
Mbok Yem tampak makan dengan lahap, bahkan sampai minta ijin nambah nasi dan tentu saja Ibunya Ridwan dengan senang hati mempersilahkan.
"Sudah lama sekali, saya tidak pernah makan bersama keluarga, rasanya sangat berbeda saat makan sendirian dan dalam suasana seperti ini."
Kata Mbok Yem.
Ibunya Ridwan tersenyum mengerti, sungguh ia merasa sangat bersyukur karena selama ini ia tak pernah merasakan kesepian.
"Sekarang Mbok Yem bisa makan bersama dengan kami, sekarang kita di sini keluarga Mbok Yem juga."
Ujar Ibunya Ridwan sambil mendorong piring berisi lauk ke depan Mbok Yem.
Mbok Yem terlihat tersenyum, ia benar-benar seperti menikmati waktu kebersamaan tersebut.
"Anak saya dekat, tapi rasanya sangat jauh."
Lirih Mbok Yem dengan wajah sedikit menunduk, tapi terlihat jelas air wajahnya yang sedih itu di mata Ibunya Ridwan.
Mbak Wening yang sedari tadi memilih diam hanya bisa melihat Ibunya sendiri yang tampak sangat iba pada Mbok Yem.
Dalam usia tuanya, ia justeru sendirian dan kesepian. Memiliki anak tapi serasa tak punya anak, meskipun keberadaannya sangat dekat.
"Doakan saja anaknya Mbok, supaya nantinya ingat Mbok Yem lagi, yang sekarang lagi lupa, dimaafkan saja, mungkin berat, tapi bagaimanapun toh kita yang mengandungnya, melahirkannya, mungkin ia sedang khilaf Mbok."
Kata Ibunya Ridwan.
Mbok Yem mengangguk seraya menyeka satu tetes air mata dari sudut matanya.
"Pasti memang mudah buat saya meminta Mbok Yem sabar karena saya tidak mengalami sendiri, tapi pastinya berbeda untuk Mbok Yem yang mengalami sendiri. Tapi, inshaAllah, pasti semua terjadi karena ada hikmahnya Mbok, dan Mbok Yem terpilih mendapat ujian besar karena Allah mungkin melihat panjenengan memiliki tingkat kesabaran yang lebih besar dari orang lain seperti saya ini."
Mbok Yem mengangguk,
"Ya mungkin semua juga karena kesalahan saya dulu, saat saya dagangnya masih maju, saya masih muda, anak saya itu sebetulnya sekolahnya pinter, dia minta diteruskan sekolah tapi saya pikir anak perempuan buat apa sekolah tinggi. Lebih baik belajar masak ngurus suami dan anak nantinya."
Kata Mbok Yem sambil menatap sepiring nasi nya dengan mata yang tampak berkaca-kaca lagi.
"Saya juga tidak sekolah Mbok, yang sekolah Ridwan."
Mbak Wening akhirnya ikut menimbrung.
Mbok Yem menatap Mbak Wening,
"Nopo nggih?"
Tanya Mbok Yem,
Mbak Wening mengangguk.
"Saya tidak sampai SMA, saya di rumah bantu Ibu, saya menikah lalu baru sebentar suami meninggal dan sekarang saya jadi janda, beruntung meskipun saya tidak sekolah, saya belajar ketrampilan, dan jadi bisa punya usaha sendiri seperti sekarang."
__ADS_1
Mbak Wening bertutur, lalu...
"Tapi, saya selalu yakin, rezki sebesar apapun, atau kesuksesan seperti apapun yang dicapai anak, itu adalah karena doa dari orangtua, terutama dari Ibu. Tidak mungkin jika tidak begitu soalnya Mbok."
Mbok Yem kali ini menatap Ibunya Ridwan,
"Nopo rahasianya bisa memiliki anak-anak yang berbakti seperti ini?"
Tanya Mbok Yem membuat Ibunya Ridwan tertawa kecil.
"Tidak ada rahasia selain saya mendoakan mereka mbok, melakukan apapun untuk mereka dari hati."
Mbok Yem kembali menatap Mbak Wening yang mengangguk,
Mbok Yem meneteskan air mata lagi, teringat ia atas dirinya yang selama muda dulu, saat anak-anak masih kecil, ia sibuk mencari uang saja.
Ia berdagang, ia juga keliling kriditan, dan sibuk ikut mengurus warga mendampingi orang bale desa.
Saat itu rasanya begitu membanggakan, membuat hatinya tinggi karena merasa menjadi bagian dari orang-orang penting di tengah masyarakat.
Tapi...
Nyatanya ternyata ia justeru lupa bahwa kewajibannya yang sebetulnya adalah anak-anaknya sendiri di rumah.
