
"Hati-hati ya anak-anak di jalan, jangan lupa nanti habis maghrib, ngaji trus diulang pelajarannya."
Kata Iis mengantar anak-anak keluar rumah setelah selesai mengikuti les di rumah Ibu Guru kesayangan mereka.
Satu persatu dari mereka tampak pulang dijemput, ada yang dijemput Ayahnya, Ibunya, Kakaknya, atau juga ada yang dijemput asisten rumah tangganya.
Beberapa yang lain, yang rumahnya dekat, mereka pulang jalan kaki bersama teman yang lain.
Ya...
Murid les Iis sekarang memang sudah nyaris dua puluh anak, jika di sekolahan, pasti sudah hampir satu kelas.
Semuanya berasal dari sekolah-sekolah yang berbeda-beda, yang terbanyak adalah dari Sekolah Dasar Waru Satu, dan ada juga yang dari Madrasah Ibtidaiyah milik pesantren Abah Yai.
"Ajeng dijemput siapa?"
Tanya Iis, begitu semua sudah pulang, tapi Ajeng masih duduk sambil cemberut di kursi teras rumah Iis karena Ibunya belum juga menjemput.
"Tadi Ibu katanya antar keripik dulu sebentar, tapi Ajeng sudah mau pulang belum datang."
Kata Ajeng bersungut-sungut.
Iis tersenyum, ia mengusap kepala Ajeng.
"Ke dalam dulu yuk, Bik Iis punya coklat di kulkas."
Kata Iis.
Ajeng menatap Iis,
Tiba-tiba Iis mengatakan Bik Iis, bukan Bu Guru Iis lagi.
Meskipun Ajeng sebagai anak-anak tentu belum mengerti betul perubahan sebutan itu, tapi selentang-selenting Ibunya dan Mbah soal Bu Gurunya itu akan menikah dengan Pamannya, Ajeng sedikitnya tahu.
Iis meraih tangan kecil Ajeng untuk dibawa masuk rumah, di luar geluduk sudah mulai terdengar memenuhi langit.
"Lho Ajeng belum pulang?"
Ibunya Iis muncul dari arah pintu menuju dapur ke ruang tengah di mana kini Iis juga baru sampai di sana bersama Ajeng, Ibu tampak membawa satu piring gorengan tempe dan tahu anget.
"Nanti coba Iis telfon Mamanya Ajeng, mungkin beliau masih sibuk dengan pelanggan keripiknya."
Kata Iis.
"Oh iya, tadi Mbak Wening katanya diminta datang sekalian ke rumah Bu Lurah, paling masih mengobrol, Bu Lurah kan kalau sudah ngajak ngobrol suka lupa waktu. Di PKK saja begitu."
Kata Ibunya Iis.
"Ooh pantesan."
__ADS_1
Iis mantuk-mantuk, lalu membuka kulkas dan mengambil satu batang coklat kesukaannya, ia memang kerap menyimpannya.
"Ajeng duduk sama Nenek dulu, nanti Bik Iis telfon Mama Ajeng sebentar, kalau Mama Ajeng masih lama, tidak apa-apa Ajeng di sini dulu, atau kalau mau pulang, nanti Bik Iis antar ya."
Kata Iis pada Ajeng yang tampak langsung diiyakan si anak.
Iis tersenyum, lantas menoleh ke arah Ibunya, seolah memberi isyarat ia menitipkan Ajeng sebentar, karena ia harus menelfon Mbak Wening, sementara hp Iis ada di kamar.
Ibunya pun tentu saja mengangguk.
Ajeng duduk di kursi depan TV yang bersebelahan dengan tempat makan.
Tampak Ibunya Iis menyusul duduk di samping Ajeng yang terlihat membuka bungkus coklat dari Iis.
Iis sendiri berjalan menuju kamar untuk mengambil hp nya, agar bisa menghubungi Mbak Wening.
Dengan duduk di tepi tempat tidur, Iis lantas membuka hp nya, dan kemudian mencari nomor kontak Mbak Wening.
Tak perlu menunggu lama, saat nomor Mbak Wening di hubungi, panggilan itupun langsung tersambung.
"Halo Bu Iis."
Terdengar suara Mbak Wening, mendahului Iis yang akan mengucap salam.
Iis tampak tersenyum sendiri jadinya, sungguh Mbak Wening memang berbeda sekali dengan adiknya.
