Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
11. Rencana Perjodohan


__ADS_3

"Mbak, Mbak Wening..."


Terdengar suara Putri sulung Pak Haji Syamsul, Ibu Faizah yang juga tinggal di rumah Pak Haji Syamsul juga dengan anak-anaknya.


"Nggih Bu..."


Mbak Wening tergopoh-gopoh dari ruang makan menuju ruang depan.


Tampak di sana ada mobil yang baru memasuki halaman, sepertinya mereka kedatangan tamu.


"Tolong sediakan minum nggih Mbak Wening untuk tamunya Abah, trus tolong ditelfonkan Anisa di toko, minta dia kirim orang beli kue di tokonya Bu Haji Nur."


Kata Bu Faizah.


"Kue nopo Bu?"


Tanya Mbak Wening.


"Apa saja, bilang untuk disajikan di rumah dan untuk oleh-oleh juga."


Ujar Bu Faizah.


Mbak Wening mengangguk.


Tampak Mbak Wening lantas pergi menuju dapur untuk membuatkan minuman.


Pak Haji Syamsul keluar dari kamar, ia tampak masih cukup lelah karena baru saja pulang dari kunjungan keluar kota dengan Faizah dan kedua cucunya untuk menghadiri acara keluarga.


Bu Faizah sendiri tampak menyambut kedatangan tamu Abahnya di teras depan rumah, tamu yang masih ada hubungan kerabat dari pihak Abah.


"Faizah, sehat?"


Seorang perempuan paruh baya yang baru turun dari mobil tampak menyapa Faizah yang menyalami dirinya dan mencium punggung tangannya.


"Alhamdulilah Bi, Alhamdulillah sehat."


Jawab Faizah.


Di belakang Perempuan paruh baya itu juga turun seorang laki-laki paruh baya, yang lantas diikuti lagi oleh seorang pemuda yang mengemudikan mobil.


Faizah bersalaman dengan laki-laki paruh baya yang merupakan suami Bibi Sundari, dan juga pemuda yang datang bersama mereka.


Faizah sejenak menatap pemuda yang akan bersalaman dengannya,


"Ini... Wisnu kan?"


Tanya Faizah.


Bibi Sundari mengangguk sambil terkekeh.


"Pangling ya Faizah?"


Faizah tentu saja mengangguk.


"Iya Bi, pangling banget soalnya terakhir ketemu kan Wisnu masih kelas satu SMP apa ya Nu?"


Faizah ke arah pemuda bernama Wisnu yang kini tampak tersenyum dan mengangguk.


"Waktu masih tinggal di dekat masjid Uswatun Hasanah."


Kata Bibi Sundari.


"Enggih Bi."


Faizah lantas mempersilahkan Bibi sekeluarga masuk ke dalam rumah, kebetulan Pak Haji Syamsul yang baru selesai istirahat itu juga sudah ke ruang depan rumah.


"Nah itu Abah."


Kata Faizah melihat Abahnya juga telah bersiap menyambut tamunya.


Pak Haji Syamsul mempersilahkan semuanya duduk di ruangan tamu rumahnya itu, sementara Faizah bergegas ke ruang belakang untuk menentukan apa Mbak Wening sudah melaksanakan semua permintaannya tadi.


"Mbak..."


Faizah mendekati dapur di mana di sana mbak Wening sudah selesai menyeduh teh dan bersiap akan membawa wedang teh tersebut untuk jamuan para tamu majikannya.

__ADS_1


"Mbak Wening sudah telfon Anisa?"


Tanya Faizah.


"Sampun Bu."


Jawab Mbak Wening.


"Apa lebih baik disuruh pulang saja ya?"


Gumam Faizah lagi yang kemudian meraih hp di kantung gamisnya.


Ah, coba Mbok Rat tidak cuti, pasti hari ini dia yang akan akan paling heboh menyuruh Anisa pulang.


Tak selang berapa lama, tampak Mbak Wening kembali ke ruang dapur, Faizah sedang mencoba menelfon Anisa.


"Duh, kenapa tidak diangkat sih."


Kesal Faizah.


"Mungkin toko sedang ramai Bu."


Ujar Mbak Wening.


"Aaah, kalau toko seramai apapun juga harusnya tetap bisa angkat telfon."


Faizah lantas menguhubungi nomor toko,


"Mbak Nisa mana?"


Tanya Faizah, begitu suara salah satu pelayan toko emas terdengar mengangkat telfon nya,


"Ya mbak, tadi aku sudah pesankan kok. Kue buat tamu kan?"


Kata Anisa.


"Nis, apa lebih baik kamu pulang saja ya?"


Tanya Faizah,


"Lho, pulang kenapa Mbak?"


"Ada Wisnu, Nis. Ingat kan Wisnu, anaknya Bibi Sundari, yang dulu satu sekolah sama kamu, saudara jauh Abah."


