
Sebagaimana yang diperkirakan Wisnu saat akan berangkat, sesampainya di kota sebelah, hujan turun dan mereka pun terpaksa menginap di salah satu kerabat Wisnu.
Anisa yang telah bertemu kerabat itu sebelumnya, kala malam lamaran pun merasa tak keberatan.
Uwak, menyambut kedatangan pasangan ini, menjamu dengan sangat baik dari menyediakan makan malam spesial hingga kamar tamu yang bersih, rapih dan sekaligus juga nyaman.
"Sering-seringlah berkunjung, Uwak sendirian begini rasanya sangat kesepian, hanya tinggal dengan rewang yang tentu saja Uwak tak bisa terus mengganggunya dengan mengajak bicara jika ia sedang bekerja."
Kata Uwak sembari menata sirih.
Di luar hujan turun cukup deras, mereka baru saja selesai makan malam dan kini duduk di ruang dekat teras samping.
Di sana ada pintu yang berjejer empat, jika pagi hingga sore tiba, pintu itu dibuka dengan cara seperti dilipat ke samping.
"Nanti kalau sudah menikah, biar Anisa kalau jenuh di rumah, aku antar ke sini untuk liburan."
Kata Wisnu, membuat Anisa tersenyum,
"Nah iya, kamu juga Nu, harus banyak liburan, jangan kerja terus, manusia itu bukan kuda. Jangan dipaksa bekerja terus."
Ujar Uwak.
Wisnu tertawa kecil, meski sambil mengangguk.
"Ah rencana pernikahan tidak berubah kan?"
Tanya Uwak.
Wisnu dan Anisa kompak menggeleng,
"Mboten Wak, inshaAllah acara nanti akan tetap digelar sesuai rencana. Minggu depan undangan sudah mulai disebar."
Tutur Wisnu, tampak Uwak mengangguk-anggukan kepalanya.
"Semoga semuanya lancar, bismillah, banyak berdoa, kalau ada masalah apapun, mulailah bicarakan berdua."
Kata Uwak menasehati.
Wisnu mengangguk.
"Namanya pasangan mau menikah biasanya ada saja nanti selisih paham, atau juga godaan dari luar, abaikan saja. Pokoknya, asal niat kalian memang baik, semua nanti akan dimudahkan."
"Enggih Wak."
Wisnu dan Anisa mengangguk dan kompak mengiyakan.
Uwak lantas banyak bercerita tentang masa dulu ia muda, saat ia dulu menikah karena dijodohkan tapi akhirnya saling mencintai dan begitu suaminya meninggal, Uwak tak mau menikah lagi meskipun suaminya meninggal ketika usia Uwak masih cukup muda.
Bagi Uwak, sudah cukup ia menikah dengan satu laki-laki baik di dunia ini, ia enggan mencari lagi dan memulai hubungan baru lagi dengan laki-laki lain.
"Dulu kayaknya di sini banyak kuda ya Wak, sekarang berarti kuda-kuda itu di mana Wak?"
__ADS_1
Tanya Wisnu.
"Oh Uwak pelihara kuda?"
Tanya Anisa takjub.
"Ya di belakang rumah halamannya sangat luas, itu dulu ada sebagian yang digunakan untuk kandang kuda ya Wak."
Kata Wisnu.
Uwak mengangguk.
"Iyo, dulu jamannya masih ramai usaha delman, Uwak ada sekitar enam kuda. Setelah kemudian ada peraturan dari pemerintah daerah untuk tidak boleh lagi ada delman di jalanan kota, maka Uwak memutuskan untuk berhenti total. Sempat ada pengusaha delman dari sebuah kota, katanya kalau di kota dia masih bisa dioperasikan di beberapa taman rekreasi, atau tempat semacam alun-alun, tapi Uwak dapat informasi bahwa ada banyak orang usaha delman tidak merawat kuda mereka dengan baik, jadi Uwak tidak jadi jual pada mereka."
Uwak bercerita.
Tampak Anisa mengangguk setuju,
"Benar Uwak, banyak Anisa baca di berita, kadang juga ada di berita TV, ada delman yang kudanya sampai pingsan karena kelelahan, ada juga yang mereka dibiarkan kurang makan sedangkan tenaga mereka diperas sepanjang hari."
Ujar Anisa.
