
Wisnu tampak memasuki halaman rumah Pak Haji Syamsul dengan mobilnya, seorang penjaga rumah yang sigap membukakan pagar terlihat juga menyambut kedatangan Wisnu.
"Pak Haji dan Mbak Faizah lagi di toko emas Tuan, di rumah hanya ada Mbak Anisa dan Bik Siti."
Kata si penjaga rumah.
Wisnu tersenyum sambil mengangguk,
"Nggih Pak, tidak apa-apa, saya memang ada perlunya dengan Mbak Anisa."
Kata Wisnu.
"Oh enggih, enggih... Tuan kan pacar nya mbak Anisa yang kemarin ke sini mengantar Mbak Anisa pulang yo? Astaghfirullah, saya kok lali."
Penjaga rumah Pak Haji Syamsul menepuk keningnya sendiri, membuat Wisnu jadi ingin tertawa.
"Bisa dipanggilkan mbak Anisanya, pak? Saya tunggu di teras saja."
Kata Wisnu, yang kemudian memang di teras depan rumah Pak Haji Syamsul memang ada teras yang di mana di sana ada satu set kursi tempo dulu yang sesekali juga bisa digunakan untuk menerima tamu.
Penjaga itupun tentu saja langsung mengangguk cepat, ia terburu-buru berjalan masuk lewat pintu samping dan mencari Bik Siti.
Bik Siti yang merupakan pengganti Mbok Rat dan Mbak Wening yang baru bekerja sekitar tiga harian itu tampak muncul dari dapur dengan tergopoh-gopoh manakala dipanggil..
"Kenapa Man? Ada apa to?"
Tanya Bik Siti.
"Itu lho ada pacarnya mbak Anisa, mau ketemu Mbak Anisa, Mas sapa itu namanya, nunggu di teras."
"Ooh iya iya, sebentar, tek manggil Mbak Anisa dulu, tapi nanti kalau tidak mau keluar yo kamu yang bilang yo Man?"
Bik Siti membuat perjanjian,
"Iyo... Iyo..."
Bik Siti pun lantas cepat menuju ruang utama yang kemudian menaiki anak tangga menuju lantai dua di mana kamar Anisa berada.
Sesampainya di depan kamar Anisa, tampak nampan berisi sarapan yang pagi tadi diantar belum diambil dari atas meja dekat pintu kamar.
Bik Siti menghela nafas, setelah makanan tadi malam juga tidak disentuh, sekarang juga makanan untuk sarapan pun tak disentuhnya pula.
Sungguh Bik Siti jadi sedih mengingat beberapa hari sebelum akhirnya diberitahu bahwa Pak Haji Syamsul sedang butuh asisten rumah tangga, lalu ia memberanikan diri mendaftar, ia dan anak-anaknya dua hari tidak bertemu nasi.
Ia sama sekali tak pegang uang untuk beli beras, dan hanya bertahan dengan makan daun singkong yang ia petik dari kebun tetangga.
Ia tak berani hutang di warung karena sudah terlalu menumpuk, ia juga tak berani pinjam apalagi minta pada saudara dan tetangga. Jadilah ia hanya minta daun singkong, untuk direbus dengan garam saja.
Bik Siti masih menatap sedih sepiring nasi dengan lauk telur ceplok dan mie goreng serta kering kentang. Hatinya hancur, melihat makanan di sia-sia.
Hingga...
Krieeeeet.
Terdengar derit suara pintu kamar Anisa yang tiba-tiba terbuka, dan tampak Anisa yang tampak rapi menatap Bik Siti yang akhirnya jadi menatapnya pula.
Anisa sejenak melirik makanan yang ada di nampan. Makanan yang tadi sempat Anisa lihat sedang ditatap dengan sedih oleh Bik Siti.
"Oh... Ngg... Maaf Mbak Anisa, anu... Itu ada siapa tadi, Mas siapa ya..."
Bik Siti malah keder sendiri,
__ADS_1
"Wisnu."
Kata Anisa akhirnya.
"Oh Mas Wisnu namanya..."
Bik Siti malah seperti bergumam sendiri.
"Dia sudah kirim chat, aku mau pergi Bik."
Ujar Anisa kemudian,
Bik Siti melihat Nona mudanya dari ujung kepala hingga ujung kaki yang begitu rapi seperti akan pergi.
"Oh Mbak Anisa akan pergi."