Kata Faizah.


"Wisnu?"


"Iya Wisnu, pulang gih, dia pasti ikut karena ingin ketemu kamu."


Ujar Faizah.


"Tapi toko lagi rame Mbak, hari ini bantuan cair, jadi banyak yang borong emas."


Kata Faizah.


"Memangnya Pak Mujib tidak berangkat?"


Tanya Faizah, menanyakan salah satu karyawan senior di toko emas Pak Haji Syamsul.


"Berangkat Mbak, tapi kan ini penjualan juga tetap harus ada yang jaga."


"Oalah, ya sudah."


"Iya Mbak."


"Ya wis, kamu nanti pulangnya diantar Pak Mujib kaya biasa kan berarti?"


Tanya Faizah.


"Nggih Mbak, kalau pulang aku diantar Pak Mujib, kan bawa nota segala macam susah. Kalau berangkat tadi naik angkutan."


Ujar Anisa.


"Ya sudah."

__ADS_1


Faizah mantuk-mantuk.


"Soalnya tadi pulang kamu sudah berangkat."


"Iya Mbak, tadi berangkat jam sembilanan, Pak Mujib mah ambil kunci toko dari jam setengah enam seperti biasa."


Kata Anisa lagi.


Setelah itu Faizah pun mengakhiri panggilannya, bersamaan dengan suara ojek terdengar menguluk salam di pintu samping membuat Mbak Wening setengah berlari ke arah pintu samping itu.


"Ojek ya Mbak?"


Tanya Faizah pada mbak Wening.


"Enggih."


Sahut mbak Wening.


Sementara Mbak Wening menerima kiriman kue dari tukang ojek yang disuruh Anisa, tampak Faizah kembali ke ruang depan untuk menemani Abahnya menemui para tamu.


"Jadi ini kemarin si Wisnu ceritanya ingin daftar jadi Guru di SDN Waru dua, kan keponakan Bapak ini si Hasan jadi guru juga di sana, tapi eh katanya sudah ada yang mengisi."


Terdengar Bibi Sundari tengah bercerita soal Wisnu.


Faizah duduk di kursi dekat Abahnya.


"Guru apa memangnya?"


Tanya pak Haji Syamsul.


"Guru agama, kan si Wisnu Sarjana Agama."


Kata Bibi Sundari.


"Tidak meneruskan usaha Bapak saja nak Wisnu jadi pengusaha perhiasan? Kan enak kerja di rumah tinggal mengawasi karyawan."


Pak Haji Syamsul menatap Wisnu,


"inshaAllah tetap meneruskan usaha Bapak kok Wak haji, cuma biar ilmu bermanfaat saja ingin mengajar juga."


Kata Wisnu.


"Wah luar biasa,"


Pak Haji Syamsul memuji dengan tulus.


Faizah juga mantuk-mantuk semakin kagum pada Wisnu.


Sejak dulu Wisnu masih SMP dan Faizah kadang melihatnya lewat depan rumah, Faizah memang suka sekali pada sosok Wisnu.


Meskipun anak orang kaya, Wisnu termasuk anak yang tidak sombong dan bergaul tanpa pilah pilih.


Ia juga anak laki-laki yang sopan, saat dulu Anisa jatuh, Wisnu yang mengantar Anisa pulang dan Faizah melihat bagaimana Wisnu bicara pada Ibu sangat sopan.


Menurut Faizah, jika kelak Anisa akan menikah, maka Wisnu adalah kandidat yang paling tepat untuk menjadi suami adik bungsunya itu.


Apalagi setelah peristiwa kecelakaan tempo hari, sudah jelas Faizah merasa bahwa Anisa sudah semestinya mendapatkan suami yang sungguh-sungguh istimewa.


"Oh iya, si Anisa kok tidak kelihatan,"


Tiba-tiba Bibi Sundari teringat sosok Anisa.


"Anisa di toko Bi, beberapa hari ini jadi kasir di toko karena Abah dan saya pergi keluar kota."


"Ooh, wah sayang sekali Nu, padahal kamu mau diajak karena ingin bertemu Anisa ya."


Seloroh Bibi Sundari pada anaknya, yang akhirnya disambut gelak tawa Pak Haji Syamsul.


"Nanti juga pulang jam empat sore, tunggu saja."


Kata Pak Haji Syamsul.


"Nah sekalian dijodohkan saja apa bagaimana ini keduanya?"


Suami Bibi sundari menambah gerr suasana, sementara Wisnu terlihat senyum-senyum.

__ADS_1


Mbak Wening datang dengan dua piring suguhan, satu piring buah-buahan, dan satu piring lagi kue brownies yang telah dipotong-potong.


**-------------**


__ADS_2