Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
76. Nyaman


__ADS_3

"Jadi ini lima kilo dibagi jadi tiga bungkus nggih Bu Guru?"


Tanya Mbak Wening,


"Nggih Mama Ajeng."


Iis mengangguk,


"Hari apa harus saya antar?"


Tanya Mbak Wening.


"Nanti saya ambil saja Mama Ajeng, tidak apa-apa. inshaAllah lusa nggih, siang tidak apa-apa sepulang saya dari sekolahan."


Kata Iis.


"Oh nggih Bu Guru, inshaAllah nanti saya langsung kerjakan."


Mbak Wening menyanggupi.


Iis tampak lega, unu jelas akan jadi kabar baik untuk Ibunya. Keripik pisang buatan Mbak Wening memang sangat renyah dan bisa dibilang harganya tidak terlalu mahal, saat di tempat lain satu kilo nya keripik pisang sudah sampai lima puluh ribu bahkan ada yang enam puluh ribu, di tempat Mbak Wening masih hanya empat puluh lima ribuan saja.


"Saya bayar sekarang saja Mama Ajeng, soalnya takut nanti terpakai untuk lainnya kata Ibu."


Iis kemudian membuka tas dompetnya.


"Duh Bu Guru, nanti saja kalau pesanan sudah siap."


Kata Mbak Wening tak enak.


"Tidak apa-apa Mama Ajeng, ini soalnya titipan Ibu."


Kata Iis yang lantas mengeluarkan uang lima puluh ribuan lima lembar.


"Duh jadi tidak enak sayanya."

__ADS_1


Kata Mbak Wening.


Iis tersenyum,


"Nggih saya terima Bu Guru."


Mbak Wening akhirnya menerima kelima lembar uang lima puluh ribuan yang diberikan Iis.


"Kalau begitu saya pamit nggih Mama Ajeng, sama saya mau titip untuk Pak Ridwan."


Kata Iis agak malu-malu sambil mengambil paper bag yang ia letakkan di kursi sampingnya.


Paper bag berisi bungkusan yang memang sengaja Iis siapkan untuk diberikan pada Ridwan, sayangnya Ridwan ternyata sedang tidak berada di rumah, jadilah Iis harus menyerahkannya pada Mbak Wening.


"Oh dari Bu Guru Iis atau dari siapa nggih?"


Tanya Mbak Wening sambil menahan senyuman lebar.


"Dari saya Mama Ajeng, sebagai ucapan terimakasih sudah ditolong waktu motor saya mogok beberapa hari lalu."


Mbak Wening mengangguk mengerti.


"Oh enggih, waktu Ajeng minta beli sate nggih?"


"Enggih Mama Ajeng."


Iis mantuk-mantuk.


Mbak Wening pun menerima paper bag berisi bingkisan untuk Ridwan.


Setelah serah terima bingkisan untuk Ridwan, Iis pun pamit, ia berdiri dari duduknya dan bersalaman dengan Mbak Wening.


"Sebentar Bu Guru, saya panggilkan Ibu dulu sama Ajeng."


Kata Mbak Wening yang terburu-buru masuk ke ruangan dalam.

__ADS_1


Terdengar kemudian Mbak Wening bersuara,


"Bu... Bu... Ini Bu Guru Iis mau pamit Bu,"


Lalu...


"Ajeng... Ajeng... Ini Bu Guru mau pulang ayo salim."


Iis di ruang depan jadi senyum-senyum sendiri karena merasa begitu diterima dengan baik di rumah Ridwan.


Ah ya Allah, astaghfirullah, apa lagi yang kamu sedang pikirkan Is? Sadarlah. Batin Iis pada dirinya sendiri.


Tak lama Ibu dan Ajeng keluar dari ruang dalam bersama Mbak Wening untuk menemui Iis.


"Bu Guru..."


Ajeng menghampiri Iis minta salim, Iis pun menyambut tangan Ajeng untuk bersalaman,


"Kok sudah mau pulang Bu Guru,"


Ibu juga menghampiri Iis dan kemudian Iis langsung menjabat tangan Ibu serta mencium punggung tangannya.


"Enggih Bu, ini kebetulan mau ke warung beli lauk buat di rumah, Ibu lagi bosen masakan Iis."


Kata Iis sambil tersenyum,


"Oalah, ya tidak apa-apa, sesekali untuk selingan, kadang Ibu juga bosen makan masakan rumah,"


Ibu terkekeh.


"Lah iyo ini kode Wening harus beli lauk juga ini berarti,"


Kata Mbak Wening yang membuat semua jadi tertawa.


**------------**

__ADS_1


__ADS_2