
Senja telah menguasai langit, meski mendung lebih dominan dan curahan air hujan masih cukup deras.
Iis pamit pulang karena khawatir Ibunya sendirian di rumah.
Meskipun Ibunya Ridwan berusaha menahan, tapi Iis meminta maaf karena harus tetap pamit.
Ridwan pun meminjami Iis jas hujan miliknya, Iis dengan senang hati menerima.
"Terimakasih."
Kata Iis kala Ridwan memberikan jas hujan miliknya.
"Kami yang harusnya berterimakasih karena sudah rela mengantar Ajeng pulang, padahal tadi tinggal telfon aku saja, jadi aku yang jemput."
Ujar Ridwan.
Iis tersenyum,
"Tidak apa-apa, aku tahu Mas tadi kan mau ke kantor yayasan dan menengok pondok, sudah terlalu sibuk mengurus ini itu, hanya mengantar Ajeng bukan perkara sulit."
Kata Iis,
Ridwan menghela nafas, sungguh Iis memang perempuan yang pengertian dan juga sangat mandiri. Sama sekali tidak kolokan dan manja.
"Hati-hati ya Bik Iis."
Kata Ajeng yang berdiri di samping Pamannya sambil memandangi Iis yang tengah sibuk memakai jas hujan Ridwan.
"Iya Ajeng, terimakasih ya."
Kata Iis sambil tersenyum,
"Tunggu sebentar, Nak Iis, tunggu sebentar,"
Ibu terlihat tergopoh-gopoh dari ruang dalam, ia tampak menbawa satu kresek hitam ukuran sedang.
"Ini buat oleh-oleh di rumah."
Kata Ibu mengulurkan kresek berisi dua bungkus keripik tempe.
"Lho Bu, ini kan..."
Iis tentu saja tidak enak, karena ia tahu sekali jika keripik tempe buatan Mbak Wening saat ini sedang laris manis dan banyak sekali yang mulai pesan, karena Iis bolak balik dapat pesanan untuk Mbak Wening dari teman-temannya sesama Guru pun kebanyakan keripik tempe.
"Tidak apa, bawa saja, bisa buat lauk makan di rumah, salam ya buat Ibu."
__ADS_1
Ujar Ibu lagi,
Iis memandang Ridwan sejenak, tampak kemudian Ridwan menganggukkan kepalanya menandakan Iis menurut saja pada Ibu.
Iis akhirnya menerima pemberian calon Ibu mertuanya,
"Maturnuwun Bu, kalau ke sini selalu jadi merepotkan Ibu."
Kata Iis benar-benar tak enak.
Ibu tersenyum sambil menggeleng, jelas Ibunya Ridwan sangat menyukai Iis, dan bisa memberikan sesuatu untuk Iis adalah sebuah kebanggaan tersendiri pastinya.
Iis kemudian pamit kembali, bersalaman dengan Ibunya dan mencium punggung tangan Ibu.
Setelah itu, Iis menyalami Ajeng, yang kemudian Ajeng ganti mencium punggung tangan Iis.
"Pulang dulu nggih Mas, jas hujannya besok tek bawa."
Kata Iis.
Ridwan menggelengkan kepalanya,
"Wis Is, tidak usah, buat Iis saja di rumah."
Ujar Ridwan,
Ridwan tersenyum,
"Ya baiklah, apa yang baik menurut Iis saja."
Kata Ridwan akhirnya, Iis pun mengangguk.
Iis lantas menerobos hujan untuk kemudian naik ke atas motornya, tak usah menunggu lama hingga Iis menyalakan mesin motornya dan kemudian melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Ridwan dengan diiringi tatap mata Ridwan dan Ibu serta Ajeng.
"Dia benar-benar perempuan yang baik, jika kelak memang kalian berjodoh, jaga dia baik-baik Wan, jangan sampai kamu sakiti hatinya, kasihan, perempuan yang baik akan mudah terluka hati, dan jika laki-laki sampai melukai hati isterinya yang sholihah, maka setiap langkah laki-laki itu akan dipenuhi laknat dari para malaikat Allah."
Ujar Ibu.
Ridwan menganggukkan kepalanya,
"Nggih Bu, Ridwan sebagai manusia biasa tentu akan sesekali melakukan salah, dan jika kelak Ridwan sampai melakukan suatu kesalahan, mohon Ibu menegur Ridwan Bu, agar bisa Ridwan segera perbaiki."
Kata Ridwan.
Ibu menepuk-nepuk punggung Ridwan dengan lembut,
__ADS_1
"Tentu... tentu... Ibu akan selalu mengingatkan, karena Ibu pasti ingin kamu masuk syurga Allah."
Ujar Ibu membuat Ridwan terharu.
**------------**
Anisa yang tampak masih kesal terlihat berdiri di balik kaca jendela kamarnya memandangi hujan yang turun deras.
Ia ingin sekali pergi dari rumah rasanya jika sedang seperti ini.
Rumahnya yang penuh dengan orang-orang yang mencintai dunia secara berlebihan, membuat suasana benar-benar tidak menyenangkan.
Anisa menatap jalanan kampung yang juga terlihat dari tempatnya kini berdiri, jalanan kampung yang sepi karena hujan.
Hanya ada sekali dua kali anak-anak kecil yang melintas hujan-hujanan sambil main sepeda, dan ada juga yang berlarian saling berkejaran di bawah rinai hujan.
Sungguh menyenangkan menjadi anak-anak, tak ada yang membebani pikiran mereka.
Tapi...
Yang lebih menyenangkan lagi, tentu mereka memiliki banyak teman.
Ya teman,
Sosok yang tak banyak Anisa miliki, bahkan satu-satunya teman Anisa kini telah terasa jauh.
Entah karena dirinya yang tiba-tiba saja merasa ingin jauh, atau memang karena temannya itu yang menjauh.
Meskipun sebetulnya, jika direnungkan baik-baik, tentu saja, tak ada yang pantas menjadi masalah di antara keduanya, karena semuanya baik-baik saja.
Tapi...
Anisa menghela nafas,
Tapi, sejak ada nama Ridwan di antara keduanya, rasanya entah kenapa semuanya jadi terasa aneh.
Anisa tak bisa lagi sedekat dan seluwes dulu pada Iis, begitu juga dengan Iis yang seolah jadi begitu kaku dan bahkan terkesan seperti terbebani dengan kehadiran Anisa.
Anisa matanya berkaca-kaca, mengingat hari-hari yang telah berlalu, di mana dirinya dan Iis pernah begitu dekat macam saudara, kini semuanya jadi terasa sangat asing.
Meskipun mereka tak musuhan, meskipun mereka tak saling menjelekkan, tapi tetap saja, rasanya seperti sudah ada jarak yang sangat jauh antara keduanya, hingga Anisa merasa mereka sekarang adalah dua orang asing.
Andai mereka masih sedekat dulu, pasti saat ini, Anisa lebih memilih tidur di rumah Iis daripada di rumahnya sendiri.
Maka...
__ADS_1
Jelas lah sudah, pilihannya untuk menikah dengan Wisnu memang adalah sudah sebuah keharusan, bukan hanya sebagai pilihan.
**--------------**