Bik Siti yang memang tak paham dengan apa yang terjadi di rumah itu, termasuk pertengkaran semalam karena ia memang tidak menginap di rumah Pak haji Syamsul, akhirnya mengangguk saja.
Anisa menenteng tas pakaian ukuran sedang, ia memberikan dua lembar uang seratus ribu untuk Bik Siti.
"I... Ini apa Mbak?"
Tanya Bik Siti heran.
"Buat Bibik sama penjaga rumah, maaf Anisa cuma bisa kasih segitu, kali lain, jika ada waktu kita ketemu lagi, semoga bisa kasih lebih."
Ujar Anisa.
"Oh nggih maturnuwun Mbak Anisa."
Bik Siti pun mantuk-mantuk saja.
Anisa menyalami asisten rumah tangganya, mata Anisa terlihat kembali berkaca-kaca, rasanya sedih luar biasa sebetulnya ia harus keluar dari rumah yang ia sudah begitu lama tinggal di sana.
Anisa lantas pamit pada Bik Siti, tampak Bik Siti mengikuti hingga teras rumah, bahkan sampai ketika Wisnu menyambut Anisa keluar dan mengambil alih tas pakaiannya.
Wisnu membawakan tas pakaian Anisa ke mobil, menyimpannya di kursi belakang, Anisa masuk sendiri ke dalam mobil dan duduk di sana.
Di kursi depan samping kursi untuk mengemudi.
Pandangan matanya nanar, ketika Wisnu kemudian kembali ke tempat Bik Siti berdiri di depan teras, Anisa pun hanya bisa menatapnya dalam diam.
Entah apa yang disampaikan Wisnu, buat Anisa kini ia percaya saja pada Wisnu.
Apapun yang Wisnu lakukan, Anisa yakin itu jauh lebih baik daripada ia tetap berada di rumah yang lama-lama bagai neraka ini.
Ya neraka, karena semuanya selalu terasa begitu panas.
**----------------**
Sementara itu di kelas Ridwan mengajar sudah sampai ke ujung berakhirnya jam pelajaran.
"Baiklah, minggu depan kita akan belajar tentang sejarah Islam di Indonesia ya, mengulang pelajaran tentang walisongo."
Kata Ridwan.
"Iya Pak Guruuuu..."
Sahut anak-anak.
"Nanti kayak Bu Guru Iis ya Pak Guru."
__ADS_1
Seorang anak nyeletuk.
Ridwan menatap anak itu,
"Kenapa Bu Guru Iis?"
Tanya Ridwan bingung,
"Iya pak Guru, kalau dengar Bu Guru Iis menjelaskan kisah jaman dulu tuh kayak dengar Nenek dan Kakek lagi mendongeng Pak, seruuuuu..."
Kata yang lain,
Ridwan yang mendengarnya jadi tersenyum,
"Begitu ya?"
Ridwan duduk di kursi meja Gurunya yang ada di depan kelas.
Sambil menata buku ia terdengar bertanya,
"Pernah belajar sejarah tokoh-tokoh islam juga? Wali songo?"
Tanya Ridwan.
"Pernaaaaaah..."
Kompak mereka.
Ridwan mantuk-mantuk.
"Kata Bu Guru Iis, tokoh Islam di negara kita itu keren-keren,"
Ridwan mengangguk setuju.
"Saya paling suka Bung Hatta."
"Saya KH. Agus Salim."
"Saya paling suka Sultan Hasanuddin."
Anak-anak jadi heboh sendiri. Ridwan jadi tersenyum. Terbersit rasa kagum pada Iis yang sepertinya berhasil membuat anak-anak jatuh cinta pada para tokoh di negaranya.
"Tjokroaminoto doong kalau saya."
Seorang anak gendut tak mau kalah.
"** Habibie terbaik."
"RA Kartini lah kalau saya, kan beliau yang kata Bu Guru Iis adalah santriwati yang memberikan ide Gurunya menulis tafsir Alquran, dan akhirnya jadi buku tafsir Alquran pertama di Asia. Kereeen..."
Seorang anak perempuan tentu saja idolanya adalah perempuan.
"Aku Nyi Ageng Serang,"
"Aku Dewi Sartika."
"Aku Nyai Ahmad Dahlan."
"Aku Cut Nyak Dien."
Ramai anak-anak menyebut tokoh islam kebanggaan mereka,
__ADS_1
MasyaAllah, Ridwan sampai merasa terharu.
**------------**