
Seperti yang telah disampaikan Pak Haji Imron, Ridwan pun hari itu juga sepulang dari mengajar di sekolah akhirnya datang ke tempat Pak Haji Imron untuk kemudian ke kantor Notaris yang telah ditunjuk keluarga Pak Sahudi membuatkan surat-surat hibah seluruh harta yang akan dihibahkan kepada Ridwan untuk nantinya sebagiannya akan dikelola sendiri dan juga untuk yayasan.
Untuk pertemuan itu, Ridwan tak lupa menyampaikannya pada Iis di sela jam istirahat mereka.
Ridwan meminta pendapat pada Iis, terutama soal rumah peninggalan Pak Sahudi yang kelak diminta oleh anak-anak Pak Sahudi agar ditempati dan dijadikan pula sebagai tempat mengaji seperti di tempat pak Haji Imron.
Iis yang kelak akan menjadi isteri Ridwan, sudah barang tentu memang Ridwan membutuhkan saran dan pendapatnya, karena begitu Iis menjadi isteri, maka otomatis di rumah itu pulalah mereka berdua akan tinggal.
Untungnya, Iis yang jiwanya memang sangat suka mengajar, membuat Iis langsung tak keberatan dengan niat dan keinginan Ridwan serta keluarga pak Sahudi.
"Jadi, Nak Ridwan hari ini langsung serah terima semua hadiah dari keluarga almarhum?"
Tanya Ibu pada Iis yang begitu pulang langsung bercerita.
"Enggih Bu, hari ini Mas Ridwan langsung serah terima, karena sebetulnya sudah sejak lama memang mereka siapkan, tapi diberikan pada Mas Ridwan begitu semua pembangunan pondok dan gedung yayasan rampung berdiri."
"Ya Allah, betul-betul rejekinya nak Ridwan ya, sama sekali tidak menyangka bisa dapat rejeki sebesar itu,"
Ibunya Iis terlihat benar-benar ikut senang,
__ADS_1
"Jangankan kita Bu, Mas Ridwan saja tidak menyangka."
Kata Iis,
"Berarti setelah menikah kamu tinggal di sana?"
Tanya Ibu,
Iis menatap Ibunya,
"Tadi Mas Ridwan juga sempat menyinggung soal itu, beliau ingin Ibu ikut kami tinggal di sana."
Ujar Ibunya Iis.
Iis mengangguk,
"Iis sudah sampaikan pada Mas Ridwan, tapi menurut Mas Ridwan, Ibunya Mas Ridwan tetap ingin tinggal di rumah lama bersama Mbak Wening, dan lagi menurut beliau, Ibunya Mas Ridwan tidak ingin Mas Ridwan nantinya tidak mengikuti anjuran agama."
Tutur Iis pula,
__ADS_1
"Memangnya anjuran seperti apa itu Is?"
Tanya Ibu,
Iis tampak membuka hijabnya, lalu meletakkannya di atas pangkuan, membuat rambutnya yang hitam pekat terlihat membingkai wajah.
"Jadi, menurut Mas Ridwan, sebetulnya, ada anjuran jika seorang laki-laki itu hendaknya tidak membuat isterinya tinggal bersama mertua dan saudara iparnya, Bu."
"Lho, benarkah?"
Ibu tampak melongo, karena tentu saja selama ini yang ia tahu adalah isteri harus berbakti sepenuhnya pada suaminya, dan itu juga termasuk kepada mertuanya.
Iis tampak mengangguk,
"Kata Mas Ridwan, memang ada satu pendapat di mana disebutkan bahwa ada pendapat beberapa ulama yang menyebutkan maksud dari ayat enam di surah Ath-Thalaq itu tidak lain agar suami menyediakan tempat tinggal yang terpisah dari kedua orangtua si suami dan juga kerabat si suami, karena bisa saja kelak akan menjadikan hati isteri akan merasa sempit, dan itu tidak diperbolehkan oleh agama. Mas Ridwan dan Ibunya menjaga itu. Kewajiban Mas Ridwan mengurusi Ibunya tetaplah ia jalankan, tapi juga tidak lantas harus melibatkan isterinya hingga menjadi beban bagi sang istri. Begitu lah agama sebetulnya mengatur Bu."
"MasyaAllah, jadi memang laki-laki yang memiliki ilmu agama bisa sebaik itu mengaturnya."
Ibunya Iis tentu saja merasa sangat bersyukur akan memiliki menantu seperti Ridwan.
__ADS_1
**-----------**