
Masjid dan mushola masih terlihat banyak orang yang baru selesai sholat jamaah maghrib, saat Iis dengan motornya lewat untuk pulang.
Sebelum pulang ke rumah, Iis mengantar Anisa lebih dulu ke rumahnya.
"Makasih Is, udah ditraktir dan dengerin semua ceritaku soal Ridwan."
Kata Anisa tersenyum.
Iis mengangguk,
"Ya Nis, sama-sama."
Kata Iis.
Anisa akan berbalik untuk membuka pintu pagar, saat kemudian dia kembali menghadap Iis seolah mengingat sesuatu.
"Is."
Panggil Anisa.
"Ya."
Iis yang akan kembali melajukan motornya untuk pulang akhirnya terpaksa menunda lebih dulu.
"Jadi menurutmu, aku harus ngomong ke Ridwan soal perasaanku juga?"
Tanya Anisa.
Iis menatap Anisa sejenak dalam diam, banyak rasa berkecamuk dalam dadanya, tapi...
Ah gadis ini, meski ia anak salah satu orang paling kaya di kampung mereka, nyatanya Anisa seolah tak benar-benar hidup bahagia.
Mungkin ia memang berlebihan secara ekonomi, tapi sepertinya ia tak bahagia untuk hal lain.
Ia terlihat begitu tertekan.
Anisa yang selalu hidup dalam kekangan, yang seolah tak bisa memutuskan apapun sendiri meski hanya untuk sekedar kesukaannya.
Ditambah ia juga harus kehilangan Uminya, yang meninggal karena kecelakaan yang naasnya sedang bersama Anisa.
Hal yang pastinya langsung jadi pukulan telak untuk Anisa karena merasa sangat bersalah, sekaligus juga disalahkan.
Ya...
Sejak itu, Anisa makin murung dan makin menarik diri. Jarang tersenyum dan makin tertutup.
Untuk Iis, jelas keadaan Anisa sangat menyedihkan.
Namun...
Iis semakin lekat menatap Anisa, sahabatnya.
Wajah itu kini berseri-seri, senyumnya meski belum terkembang sempurna namun Iis mampu merasakan ada yang hidup di dalam diri Anisa.
Dan itu setelah Anisa akhirnya memberanikan diri menceritakan sosok Ridwan.
Sosok laki-laki yang sepertinya sudah sekian lama menarik hatinya, yang namanya ia simpan begitu rapi di dalam hatinya.
Sosok yang memang Iis akui memiliki pesona yang berbeda dengan kebanyakan laki-laki lain di jaman sekarang.
Laki-laki sholeh yang sederhana dan apa adanya, yang halus budi pekertinya, juga saat bertutur kata.
Iis menghela nafas, meski ada sisi hatinya yang entah kenapa merasa tidak rela, namun Iis sebagai perempuan yang berusaha setia dengan sahabatnya mencoba sebisa mungkin menekan perasaannya.
"Ya balaslah suratnya sekarang Anisa, bukankah kamu masih menyimpannya? Siapa tahu Ridwan masih menunggu jawabanmu juga."
Kata Iis akhirnya.
Anisa tersenyum,
"Baiklah Is, aku akan cari dulu suratnya, aku rasa aku masih menyimpannya, aku akan menulis balasan itu malam ini juga."
Kata Anisa.
Iis mengangguk.
"Ya, besok dia datang untuk mengajar Suci kan?"
__ADS_1
"Iya Is, kok kamu tahu?"
Tanya Anisa heran.
"Kan tadi kamu yang cerita pas lagi makan baso."
Ujar Iis.
Anisa nyengir keki,
"Oh, sungguhkah? Kenapa aku lupa."
Anisa nyengir lagi.
Iis jadi tertawa kecil, meski bisa dikatakan itu tak sepenuh hati.
Ya, sudah kubilang, Iis saat ini perasaannya tak karuan, ada yang terasa menghujam dadanya.
Sakit.
Meskipun Iis tak tahu pasti sebetulnya ia kenapa.
Apakah aku cemburu?
Kenapa?
Kenapa aku harus cemburu pada sahabatku?
Kenapa aku seolah tak rela jika nantinya Anisa bisa bersama Ridwan?
Kenapa aku jadi sejahat ini?
Iis terus bertanya-tanya dalam hati.
**---------------**
Ridwan sedang mengajar ngaji Ajeng di kamarnya, sementara itu Ibu dan Mbak Wening duduk di ruang makan sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng.
"Ibu mau makan sekarang nopo Bu?"
