Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
116. Tamu Istimewa


__ADS_3

Rumah lama Wisnu terlihat sudah rapi dan siap menyambut tamu, si mbok dan suaminya mempersiapkan rumah dengan baik sesuai perintah Wisnu.


Anisa tampak gelisah, tak biasanya rumah sampai diganti seluruh gordennya, bahkan bunga plastik pun yang tampak ada di beberapa sudut diganti baru.


Anisa menghela nafas.


Wisnu tak mengatakan apapun padanya selain mereka akan kedatangan tamu seorang Ustadz, ia mengajak Anisa menemui ustadz itu karena pembicaraan akan terkait dengan masalah yang dihadapi Anisa saat ini.


Anisa duduk di kursi teras samping, menatap nanar batu-batu putih yang ditata rapi di lantai teras di mana di sana ada taman kecil yang indah.


Sejak tinggal di rumah lama Wisnu, ia memang senang duduk di sana, kadang sambil baca buku koleksi Wisnu, kadang juga hanya duduk saja sambil main hp.


Di sana juga karena atapnya terbuka, maka saat pagi hari akan bisa untuk berjemur.


Sinar matahari pagi tepat jatuh di sana, membuat Anisa hampir tak pernah melewatkan duduk di teras samping itu setiap pagi.


Tapi...


Hari ini, meski siang begitu terik, Anisa juga duduk di sana, untungnya memang jika siang hari matahari justeru bergeser hingga tak langsung jatuh lagi di sana sinarnya.


Anisa sedang sibuk menerka, apa yang dimaksud dengan pembicaraan dengan ustadz terkait masalahnya?


Dan kenapa tiba-tiba Wisnu harus memanggil Ustadz?


Ustadz siapa?


Apa mungkin ustadz yang untuk meruqyah?


Apa mungkin Wisnu merasa bahwa Anisa sebetulnya agak terganggu secara jiwa?


Anisa terus menerka, hingga...


"Mbak... Mbak Nisa..."

__ADS_1


Tiba-tiba, terdengar suara si Mbok memanggil,


"Oh... Ya Mbok, ada apa?"


Anisa yang terkejut langsung menoleh ke arah pintu yang di mana kini tampak si Mbok berdiri di sana.


"Den Wisnu sudah datang Mbak Nisa."


Kata si mbok memberitahu.


"Oh iya kah?"


Anisa pun buru-buru bangkit berdiri dan masuk ke dalam rumah.


Terlihat Wisnu juga baru masuk ke ruangan tengah di mana Anisa masuk dari teras samping hingga keduanya bertemu di sana.


"Siap-siap Nis, sebentar lagi Pak Ustadznya sampai, beliau sedang dalam perjalanan, agak terlambat katanya, karena mampir bengkel dulu. Untunglah, aku juga baru selesai di toko emas Randu."


Anisa mengangguk mengerti, ia lantas bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan mengganti jilbab agar tampil lebih rapi karena pastinya mereka harus menghormati Pak Ustadz.


Sejenak Anisa menatap pantulan dirinya di cermin, yang di mana kini ia terlihat sangat pucat.


Haruskah aku memakai lipstik?


Tapi kenapa harus pakai lipstik?


Untuk apa?


Anisa merasa heran sendiri, kenapa akan kedatangan Ustadz tapi perasaannya seperti akan kedatangan kekasih.


Apakah karena setiap kali mendengar kata ustadz maka yang terbayang adalah Ridwan?


Ah yah, mungkinkah ustadz yang datang adalah Ridwan?

__ADS_1


Ah tidak... Tidak mungkin!


Anisa menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak mau berimajinasi aneh-aneh.


Lagipula rasanya sejak kejadian Mbak Wening diperlakukan sangat tidak baik oleh Mbak Faizah dan Abahnya, Anisa sendiri tak sanggup membayangkan bertemu dengan Ridwan lagi.


Meski sakit rasanya hati Anisa memikirkan nasib cintanya karena untuk bertemu saja ia tak sanggup, namun nyatanya, hatinya juga sulit sekali terbuka untuk nama lain, sekalipun itu pada Wisnu yang sudah jelas sekali melakukan segalanya untuk Anisa.


Ah entahlah, mungkin...


Mungkin saja jika nanti Anisa telah mendengar Ridwan akhirnya menikah Dengan perempuan lain, mungkin saat itulah ia akan berhenti membiarkan hatinya hanya terisi nama Ridwan saja.


Dan...


Tok... Tok... Tok...


Ketukan di luar kamar akhirnya menghentikan lamunan Anisa, gadis itupun lagi-lagi jadi terkejut, ia tampak cepat berdiri, dan segera menuju pintu untuk membukanya,


"Tamunya sudah tiba Mbak."


Si mbok memberitahu, Anisa mengangguk,


"Nggih Mbok."


Setelah itu Anisa pun bergegas menuju ruang depan, di mana terdengar suara Wisnu yang tengah bicara dengan tamunya.


Tamu yang pastinya adalah pak Ustadz yang dimaksud,


Anisa mempercepat langkahnya, takut Wisnu menunggu Anisa untuk menemaninya menemui Pak Ustadz.


Tapi...


**------------**

__ADS_1


__ADS_2