
Ridwan tampak sibuk menyiapkan tas untuk besok ia mulai mengajar. Ini adalah pertama kalinya ia akan mengajar secara resmi di sekolah, dan pastinya itu akan berbeda dengan apa yang biasanya ia lakukan di rumah Pak Haji Imron maupun di rumah Pak Haji Syamsul saat mengajari anak-anak mengaji.
Setelah merasa cukup dan Ridwan akan pergi istirahat agar malam bisa bangun untuk sholat istikharah kali kedua, tiba-tiba Pak Haji Imron menelfon.
"Assalamualaikum..."
Ridwan mengawali mengucap salam meskipun ia yang menerima telfonnya.
Tentu, ini ia lakukan karena ia jauh lebih muda dari Pak Haji Imron, dan itu membuatnya bersikap lebih hormat pada orang lebih tua.
"Waalaikumsalam..."
Pak Haji Imron terdengar menjawab,
"Nak Ridwan, maaf saya mengganggu."
Kata Pak Haji Imron.
"Mboten Pak Haji, saestu."
Jawab Ridwan santun,
"Begini Nak Ridwan, tadi keluarga Pak Suhadi menghubungi saya, sekiranya nanti sudah ada keputusan, dan keputusannya adalah Nak Ridwan menerimanya, mereka ingin Nak Ridwan ke Jakarta untuk bertemu dan menandatangani sejumlah surat, apakah Nak Ridwan bersedia?"
Tanya Pak Haji Imron.
"Jakarta?"
Tanya Ridwan lirih.
Rasanya langsung terbayang olehnya bagaimana kota itu, sementara Ridwan yang selama ini hanya tahu Jakarta menjadi tambah-tambah ragu apakah bisa ia sampai di sana dan bisa bertemu dengan keluarga Pak Suhadi.
"Apa Nak Ridwan keberatan? Jika keberatan tidak apa-apa, nanti saya akan sampaikan pada mereka."
Kata Pak Haji Imron yang tak bisa juga mendengar jawaban Ridwan.
"Ngg maaf Pak Haji, bukannya saya keberatan, tapi saya benar-benar belum pernah melihat Jakarta sama sekali secara langsung, saya khawatir akan tersesat atau bagaimana."
Jujur Ridwan polos.
Mendengarnya tentu saja membuat Pak Haji Imron terkekeh-kekeh,
"Kalau soal itu jangan khawatir to Nak Ridwan, kan panjenengan nanti tidak akan pergi sendirian, panjenengan akan saya temani, dan nantinya akan dijemput oleh pihak anak-anak Pak Suhadi. Yo panjenengan kan tahu to, bagaimana kesibukan mereka yang pastinya tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaan mereka."
__ADS_1
"Nggih Pak Haji, tentu saja saya faham dan mengerti sekali Pak."
Ujar Ridwan.
"Enggih Nak Ridwan, jadi ya semoga sebelum minggu depan, Nak Ridwan nanti sudah bisa membuat keputusan."
"InshaAllah Pak Haji, saya masih proses istikharah Pak Haji."
"Iya, saya tahu kan panjenengan baru mulai kemarin, setidaknya paling tidak kan memang tiga hari berturut-turut baru nanti terlihat jelas mana yang lebih baik untuk dilakukan."
Ujar Pak Haji Imron.
"Enggih Pak Haji, kalau nanti saya tidak mendapat petunjuk lewat mimpi, pasti nanti ada kejadian yang bisa membuat saya yakin dan mantap untuk membuat keputusan."
"Iya Nak Ridwan."
Pak Haji Imron dan Ridwan kemudian terlibat perbincangan tentang hal lain, terutama soal metode mengajar anak mengaji di rumah Pak Haji Imron yang masih memakai peraturan lama Ustadz Saleh, yang kemudian kini Ridwan ingin minta ijin untuk memakai peraturannya sendiri.
Pak Haji Imron, yang notabene memang orang yang tipe pemimpin, dengan senang hati memberikan ijin itu selama memang positif.
**--------------**
"Harusnya tidak usah mengantarku pulang, aku bisa naik ojek."
"Mana bisa aku membiarkanmu pulang sendirian pakai ojek Nisa."
Sahut Wisnu menjawab kata-kata Anisa.
Anisa menghela nafas, lalu menoleh sekilas pada Wisnu untuk memaksakan senyuman.
Hanya senyuman kecil ala kadarnya,
"Nis,"
Panggil Wisnu ketika Anisa akan turun dari mobil, membuat Anisa akhirnya memilih duduk lagi,
"Tidak tahu apa sebetulnya perasaanmu, tapi yang jelas aku sebetulnya memang tertarik padamu sejak dulu kita masih sekolah."
Ujar Wisnu.
Anisa yang mendengarnya tampak terkesiap, ia menatap Wisnu yang kini juga menatapnya dengan teduh.
Sejatinya Wisnu juga laki-laki yang baik, ia sopan, ia lembut, ia juga berpendidikan tinggi dan seperti yang Mbak Faizah bilang, dia sukses.
__ADS_1
Tapi sayangnya, perasaan itu bukanlah sesuatu yang bisa diukur hanya dengan itu.
Perasaan kadang muncul bahkan tanpa alasan yang jelas, dan bisa sampai ke titik di mana itu juga tidak logis.
"Aku tidak memaksamu harus menerimaku sekarang, aku juga tak akan memintamu menjawab sekarang, tapi yang jelas, andai kita sama-sama menerima perjodohan ini, yang jelas aku pastikan perasaanku bukanlah hanya sebatas bisnis dan keuntungan Nisa."
Kata Wisnu.
Anisa terdiam, bingung harus menjawab apa.
Tampaknya ia terlalu terkejut, karena tak menyangka sama sekali jika Wisnu sungguh-sungguh menyukai dirinya.
"Atau kamu sudah ada laki-laki pilihan lain?"
Tiba-tiba tanya itupun keluar dari mulut Wisnu, seolah membuat Anisa harus terkesiap untuk kali kedua.
"Tak apa Anisa, jika memang sudah ada, jujur saja, tak masalah. Dengan begitu, aku bisa mundur."
Ujar Wisnu.
Anisa dadanya sejenak berdegup kencang, sebelum akhirnya ia mengangguk.
"Siapa dia? Apakah aku mengenalnya?"
Tanya Wisnu.
Anisa menggelengkan kepalanya,
"Tidak, dia tidak seterkenal itu, dia hanya laki-laki biasa dan sederhana."
Ujar Anisa.
Wisnu tertawa kecil,
"Biasa dan sederhana namun bisa menaklukkan hatimu, bisa membuat hatimu yang dingin dan membeku menjadi mencair, itu pastinya adalah laki-laki yang istimewa."
Kata Wisnu pula,
Anisa tersenyum.
"Ya bagiku dia memang istimewa, tapi bagi kalian yang sukses pasti dia biasa saja."
Jawab Anisa.
__ADS_1
**--------------**