Tanya Mbak Wening pada Ibunya, takut kalau menunggu Ridwan dan Ajeng terlalu lama.
"Tidak, nanti saja biar makan bareng-bareng kan lebih enak."
Ujar Ibu.
Mbak Wening mantuk-mantuk.
"Itu pisang banyak sekali mau kamu jadikan kripik semua?"
Tanya Ibu.
Tampak Mbak Wening menggeleng.
"Tidak lah Bu, terlalu banyak, nanti sebagian mau Wening olah jadi makanan lain saja."
"Itu yang sudah matang besok dibawa Ridwan saja ke tempat Pak Haji Imron, beliau sudah baik sekali selama ini."
Kata Ibu.
"Iyo Bu, nanti itu yang dibuat keripik sama bolu pisang juga Wening bagi kalau untuk Pak Haji Imron."
"Kamu mau buat berapa loyang bolunya?"
Tanya Ibu.
"Berapa ya Bu enaknya?"
Mbak Wening malah balik tanya.
"Yo kalau bisa dibuat banyak ya buat saja, sekalian itu tetangga kanan kiri di kasih, sama anak-anak ngaji muridnya Ridwan di tempat Pak Haji Imron, kamu buatkan saja itu nanti."
Kata Ibu.
"Maksudnya satu anak satu loyang Bu?"
Mbak Wening belum apa-apa sudah merasa gempor.
__ADS_1
Ibu jadi terkekeh-kekeh geli sambil menggelengkan kepalanya.
Nyatanya Mbak Wening ini kalau menurut Ibu, kadang juga suka tiba-tiba bolot.
"Nopo to Bu? Malah ngguyuni."
Mbak Wening macam orang tersinggung.
Ibu makin terkekeh jadinya.
"Lha wong kamu ini, mbok yo dipantes, moso mau bikin bolu pisang buat anak satu-satu,"
Kata Ibu di sela tawanya.
Bersamaan dengan itu Ajeng keluar dari dalam kamar Ridwan, sepertinya ia baru selesai mengaji.
"Al-Qur'an nya di simpan yang bener Ajeng, jangan ketindih buku lainnya kayak kemarin, sudah bolak balik dibilangin, kalau Al-Qur'an itu jangan ditindih."
Omel Mbak Wening saat dilihatnya Ajeng masuk kamar membawa Al-Qur'an miliknya.
Ridwan juga tampak keluar dari kamarnya, Ibu memberi isyarat pada Mbak Wening agar menyiapkan piring untuk Ridwan.
(Jika ingin membayangkan seperti apa ruang makan di rumah Ridwan, bayangkanlah ruang makan di rumah Bang Doel, hihi...)
"Makan dulu Wan."
Kata Ibu.
Ridwan mengangguk seraya berjalan menghampiri Ibunya.
Tampak ia menarik kursi kayu di samping Ibunya duduk, lalu Ridwan pun duduk di sana.
Mbak Wening yang begitu diminta Ibu menyiapkan piring langsung ke dapur, kini muncul membawa empat piring kosong untuk mereka santap malam.
"Hari ini Ridwan tidak jamaah Isya dulu, rasanya kurang enak badan."
Kata Ridwan.
"Makan, minum obat, lalu bawa istirahat."
Mbak Wening berkata seraya menyerahkan piring kosong ke arah Ridwan.
"Iya nanti sholat dulu, baru minum obat."
Jawab Ridwan.
"Ya maksudnya begitu urutannya."
Kata Mbak Wening.
"Ih Ibu kan memang tidak bisa mengurut, balonku ada lima saja warnanya jadi kebalik-balik,"
Kata Ajeng.
Membuat Nenek terkekeh-kekeh, sedangkan Mbak Wening tentu saja cemberut.
Ajeng yang duduk di sebelah Ridwan cekikikan.
"Kamu ini kecil-kecil suka gosipin Ibu."
Mbak Wening akan memukul Ajeng dengan pisang.
Ajeng tambah cekikikan.
"Iya Ibu kalo nyanyi, balonku ada lima, rupa-rupanya warna, merah, ungu, kuning, hijau dan kelabu."
Kata Ajeng.
Mbak Wening tertawa bersama Ridwan dan Ibunya.
"Mana ada coba aku pernah nyanyi Begitu kan?"
Kata Mbak Wening.
"Ih iya Ibu ngajarin Ajeng."
Ajeng cekikikan, membuat Ridwan dan Ibunya tertawa melihat Mbak Wening kesal digoda anaknya terus.
__ADS_1
**------------**