Anak-anak yang bukan hanya butuh uang saja untuk menemani mereka tumbuh dan mencari jati diri, namun mereka juga butuh kasih sayang.
Mereka butuh diarahkan agar bisa menjadi manusia yang memanusiakan manusia, tumbuh menjadi manusia dengan hati yang hangat, penuh kasih, dan selalu bisa menerima kekurangan orang lain dengan pemakluman besar karena sadar betul bahwa tak ada kesempurnaan di dunia.
Karena sungguh apa yang ada di dunia ini hanya Allah yang tahu.
**--------------**
"Minumnya apa Ka?"
Tanya seorang pelayan rumah makan lesehan yang Iis dan Ridwan pilih untuk mereka makan siang sambil menunggu dihubungi Pak Haji Imron.
"Saya teh hangat tanpa gula saja."
Kata Ridwan pada pelayan rumah makan.
"Jeruk hangat saja Mbak."
Kata Iis tersenyum, pelayan mencatatnya lagi.
"Baik, saya ulang ya Ka, pesanannya. Nasi ayam sambal ijo satu porsi, Nasi ayam kremes satu porsi, sayur asem satu porsi, tahu goreng satu porsi, satu gelas teh tawar anget dan satu gelas jeruk anget untuk minumnya. Ada tambahan Ka?"
Tanya si pelayan ramah, Iis menggeleng, Ridwan pun sama, ia merasa itu sudah cukup.
Tentu saja, bukankah makan juga tak boleh berlebihan?
__ADS_1
Pelayan rumah makan itupun pamit.
Sepeninggal pelayan, maka tinggalah kini Iis dan Ridwan berdua saja.
Ridwan tampak sibuk mengirim pesan pada Pak Haji Imron, sedangkan Iis tentu saja mengirim pesan pada Ibunya di rumah.
Ya, meskipun Ibu sudah tahu sepulang dari sekolahan Iis akan ke mana, tetap saja Iis merasa harus mengabarkan posisinya saat ini pada Ibu.
Bu, Iis mungkin pulang sore.
Ibu jangan telat makan Bu, tadi pagi Iis masak capcay sama ayam goreng ditaruh di lemari makan ya Bu.
Ibu mau dibelikan apa untuk sore nanti? Martabak telor nopo?
Tulis Iis di pesan yang ia kirim.
Tapi Ibu tampaknya sedang istirahat siang sekarang, karena pesan Iis tak dibuka.
Iis menghela nafas, lalu meletakkan hp nya di atas meja di depannya, karena dilihatnya Ridwan sudah tak lagi sibuk dengan hp nya.
"Maaf ya, saya langsung memasukkan nama Iis di organ yayasan karena benar-benar tidak ada nama lagi yang tepat menduduki posisi ini."
Ridwan akhirnya membuka pembicaraan, Iis mengangguk,
"Tidak apa-apa Mas, malah ini seperti sebuah kehormatan sampai diminta terlibat dalam pengabdian pada umat sekaligus juga membantu keluarga Almarhum Pak Sahudi merealisasikan amanat Pak Sahudi di akhir hayat beliau."
Kata Iis.
Ridwan tersenyum,
Keduanya kemudian tenggelam dalam obrolan seputar kepengurusan yayasan nantinya, terutama tentang aktivitas dalam rumah tahfiz dan pondok yang ada di bawah naungan yayasan.
Di dalam obrolan itu, mereka pun tanpa sadar jadi semakin saling mengenal dan jadi saling menyelami pikiran satu sama lain.
Dari itu pula, keduanya tanpa sadar jadi semakin saling mengagumi satu sama lain.
Dan saking menikmatinya obrolan yang benar-benar sesuai dengan dunia mereka itu, Iis dan Ridwan sampai tak menyadari ada pasangan muda yang melewati mereka, yang keduanya juga sama tak menyadari keberadaan Iis dan Ridwan yang sebetulnya duduk di kursi dekat pintu keluar rumah makan.
"Kayaknya kita kalau sampai sana hujan harus menginap di rumah Uwak."
Kata Wisnu pada Anisa saat berjalan keluar dari rumah makan dan menuju mobil Wisnu yang diparkir tak begitu jauh dengan sebuah motor model lama.
Motor model lama dengan dua helm, yang satu di spion dan satunya digantung di setang.
Anisa yang saat masuk mobil harus melewati motor itu sempat menoleh dan memandangi motor yang entah kenapa ia merasa itu adalah motor Ridwan.
Ya motor Ridwan, apakah dia ada di sini?
Anisa sejenak menatap ke arah rumah makan lagi, namun Wisnu memintanya cepat masuk mobil, Anisa pun akhirnya menurut.
__ADS_1
**-------------**