Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
37. Kesungguhan


__ADS_3

"Wan ayo berangkat, sudah siang."


Kata Mbak Wening.


Ridwan tampak keluar kamar, lalu menyalami Ibu yang duduk menemani Ajeng nonton Spongebob di TV.


"Pergi dulu Bu."


Pamit Ridwan.


"Ati-ati."


Kata Ibu ketika Ridwan menyalaminya.


Setelah bersalaman dengan Ibu, Ridwan juga mengajak Ajeng salaman.


Ajeng salaman dan mencium punggung tangan sang Paman tapi matanya tetap ke arah TV.


Ridwan tersenyum saja melihat tingkah polah keponakannya, sudah biasa anak jaman sekarang memang begitu, untungnya Ajeng tak kecanduan gadget, dan juga masih rajin belajar serta ngaji dan tidak malas jika disuruh Sholat.


Ajeng juga sudah bisa goreng telur sendiri, meskipun tetap dalam pengawasan orangtua.


Tapi intinya bukan bisanya, tapi kemauan dia untuk belajar hidup tak manja dan nantinya tak mengandalkan orang lain.


Banyak memang orangtua merasa bahwa kasih sayang adalah memanjakan, menjadikan anak sebagaimana majikan, bahkan seperti raja.


Orangtua seperti ini, tak melihat kenyataan bahwa hidup di luar sana keras dan butuh mental yang terbentuk secara kuat.


Orang yang ingin hidup sukses juga harus memiliki jiwa juang yang lebih besar dari orang lain, harus punya semangat yang lebih gigih dari orang lain, harus yang sungguh-sungguh rajin lebih dari orang lain.


Orangtua juga seringkali lupa, jika ia tak selamanya akan hidup, bahkan banyak yang ternyata meninggal saat anak masih kecil.


Memanjakan anak bukanlah kasih sayang, melainkan membentuk ia tumbuh menjadi orang yang hanya tahu semuanya serba instan.


Ia juga akan kesulitan survive hidup, dan akan makin tak mampu saat orangtuanya tiba-tiba tidak ada.


"Nanti sepulang mengajar ngaji, jangan lupa pisangnya dipanen semua ya Wan, dipisahkan yang bisa untuk dibikin keripik, dan yang matang untuk bikin bolu dan juga untuk Pak Haji Imron juga yang mateng Wan, satu tandan sekalian."


Kata Mbak Wening.


Ridwan menggelengkan kepalanya.


"Ngopo kirim pisang sampai satu tandan?"


Ridwan terlihat tidak setuju.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Kan Pak Haji Imron sudah baik sekali pada kita, sudah kasih kita motor, sudah kasih kamu kerjaan, sering juga kasih kita makanan, bahkan tiap tahun Pak Haji Imron tidak pernah lupa kasih zakat untuk Ibu."


Ujar Mbak Wening,


Ridwan tampak menggelengkan kepalanya dan menghela nafas,


"Kalau alasannya itu lalu Mbak Wening mencoba membalasnya dengan memberikan sesuatu berlebihan itu tidak benar."


"Lho kok tidak benar? Apanya yang tidak benar."


Mbak Wening tak mengerti,


"Pak Haji Imron, mau beli pisang dua truk juga sanggup, kalau Mbak Wening mau ngirim, bikin saja bolu pisah satu loyang, dan pisangnya satu sisir, sudah cukup. Atau satu loyang bolu dan satu bungkus keripik. Sudah cukup."


"Lha kamu kok pelit."


Mbak Wening belum apa-apa protes terus,


"Bukan pelit Mbak, tapi pisang sebanyak itu akan jadi beban malahan buat Pak Haji, terlalu banyak jumlah sementara di tempat Pak Haji hanya tinggal berdua dengan Bu Haji dan dua asisten rumah tangga saja, anak-anaknya semua di luar kota, siapa yang sanggup menghabiskan pisang sebanyak itu? Yang ada nanti busuk, terbuang, mubazir, dosa."


Kata Ridwan.


"Lebih baik bagikan merata saja pada tetangga dari sekitar rumah kita sampai dekat masjid, atau mbak goreng pisang lalu berikan pada para buruh tani yang sedang bantu panen, tidak apa kasih mereka to? Nda rugi."


