibu Saripah malah bingung sendiri, yang kemudian memanggil suaminya,


"Pak, tadi saudara Mas Trisno, ke mana ya?"


Tanya Ibu Saripah,

__ADS_1


"Tadi sih pamit ke belakang Bu."


Sahut Pak Udin.


"Ooh, berarti masih di sini."


Lirih Iis.


Iis baru akan bicara pada Bu Saripah agar dibuatkan wedang jeruk hangat untuk dirinya, ketika terdengar suara langkah kaki menghampiri, yang seiring dengan itu juga suara-suara berisik anak-anak yang berlarian menuju kelas mereka ikut terdengar.


Iis menoleh ke arah belakangnya, di mana ia mendengar suara langkah kaki yang tadi berjalan mendekat ke arahnya.


"Assalamualaikum,"


Seorang laki-laki muda yang memakai seragam pegawai tampak mendekati Iis.


"Waalaikumsalam,"


Jawab Iis dan Bu Saripah, yang setelah menjawab salah lebih memilih kembali ke meja jualannya.


"Bu Iis, bener?"


Tanya laki-laki muda itu yang lantas mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Ridwan yang melihat Iis dan laki-laki muda saudara Mas Trisno itu terlihat sekilas memandang dengan pandangan tidak suka, ia berjalan menuju meja jualan Bu Saripah dengan melewati Iis dan saudara Mas Trisno yang berdirinya sedikit menghalangi jalan, hingga bahunya sempat bersinggungan dengan Ridwan yang lewat tanpa permisi.


Iis tampak terheran-heran dengan sikap Ridwan yang tak seperti biasanya.


Laki-laki itu bahkan sama sekali tidak memandang Iis hingga Iis mengajak senyum pun Ridwan tidak merespon apapun.


"Maaf ya Bu, kalau tadinya mau siang malah saya sudah ke sini pagi-pagi."


Saudara Mas Trisno membuka suara.


Iis lantas mengajak laki-laki itu untuk duduk di salah satu bangku dan meja di kantin tersebut,


Ridwan yang memesan wedang teh tanpa gula dan kentang goreng, kini memilih duduk dekat meja jualan Bu Saripah, yang posisinya tak begitu jauh juga dengan Iis.


"Pak Guru Ridwan tumben jam segini ke kantin lho."


Ujar Pak Udin sambil mengantar pesanan minuman Ridwan.


Ridwan terlihat hanya tersenyum saja, tak berusaha menjawab apapun.

__ADS_1


"Kentangnya digoreng dulu nggih Pak, tunggu sebentar."


Kata Pak Udin pula, Ridwan mengangguk saja mengiyakan,


Ridwan baru menyeruput wedang teh tawar nya, sambil menyibukkan diri melihat hp, ketika kemudian ia mendengar saudara Mas Trisno tiba-tiba saja bertanya,


"Jadi bagaimana Bu, apa bisa kita langsung akad saja?"


Dan tentu saja, mendengar pertanyaan itu Ridwan saking kagetnya langsung keselek.


Apa?


Akad?


Akad apa?


Nikah?


Bagaimana bisa?


Memangnya siapa dia?


Ridwan tak habis pikir kenapa Iis yang ia kira belum ada calon tiba-tiba saja malah bersama laki-laki itu.


Dan...


Apa ini?


Aku ini kenapa sebetulnya?


Kenapa karena tak tenang mendengar Iis ditunggu laki-laki muda itu di kantin, aku sampai rela pergi ke kantin juga?


Ridwan akhirnya jadi kalang kabut sendiri dengan yang dirasakan hatinya.


Rasa yang masih belum bisa Ridwan pahami dengan baik.


"Ngg... Apa tidak lebih baik sepakat maharnya lebih dulu Pak,"


Kata Iis.


Lalu...


**--------------*

__ADS_1


__ADS_2