Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
154. Dua Orang Ibu


__ADS_3

"Mas, saya langsung ke Pak Haji nggih."


Kata Pak Karto begitu sampai di depan pagar bambu rumah Ridwan,


Pagar bambu yang dibentuk saling silang itu sudah tak lagi berwarna karena sering terkena cipratan air bercampur tanah ketika hujan turun.


"Wah, serius tidak mampir ini Pak Karto? Ngopi, ngopi dulu,"


Ujar Ridwan.


Pak Karto tersenyum,


"Maturnuwun Mas, kapan-kapan saja nanti saya mampir."


Kata Pak Karto sembari menyerahkan kresek belanjaan Ibunya Iis yang turut ia bawakan tadi kepada Ridwan.


"Duh maturnuwun ini Pak, jadi merepotkan."


Ibunya Iis ikut menyela pembicaraan Pak Karto dan Ridwan.


"Mboten menopo-menopo Bu, saya tidak merasa direpotkan,"


Pak Karto tersenyum, lalu permisi pada Ibunya Iis dan juga pada Ridwan,


Sepeninggal Pak Karto yang kini meneruskan jalan paginya untuk pulang ke rumah Pak Haji Imron, Ridwan pun mempersilahkan Ibunya Iis untuk masuk ke rumahnya yang sederhana itu.


Rumah yang masih separuhnya terbuat dari papan itu kini tampak jendela serta pintunya dibuka lebar.


Rumah sederhana, namun bersih dan tertata rapih, baik tanaman di halaman depannya, lalu terasnya yang belum dikeramik juga meski hanya dari semen terlihat bersih sekali dengan beberapa pot bunga yang dijejer rapi.


"Monggo Bu, silahkan masuk dulu, soalnya saya tadi belum manasi motor, nanti tek keluarkan dulu motornya ."


Kata Ridwan ketika mereka sampai di depan pintu utama rumah.


"Assalamualaikum..."


Ridwan mengucap salam saat masuk ke dalam rumah, lalu mempersilahkan Ibunya Iis masuk.


Ibunya Iis akan melepas sandalnya, tapi Ridwan segera melarang.


"Tidak usah dilepas Bu, sandalnya, wong rumah masih begini."


Kata Ridwan.


"Tidak sopan to Nak Ridwan, tidak apa-apa dilepas saja."


Ibunya Iis tetap melepas sandalnya di dekat keset yang dibuat dari serabut kelapa, baru kemudian ia pun masuk ke dalam rumah Ridwan.


"Monggo Bu, pinarak."


Kata Ridwan pada Ibunya Iis yang mengikuti Ridwan.


"Assalamualaikum..."


Ucap Ibunya Iis pula.

__ADS_1


"Waalaikumsalam..."


Jawab Ridwan,


Ibunya Iis kemudian duduk di salah satu kursi kayu model jaman dulu yang masih terlihat bagus karena dirawat dengan baik.


Ridwan meletakkan tiga kresek besar berisi belanjaan Ibunya Iis di atas kursi panjang ruang tamu, lalu Ridwan permisi sebentar untuk masuk ke dalam rumah, memanggil Ibunya.


"Bu... Bu..."


Ridwan memanggil Ibunya sampai ke dapur, yang kemudian ternyata dilihatnya Ibu nya sedang memberi makan ayam-ayam Mbak Wening.


"Bu..."


Panggil Ridwan lagi mengulang dari arah pintu dapur, yang membuat Ibu baru menoleh,


"Eh Wan, ws mulih?"


Ibu yang semula jongkok memberi makan ayam dengan lebihan nasi kemarin dicampur dedak itu tampak berdiri.


Ia berjalan ke arah Ridwan yang berdiri di pintu dapur yang untuk menuju halaman belakang.


"Ada tamu Bu,"


Kata Ridwan.


"Tamu? Pagi-pagi? Sopo?"


Tanya Ibu heran pada Ridwan sambil berjalan ke arah keran yang ada di kotakan di dapur rumah.


"Ibunya Bu Iis, Bu."


Ujar Ridwan.


"Bu Guru Iis?"


Tanya Ibu,


Ridwan mengangguk,


"Nggih Bu, itu Ibunya Bu Guru Iis."


Ujar Ridwan.


"Oh ya, ya..."


Ibu dan Ridwan baru akan ke ruang depan, saat terdengar suara Mbak Wening mengucap salam.


"Assalamualaikum..."


Suara Mbak Wening yang selalu stereo terdengar membahana.


"Waalaikumsalam..."


Tentu saja ada suara yang menjawab salam Mbak Wening dari arah kursi tamu, dan...

__ADS_1


"Eh Bu,"


Mbak Wening langsung terkejut melihat Ibunya Iis duduk di ruang tamu rumahnya.


"Sugeng Bu,"


Mbak Wening menghampiri Ibunya Iis yang berdiri dari duduknya, mereka bersalaman.


Bersamaan dengan itu Ibu dan Ridwan yang muncul di ruang tamu,


"Eh ini Ibu, Bu, ini Ibunya Bu Guru Iis."


Mbak Wening memperkenalkan, takut Ibunya belum mendapatkan informasi yang akurat.


Tapi, tentu saja tidak, karena Ridwan sudah lebih dulu memberitahu Ibunya tentang sosok Ibu yang kini duduk di ruang tamu rumah mereka.


Ibunya Ridwan menghampiri Ibunya Iis yang tampak begitu senang akhirnya bisa ke rumah Ridwan dan bertemu langsung dengan Ibunya Ridwan.


Keduanya bersalaman.


"Alhamdulillah, bisa bertemu dengan Ibunya Nak Ridwan, senang sekali Bu, pagi ini rasanya seperti dapat rejeki nomplok."


Kata Ibunya Iis yang pada dasarnya memang masih suka bercanda.


Ibunya Ridwan jadi tertawa kecil,


"Ibu ini bisa saja, Masya Allah, tentu saya yang harusnya bersyukur bisa bertemu seorang Ibu yang sangat pandai mendidik putrinya hingga seperti Bu Guru Iis."


Ujar Ibunya Ridwan pula.


Mbak Wening yang melihat pertemuan dua Ibu itupun langsung mengerling pada adiknya sambil ehm ehm...


Ridwan yang paham maksud Mbak Wening jadi tertunduk karena sedikit tersipu,


Mbak Wening lantas cepat melesat masuk ke ruang dalam untuk membuatkan teh, kebetulan ia tadi membeli goreng pisang dan bakwan juga, jadi bisa untuk suguhan.


"Silahkan duduk Bu, maaf ini rumahnya masih berantakan, maklum,"


Ibunya Ridwan tampak malu-malu, Ibunya Iis lantas duduk di kursi yang tadi ia duduki,


"Ini bersih sekali lho Bu, bersih, rapi,"


Puji Ibunya Iis.


Ibunya Ridwan tersenyum,


"Tapi pasti tidak sebersih rumah panjenengan."


"Ah, tidak Bu, sama saja, rumah itu hanya tempat untuk berteduh, tidak jadi soal mau seperti apa bentuknya, yang paling penting adalah yang menempati rumah itu."


Ujar Ibunya Iis.


Ibunya Ridwan tersenyum, sungguh jelas sekarang kenapa Iis tumbuh menjadi gadis yang begitu bersahaja, ramah, hangat, sopan, baik hati dan tentu saja sholihah.


Maka benarlah, bahwa baik buruknya generasi, salah satu yang paling berperan adalah bagaimana seorang perempuan menjadi Ibu untuk anak-anaknya.

__ADS_1


Bagaimana ia mendidik, bagaimana ia memberikan contoh ketauladanan.


**------------**


__ADS_2