
Anisa baru selesai sholat, saat ia mendengar hp nya bersuara bip bip, menandakan ada pesan baru masuk.
Anisa bangun dari posisinya, melipat sajadah, lalu tampak ia meraih hp nya yang di atas tempat tidur.
Tampak di layar tulisan beberapa pesan baru telah masuk dari Iis,
Anisa menghela nafas, diletakkannya hp nya sejenak untuk melepaskan mukenah dan melipatnya lebih dulu, baru setelah itu Anisa duduk di tepi tempat tidur dan meraih hp nya lagi.
Teringat lagi Anisa saat tadi pertama melihat Iis di ruang tamu duduk bersama Ridwan, di mana Anisa sepertinya telah bersikap secara berlebihan pada Iis.
Ya, rasa cemburu dan juga terkejut membuat Anisa bersikap begitu kolokan dan seolah tak dewasa sama sekali, Anisa sungguh rasanya jadi malu pada Iis.
Anisa lantas membuka pesan Iis, dibacanya baik-baik pesan Iis tang dikirimkan padanya,
Nisa, percayalah, aku dan Pak Ridwan tidak ada hubungan apapun. Kami adalah rekan kerja sesama Guru di sekolah yang sama. Ikutnya aku ke tempat mu hari ini adalah murni hanya sebuah kebetulan. Maaf jika apa yang terjadi kemudian membuatmu jadi salah faham.
Tampak kini mata Anisa pun jadi berkaca-kaca lagi, ia tahu sekali jika Iis adalah gadis yang sangat baik, ia juga telah lama mengenal Iis dan selama mereka kenal itupun Anisa tak pernah satu kalipun merasa pernah disakiti Iis.
Mungkin malah, Anisa lah sepertinya yang kadang berbuat tak baik pada Iis, tak bisa menjaga bicara pada Iis, termasuk saat siang tadi mereka bertemu.
Anisa akhirnya dengan tangan sedikit gemetaran karena rasa bersalah yang begitu besar akhirnya mengetik balasan untuk Iis.
Ya Iis, sungguh harusnya aku lah Is yang meminta maaf, karena telah bersikap begitu kekanak-kanakan dan pastinya begitu memalukan. Sekali lagi aku minta maaf Iis, aku pun harusnya tahu diri bahwa aku tak ada hak untuk cemburu pada Iis. Jika toh Iis ternyata bersama Mas Ridwan, sebetulnya Anisa juga tidak berhak untuk menjadi penghalang.
Pesan balasan pertama Anisa kirimkan pada Iis, berharap besar hati Anisa agar Iis bisa membacanya.
Lalu, Anisa mengetik pesan balasan kedua,
Seperti pula yang dikatakan Mas Ridwan, bahwa mungkin memang beginilah jalan yang ada dalam garis takdir kami. Bahwa kami tidaklah diciptakan untuk berjodoh. Jujur ini berat untukku Is, tapi toh memang tak adalah pilihan lainnya untukku selain harus belajar ikhlas.
__ADS_1
Anisa menghela nafas, satu titik bening melesat turun dan mulai membasahi pipi Anisa lagi yang putih.
InshaAllah, aku akan mulai belajar membuka diri untuk Mas Wisnu, Iis. Dia laki-laki yang baik, sesungguhnya aku tahu itu. Mungkin, aku hanya butuh waktu untuk bisa benar-benar menerimanya di dalam hidupku dalam posisi yang benar-benar istimewa. Doakan saja aku bisa belajar lebih dewasa mulai sekarang, aku sangat nyaman di sini, jika benar pernikahan akan membuatku bisa tinggal di sini dengan lebih nyaman lagi, aku akan sungguh-sungguh membuka diri untuk Mas Wisnu.
Dan pesan ketiga Anisa pun selesai di ketiknya lalu dikirimkannya pada Iis.
Anisa baru akan meletakkan hp nya di atas tempat tidur lagi, manakala tiba-tiba terdengar suara pada hp nya yang menandakan ada pesan baru masuk kembali.
Pesan balasan dari Iis.
Anisa, senang sekali aku membaca pesanmu. Syukurlah Anisa, aku sangat lega. Kapan nanti semoga kita bisa ketemu dan bisa saling curhat lagi.
Anisa yang membaca balasan Iis tiba-tiba jadi merindukan momen kebersamaannya dengan Iis, saat mereka biasa makan bakso berdua, atau Anisa ikut makan di rumah Iis, tidur di rumah Iis, saat sedih ke rumah Iis, saat senang juga ke rumah Iis.
Ya...
Karenanya Iis untuk Anisa bukanlah hanyalah sekedar teman dan sahabat, tapi juga sudah seperti saudara.
Dengan Iis, rasanya Anisa bisa lebih nyaman, lebih tenang, lebih merasa diperlakukan selayaknya saudara.
Anisa kini semakin menyesal atas sikapnya pada Iis siang tadi.
Sungguh, tak ingin lagi Anisa melakukan kesalahan yang sama, yang hanya akan membuatnya justeru menyakiti orang yang sungguh-sungguh baik dan peduli padanya, meskipun ia tak ada hubungan darah sama sekali dengan Anisa.
Ya Iis, nanti semoga kita bisa ada waktu untuk ketemu dan kumpul lagi. Sekali lagi maafkan sikap kekanak-kanakan ku.
Dan tepat ketika Anisa mengirimkan pesan itu, sebuah ketukan di pintu kamar terdengar.
Anisa yang yakin itu adalah Wisnu pun akhirnya segera meletakkan hp nya di atas tempat tidur, dan Anisa sendiri bergegas menuju pintu kamar.
__ADS_1
Dibukanya pintu kamarnya itu dan benarlah di sana berdiri Wisnu yang membawa nampan dengan menu makan malam yang sepertinya sudah di hangatkan.
Anisa jadi tersenyum melihat semua yang telah dilakukan Wisnu itu.
"Terimakasih,"
Kata Anisa menerima nampan makan malamnya.
Wisnu mengangguk.
"Habiskan ya, agar tak sampai masuk angin."
Ujar Wisnu.
Anisa mengangguk,
"Ya, aku akan habiskan, jangan khawatir, aku akan berusaha tak akan mengecewakanmu lagi Nu."
Ujar Anisa.
Wisnu sejenak tertegun, mendengar kalimat Anisa barusan membuat hatinya tiba-tiba tergetar.
Anisa yang tak ingin Wisnu bertanya soal apapun lagi lantas buru-buru mengucapkan selamat malam, dan masuk kamar.
Wisnu menatap pintu kamar Anisa yang tertutup, pelahan senyum tampak terkembang di bibirnya.
Apa aku mimpi?
Batin Wisnu kemudian.
__ADS_1
(Bukan lah Nu, wong judulnya mimpi ustadz Ridwan ya berarti bukan mimpi Wisnu.)
**--------------**