Mbak Wening diam saja,


"Urusan zakat itu juga sudah wajibnya orang yang mampu, setiap tahun mereka harus membersihkan diri memang sudah semestinya, jadi tidak usah lantas jadi beban kita harus berterimakasih, biarkan mereka yang memiliki kewajiban itu bisa membayar dengan baik karena Allah saja."


Mbak Wening masih terdiam, yang ia lakukan hanya memandangi adiknya,


"Jangan melakukan kebaikan dengan nafsu, karena nanti nilai di sisi Allah juga tidak ada, jadikan semuanya bisa bermanfaat Mbak, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Kita wajib berbuat baik, membalas kebaikan juga dianjurkan dan dicontohkan Rosulullah, tapi jika kita melakukannya bukan lagi karena Allah, kalau kita melakukannya secara berlebihan, kita akan merugi. Maka, jangan begitu Mbak,"


Ridwan tersenyum sambil membalas memandang kakaknya.


"Nanti akan aku sampaikan kepada Pak Haji saat Mbak Wening membuatkan bolu pisang untuk beliau, tak mengapa ditambah pisang satu sisir, itu bisa beliau letakkan di meja makan, untuk dinikmati orang rumah.


Mbak Wening akhirnya mengangguk,


"Kalau begitu ya baiklah."


Ujar Mbak Wening akhirnya


**----------------**


Di rumah Pak Haji Syamsul, pagi ini Anisa tidak mau ke toko karena alasan tidak enak badan, padahal karena ia ingin membongkar gudang untuk mencarinya barang-barang lamanya, takut surat milik Ridwan dulu masih ada di sana.

__ADS_1


Anisa memang menyimpannya selama ini, tapi sejak kamarnya ditukar dengan Suci, barang-barang lama Anisa dipindahkan ke gudang dan sepertinya surat itu termasuk yang menyelip di sana.


Karena Anisa ijin tidak bisa ke toko, maka Mbak Faizah yang terpaksa ke toko, meskipun tentu saja Mbak Faizah sambil mengomel kesal pada Annisa.


"Sudah tahu hari ini jadwal Suci ngaji, malah Tidak berangkat."


"Ya kan Suci ngajinya ditemani aku tidak apa-apa."


Kata Anisa.


"Tapi betul itu ditemani, di video juga, mau aku kirimkan ke Bapaknya, supaya tahu Anaknya sudah mulai ngaji lagi."


Pesan Nabi Faizah cerewet, yang tentu saja dijawab anggukan kepala oleh Anisa.


Dan setelah Mbak Faizah berangkat, maka Anisa sesuai rencana langsung pergi ke gudang yang terletak di belakang rumah untuk mencari barang-barang lamanya.


Anisa harus menemukannya, Anisa sudah memutuskan akan menjawab semuanya hari ini pada Ridwan.


Tentu, tujuannya adalah agar saat nanti Abahnya pulang dari Tanjung, Anisa bisa mengutarakan keinginannya untuk bersama Ridwan saja.


Ia ingin terlepas dari rencana perjodohan dirinya dengan Wisnu anak Bibi Sundari.


Untuk kali ini saja, sungguh Anisa hanya ingin kali ini saja ia bisa menentukan pilihan atas kemauannya sendiri.


Ia tak mau menikah dengan orang yang tidak ia sukai.


Anisa tak mau nantinya di dalam pernikahan yang ia tak inginkan justeru lebih banyak keluhan dari dalam dirinya.


Anisa tidak mau saat melayani suami akan dalam keadaan terpaksa.


Bagaimanapun semua ingin menikah hanya satu kali seumur hidup.


Maka dari itu, Anisa ingin sekali ini ia menentukan apa yang ia inginkan.


Ya Ridwan...


Anisa ingin menjadi isterinya, ingin membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah warahmah bersamanya.


Sudah jelas Ridwan adalah laki-laki Soleh yang juga sepertinya bertanggungjawab serta tidak mata keranjang.


Ridwan adalah sosok calon imam yang dimimpikan hampir semua perempuan.


Anisa benar-benar tak mau menikah dengan siapapun selain dengan Ridwan. Sungguh.


**------------**

__ADS_1


__ADS_2