Uwak mantuk-mantuk,
"Karena itulah, Uwak tak akan menjual kuda-kuda itu pada orang semacam itu, Uwak tidak mau ikut menyumbang kedzaliman pada mahluk lain."
"Benar Uwak."
Harum aroma melati khas teh dari kota bahari tercium pekat, seperti aroma terapi begitu aromanya dihirup.
"Jadi kuda-kuda itu sekarang di mana Wak?"
Tanya Wisnu,
"Uwak berikan pada cucu Uwak yang sekarang kuliah di peternakan, kebetulan fakultasnya membuatkan semacam kegiatan untuk mahasiswanya, ada macam-macam di sana, sapi, kambing, kerbau, rusa, dan kuda dari Uwak."
"Wah jadi bisa langsung praktek."
Kata Wisnu.
Uwak terkekeh,
"Ya begitulah, sudah saatnya mereka juga istirahat dan berleha-leha, hanya main, tidur dan makan saja, setelah cukup lama di jalanan kota membantu kami mencari rezki untuk makan dan menyekolahkan anak-anak, yang itu berarti orangtua cucu Uwak bukan?"
Uwak terkekeh-kekeh lagi,
"Cucu Uwak sering membagikan foto kuda-kuda itu lewat pesan gambar, mereka lebih sehat dan gemuk. Ah Uwak senang, jika para mahasiswa peternakan bisa menjadi pengusaha ternak yang baik, atau bekerja di kementerian yang mengurusi hewan ternak, pasti tidak ada itu pengusaha sapi dan lainnya yang sampai menyiksa peliharaannya dengan mengglonggong, atau membiarkan mereka makan sampah dan lain hal."
"Iya Wak, betul sekali."
Kata Wisnu.
__ADS_1
"Ah iya, rencananya, kalian akan punya berapa anak nanti?"
Tanya Uwak, sungguh pertanyaan yang sama sekali tak pernah terpikirkan akan didengar Anisa sebelumnya.
Tapi...
Tentu saja, pernikahan tak akan jauh dari hal semacam itu.
Anisa terdiam, Wisnu juga sama.
Anisa yang tak tahu harus menjawab apa, Wisnu yang bingung harus bagaimana.
Sejatinya, mereka akan menikah karena pada posisi yang sulit dijelaskan.
Wisnu karena kasihan pada Anisa jika dibiarkan sendirian, sedangkan Anisa yang tentu tak lagi ada pilihan yang lebih baik dari Wisnu karena Ridwan telah memutuskan pergi dari hidupnya.
Dan...
"Tidak apa, biar semua mengalir seperti air saja, dulu juga Uwak begitu, tiba-tiba punya anak empat, siapa yang menyangka? Tadinya menangis saat akan dijodohkan, hehehe..."
Uwak terkekeh lagi,
"Ya meskipun akhirnya Uwak sendirian lagi, sepi, karena semua tak ada di rumah, kadang kesedihan memiliki anak sukses itu adalah mereka meninggalkan kita sendirian di rumah."
Ujar Uwak.
"Tapi mereka kan masih sering berkunjung kan Wak?"
Tanya Wisnu.
"Ya kadang saja, kalau memang sedang tak terlalu sibuk dengan kegiatan mereka. Tapi Uwak berusaha mengerti, tidak apa, niat mereka bukan tidak peduli pada Uwak, mereka jauh karena memang mereka menjalani takdir kehidupan yang kebetulan jauh dari tempat Uwak tinggal."
Kata Uwak bijaksana.
Anisa diam-diam memperhatikan Uwaknya Wisnu, usianya yang sudah tak lagi muda namun masih tampak ayu, kulitnya bersih, matanya memancarkan kelembutan dan juga kasih sayang.
Ia pasti manusia yang diberkati dengan banyak kebaikan. Baik pikir, baik rasa, baik hati.
Tak heran, bilamana ia menjadi orangtua yang berbudi pekerti, yang bijak, dan sangat memahami kehidupan anak-anak nya.
Perannya menjadi orangtua tampak begitu sempurna, dari tutur kata dan laku yang ia tampakkan.
Anisa, sungguh iri dengan anak-anak Uwaknya Wisnu.
Anisa ingin kelak bisa menjadi orangtua seperti itu.
Tapi, pertanyaannya, mampukah?
Mampukah Anisa melakukannya???
**------------**
__ADS_1