Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
128. Sepertiga Malam


__ADS_3

Malam harinya Ridwan tidur lebih awal sepulang dari jamaah sholat Isya di Masjid, Ajeng bahkan masih ribut dengan Mbak Wening karena Ajeng kehilangan buku saku pramuka miliknya.


Keduanya begitu berisik di dalam kamar membongkar meja lemari belajar Ajeng sambil terdengar pula Mbak Wening yang mengomeli Ajeng agar lebih tertata saat menyimpan barang, terutama peralatan sekolahnya.


Sedangkan Ajeng terus bicara soal ia tidak merasa sembarangan meletakkan buku saku itu sepulang ikut latihan pramuka minggu lalu.


Ridwan masuk kamar dengan kepala senat senut yang walhasil makin bertambah muter-muter karena suara berisik Kakak dan keponakannya.


Tapi, bukan Ridwan jika sampai marah hanya karena masalah seperti itu.


Ridwan pun lebih memilih masuk kamar, pasang headset lalu mendengarkan bacaan surah Ar Rahman dari imam besar Masjidil Haram yang begitu menyejukkan hati.


Mendengarkan setiap ayat dibaca, sembari mengingat artinya, lalu memaknai dan merenungkannya, membuat hati Ridwan begitu terenyuh, hingga tanpa terasa air matanya pun berlinang.


Setiap kali Allah seolah bertanya,


"Maka, nikmat Tuhan mana lagi kah yang kau dustakan?"


Saat itu, Ridwan tentu saja sebagai mahluk merasa begitu malu, karena telah menikmati begitu banyak karunia dan keberkahan, tapi ia seperti lebih terfokus pada ketidak nyamanan, lebih terfokus pada hal-hal yang belum dimiliki bukan pada yang telah dimiliki, terfokus pada hal-hal yang belum bisa dinikmati bukan pada yang telah berulangkali dinikmati.


Ridwan terus meresapi setiap ayat dalam surah Ar Rahman yang ia dengarkan, hingga kemudian ia tanpa terasa terlelap.


Kampung Waru yang mulai diselimuti malam kini tampak sepi, hamparan sawah di sepanjang jalan di depan rumah Ridwan yang sudah mulai digarap ketika siang hari kini hanya dipenuhi suara jangkrik dan kodok.


Bulan malam hanya bersinar separo, menggantung di sudut malam bersanding dengan banyak bintang yang ramai, mengawasi jalanan kampung di kampung Waru yang lengang.


Hingga pukul dua dini hari, ketika Ridwan pun akhirnya kembali terjaga.


Pemuda itu pelahan mengucek matanya, lalu melepas headset dari telinga dan baru setelah itu bangun duduk di atas tempat tidur.


Dibacanya sebentar doa dari bangun tidur, sebagai bagian dari rasa syukur masih diberi umur dengan bisa bangun lagi agar bisa ibadah lagi, agar bisa memperbaiki kualitas diri dan kualitas ibadah diri sendiri lagi.


Setelah membaca doa, Ridwan turun dari tempat tidur, ia berjalan ke arah pintu untuk mengambil handuk karena akan mandi sebel sholat tahajud.


Namun, saat mengambil handuk di gantungan belakang pintu, tanpa sengaja tangan Ridwan menyenggol kemeja yang digantung sebelah handuk hingga kemeja itu jatuh ke lantai.


Cepat Ridwan meraih kemeja itu, karena takut akan kotor.


Ya...


Kemeja itu, hadiah dari Bu Guru Iis yang diterima Ridwan beberapa waktu lalu.


Ridwan menatap kemeja di tangannya tersebut, kemeja yang pagi tadi juga ia telah pakai untuk pergi berangkat mengajar di sekolah, dan tentu saja Bu Guru Iis sudah melihatnya.

__ADS_1


"Wah, kemeja baru, potongan rambut baru, tampan nian ini Pak Guru Agama kita."


Begitu puji Pak Kepala Sekolah pagi tadi.


"Jangan-jangan kemeja hadiah dari calon isteri ini."


Seloroh Pak Hasan, membuat Pak Kepsek tertawa,


"Wah bisa jadi, tapi ini nanti bisa membuat banyak gadis dan janda patah hati."


Timpal teman Guru laki-laki lainnya di ruang Guru, yang langsung membuat gerr suasana kantor, tapi dari semua kehebohan itu yang semakin membuat heboh karena Bu Guru Iis yang tiba-tiba jadi terbatuk-batuk, entah mungkin sejak melihat Ridwan memakai kemeja darinya, atau karena mendengar selorohan Pak Hasan yang mengatakan kemeja Ridwan dari calon isterinya.