"Mbak, maaf,"
Mbak Wening yang begitu mendengar Iis memanggilnya dengan sebutan Mbak jadi tersadar bahwa sebentar lagi Bu Guru kesayangannya Ajeng ini akan jadi adik iparnya.
"Oalah, iya dik Iis, maaf, terbiasa memanggil Bu Guru Iis."
Ujar Mbak Wening,
Terdengar Iis tertawa kecil.
"Begini Mbak, ini les nya sudah selesai, Ajeng cemberut menunggu Mbak Wening jemput, kalau Mbak masih sibuk tidak apa-apa, nanti saya yang antar Ajeng pulang nggih."
Kata Iis akhirnya.
"Eh... oalah, iya... Iya dik Iis, maaf, ini saya masih di rumah Bu Lurah, masih ada yang harus dibicarakan, mungkin baru selesai nanti menjelang Maghrib, niatnya juga mau minta jemput ojek saja."
Kata Mbak Wening,
"Oh nggih Mbak, kalau begitu Ajeng biar saya yang antar pulang."
"Tapi, kalau merepotkan yo nanti aku minta Ridwan saja menjemput Dik."
Ujar Mbak Wening yang malah jadi tidak enak harus merepotkan,
__ADS_1
"Oh tidak sama sekali Mbak, tidak merepotkan kok Mbak, ini nanti tek antar pulang sebelum hujan, kasihan takutnya nanti malah Ajeng sakit kalau kehujanan."
"Duh jadi tidak enak ini dik Iis."
"Tidak apa-apa Mbak, soalnya Mas Ridwan juga sepertinya tadi masih sibuk di pondok, jadi tidak apa-apa saya saja yang antar."
"Kalau begitu, terimakasih ya dik Iis, terimakasih sekali, maaf juga pastinya."
Kata Mbak Wening,
"Sama-sama Mbak, tidak apa-apa, tidak usah minta maaf."
Ujar Iis.
Setelah itu, panggilan mereka pun diakhiri, Iis keluar kamar sebentar, menghampiri Ajeng dan Ibu.
Tampak Ibunya Iis sedang bercerita saat masa kecilnya dahulu, yang kerap mandi di sungai kampung yang dulu sungainya masih jernih, banyak ikannya, bebatuan di bawah sungai bisa terlihat dengan jelas.
Pulang mandi di sungai akan berlarian di pematang sawah, kadang sambil membawa tangkapan ikan yang kelak bisa digoreng di rumah.
Selain mandi di sungai, Ibunya Iis bersama teman-temannya di masa kecil juga suka mencari belut, atau juga disuruh orangtua ke kebun dan hutan mencari ranting pohon untuk tambahan kayu bakar.
Ibunya Iis bercerita, jika jaman dulu kehidupan masih belum terlalu enak secara ekonomi, tapi alam masih asri, hingga anak-anak bisa bermain sesuka hati.
"Apa Nenek juga sekolah?"
Tanya Ajeng pada Ibunya Iis.
"Oh yah tentu sekolah, kalau tidak sekolah nanti tidak bisa menulis dan membaca."
Kata Ibunya Iis membuat Ajeng tertawa kecil,
"Tapi, Nenek sekolahnya tidak seperti Ajeng."
Kata Ibunya Iis lagi, tampak Ajeng mengerutkan kening,
"Dulu, tidak banyak anak-anak yang bisa sekolah memakai seragam, bahkan tas dan sepatu juga jarang ada yang punya."
"Terus sekolahnya pakai apa Nek?"
Tanya Ajeng yang jadi penasaran.
"Ya kalau yang punya sandal ya pakai sandal, kalau tidak punya ya berangkat sekolah tampa alas kaki. Tas juga begitu, ada yang sekolah hanya membawa satu buku tulis saja, ada juga yang pakai kantong kresek untuk membawa buku-bukunya."
Ajeng makin heran lagi,
Bagaimana bisa sekolah dengan tas kresek. Begitu batinnya.
"Jaman dulu itu jaman orang masih banyak yang susah Ajeng, jadi tidak heran pemandangan seperti itu di mana-mana. Ibaratnya anak boleh sekolah saja itupun sudah Alhamdulillah, tidak hanya disuruh ngurus adik, ngurus rumah."
__ADS_1
Kata Ibunya Iis, Ajeng mantuk-mantuk, lalu...
**-------------**