Tapi yang jelas, karena sikap yang tidak biasanya itu, akhirnya Bu Guru Iis langsung jadi sasaran Pak Hasan dan Pak Kepala Sekolah yang menjodoh-jodohkan dengan Ridwan.


Dan...


Ridwan tiba-tiba tanpa sadar mengulum senyum mengingat peristiwa di sekolahan pagi tadi gara-gara kemeja barunya.


**--------------**


Bluk!


"Astaghfirullah..."


Pekik Iis saat tanpa sadar jatuh dari tempat tidur karena saking lelapnya.


Tidak biasanya ia tidur sampai jatuh seperti ini, Iis bahkan sampai heran setengah mati.


Iis lantas dengan berpegangan sisi tempat tidur akhirnya naik lagi ke atas tempat tidurnya.


Tampak Iis duduk di tepi tempat tidur seraya mengatur nafasnya agar bisa lebih tenang.


Apa tadi, ia mimpi apa?


Iis mencoba mengingat-ingat, dan...


Tampak pelaminan di depan sana begitu megah dan indah, sepasang pengantin bersanding di pelaminan itu membelakangi para tamu.


Aroma bunga yang begitu harum semerbak mewangi memenuhi setiap sudut ruangan.


Hiruk pikuk para tamu ramai mengambil gambar pengantin di pelaminan, dan sebagiannya bersiap berdiri di depan panggung.


Iis tampak tergesa-gesa menyeruak di antara para tamu, kain bawahannya yang terlalu sempit membuat kedua kakinya jadi sulit untuk melangkah dengan cepat.

__ADS_1


"Iis, sini ayuk Is..."


Terdengar seperti suara memanggil nama Iis, karena tergesa-gesa Iis jadi terhuyung, ditambah Iis melihat sosok Ridwan berdiri di antara tamu yang hadir kini tengah menatapnya dari tempat Ridwan berdiri, hal itu sontak saja membuat Iis jadi semakin kehilangan fokus dan keseimbangan, hingga akhirnya...


Aaaaa...


Iis sandalnya tersandung karpet, yang membuat Iis langsung jatuh ke depan dengan sukses.


Iis mengusap lengan dan kakinya, sakit sekali.


Dan ngenesnya, jatuhnya itu benar-benar membuatnya sakit, karena Iis sungguhan jatuh dari tempat tidur.


"Ya Allah..."


Iis mengusap wajahnya karena merasa malu sendiri dengan mimpinya. Bagaimana bisa ia bermimpi aneh begitu?


Jatuh di acara pernikahan orang dan kemudian dilihat Ridwan?


Astaghfirullah...


Iis jelas saja tidak ingin itu terjadi, terlalu memalukan.


Iis mengusap wajahnya meskipun ia tetap sempat tertawa geli karena membayangkan kejadian dalam mimpinya itu benar ada di dunia nyata.


Krik... krik... krik...


Terdengar suara jangkrik di luar sana, bersamaan dengan itu suara alarm hp Iis juga ikut berbunyi.


Sudah jam dua pagi, memang sudah jadi jadwal Iis bangun untuk sholat.


Iis segera berdiri dari duduknya, lalu berjalan keluar kamar.


Di jam-jam manusia lain terlelap, di jam-jam manusia lain kadang begadang tapi untuk hal yang kurang bermanfaat, Iis adalah salah satu orang yang beruntung karena Allah menuntunnya mudah melaksanakan sholat sepertiga malam.


Iis menyalakan lampu dapur agar lebih terang, lalu menuju kamar mandi untuk mandi sebelum sholat.


Sebelum masuk kamar mandi dinyalakannya lebih dulu lampu kamar mandi juga, lalu membaca doa baru masuk dengan sandal jepit yang disediakan di dekat pintu dengan menggunakan kaki kiri lebih dulu.


"Kenapa memakai sandal jika masuk kamar mandi Bu Nyai?"


Tanya Iis dulu saat masih remaja mengaji di isteri Abah Yai.


Bu Nyai Fatimah tersenyum, lalu...

__ADS_1


"Salah satu adab masuk kamar mandi, memakai alas kaki, tentu selain membaca doa sebelum masuk kamar mandi dan juga tak boleh telanjang bulat saat mandi, serta tak boleh terlalu lama dan bersuara. Karena sesungguhnya di dalam kamar mandi, ada banyak jin yang bisa melihatmu, jika kau baca doa akan ada hijab yang menutupimu dari mereka, saat kau berlaku sesuai tuntunan, mereka tak bisa mengganggumu pula."


**--------------**


__ADS_2