
"Jadi, sudah memutuskan untuk pulang?"
Tanya Wisnu begitu Anisa mengungkapkan keinginannya untuk pulang hari ini.
Anisa tampak mengangguk,
"Ya Nu, aku pulang saja, aku rasa bagaimanapun aku harus pulang, sudah terlalu lama juga aku jadi beban kamu di sini."
Kata Anisa.
Wisnu tampak menggeleng,
"Tidak ada yang merasa terbeban Nisa,"
Ujar Wisnu.
Anisa sekilas tersenyum, ini adalah senyum kesekian kali setelah beberapa waktu lamanya tinggal di rumah Wisnu dan akhirnya mereka jadi dekat.
"Mau aku antar sekarang?"
Tanya Wisnu akhirnya, Anisa pun mengangguk.
"Aku ambil tas dulu."
Kata Anisa yang kemudian bergegas menuju kamarnya.
Wisnu lantas keluar dari rumah untuk menunggu Anisa di sana.
Anisa mengambil paper bag di kamar yang berisi baju-baju salin, setelah itu ia keluar lagi dari kamar.
Di luar kamar telah menunggu si Mbok yang matanya berkaca-kaca, meski belum ada hitungan satu bulan, tapi si Mbok rasanya begitu sedih begitu mendengar Anisa akan pulang.
"Sehat-sehat ya Mbak Nisa."
Kata si Mbok,
Anisa mengangguk sambil menyalami si Mbok.
"Maturnuwun Mbok untuk semuanya, maafkan Anisa yang banyak merepotkan dan barangkali ada hal yang Mbok tidak berkenan, baik tingkah laku maupun ucapan nggih Mbok."
Kata Anisa
Si mbok jadi menitikkan air mata,
"Mboten Mbak Nisa, malah mbok yang harusnya minta maaf jika selama tinggal di sini mbok kurang maksimal melayani mbak Anisa,"
Anisa cepat-cepat menggeleng,
"Tidak Mbok, sama sekali tidak. Mbok sangat baik, bahkan kadang Anisa malu sendiri karena mbok begitu perhatian dan perduli pada Nisa."
__ADS_1
Anisa jadi ikut berkaca-kaca menatap wajah si mbok, perempuan paruh baya yang beberapa hari ini begitu telaten mengurusnya.
Setelah merasa cukup berpamitan, Anisa pun menuju keluar rumah menyusul Wisnu yang telah menunggunya di teras.
"Mbok, pergi dulu nggih."
Kata Wisnu begitu Anisa keluar diiringi si mbok.
Si mbok mengangguk pelan, Wisnu lantas mengiringi Anisa berjalan ke arah mobil, dan seperti biasanya Wisnu membukakan pintunya untuk Anisa.
Anisa, sebagaimana perempuan kebanyakan, yang setiap mendapat perhatian dan diperdulikan dengan begitu baik oleh seorang laki-laki, maka lambat laun hatinya mulai nyaman.
Meskipun...
Tidak! Hati Anisa berusaha menolak.
Tidak jika harus mengakui bahwa ia telah mulai jatuh hati juga pada Wisnu.
Ya, tidak mungkin hatinya secepat itu berubah. Tidak mungkin hatinya secepat itu berpaling.
Anisa hanya merasa nyaman karena Wisnu baik, hanya itu, tidak lebih. Batin Anisa.
Wisnu duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin mobilnya.
Sekilas Anisa melihat ke arah Wisnu yang duduk di sampingnya dan mulai melajukan mobilnya untuk meninggalkan pelataran rumah.
Penjaga rumah membukakan pintu pagar dan tampak membungkuk sopan begitu mobil Wisnu melintas melewati pagar.
Kata Wisnu berpesan, Anisa mengangguk pelan.
Gadis itu membenahi jilbabnya seraya kemudian menatap jalanan di luar sana yang terlihat mulai ramai orang membuka lapak kaki lima.
Pecel lele, tahu pletok, martabak, angkringan, nasi goreng sampai sate ayam, seolah pemandangan yang lazim di jalanan seluruh daerah di Indonesia ketika sore hari tiba.
Di mana di saat banyak pertokoan telah tutup, maka merekalah yang akan meramaikan jalan dan menyediakan kebutuhan pangan orang-orang yang bingung cari makan malam.
**---------------**
Sama seperti Anisa yang kini menatap jalanan di luar sana, tampak Ridwan di dalam mobil yang akan membawanya pulang ke kota kelahiran juga sibuk menatap jalan yang dilewati mobil mereka.
Meskipun, berbeda dengan Anisa yang bisa melihat banyak pedagang kaki lima, jalan yang dilihat Ridwan dipenuhi kendaraan besar yang melaju kencang karena berada di jalan tol.
Ibu kota sudah jauh di belakang sana mereka tinggalkan, namun rasanya, dada Ridwan masih berdetak lebih cepat dari biasanya.
Sadar sepenuhnya ia jika telah menerima amanah yang sangat besar saat ini.
Ridwan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil, masih dengan kedua mata yang seperti tak bisa lepas dari menatap jalan.
Sebentar lagi ia akan terlihat memiliki yayasan yang menaungi rumah tahfidz dan juga pondok yang diperuntukkan anak-anak tidak mampu.
__ADS_1
Ridwan juga akan mengelola aset yang diberikan untuk menghidupi yayasan sebagai bagian dari amanah.
Pasti, di depan sana ujiannya akan semakin berat. Ujian karena akan banyak orang memuji, banyak orang mengenal, dan banyak orang menghormati.
Ujian ini adalah ujian yang jauh lebih berat sebetulnya jika tak sampai bisa mengendalikan diri dari rasa sombong dan juga riya.
Ridwan lantas ingat bagaimana Pak Haji Syamsul lagi, yang berkata-kata kasar dan penuh penghinaan kepada Mbak Wening.
Ridwan juga ingat bagaimana saat Pak Haji Syamsul mempermalukan Ridwan saat ada pertemuan pembentukan remaja masjid.
Astaghfirullah...
Hati Ridwan buru-buru beristighfar, takut ia dendam akan menguasai hatinya, yang akan membuat hatinya menjadi gelap, membuat hatinya akan menjadi mudah dikuasai kesombongan bilamana ia nanti berada di posisi ada.
Ridwan pun cepat berusaha membasuh hatinya dengan banyak beristighfar lagi.
Dan manakala ia ingat wajah Anisa, ia pun segera mengingatkan dirinya agar segera melupakannya.
Ya, setelah peristiwa yang begitu menyakitkan hatinya itu, menyakitkan keluarganya pula, Ridwan memang yang semula bermimpi memiliki rumah tangga bersama Anisa jadi berpikir dua kali.
Ridwan jelas tidak ingin, setiap kali ada Anisa, lalu keluarganya akan merasakan sakit hati lagi.
Bagaimanapun, Ridwan adalah anak laki-laki di dalam keluarga, kewajibannya adalah membela dan mengutamakan keluarga.
Meski cintanya haruslah ia korbankan, tentu Ridwan harus rela.
Andai... Andai penghinaan itu hanya ditujukan padanya saja, mungkin Ridwan justeru hanya akan menjadikannya cambuk untuk bisa lebih sukses.
Tapi...
Sayangnya Pak Haji Syamsul, sebagai ayahanda Anisa justeru menyeret Mbak Wening ke dalam tuduhannya yang luar biasa jahat.
Maka kini, mimpi Ridwan tinggal ingin membuktikan pada Pak Haji Syamsul dan semua orang yang menganggap remeh anak lulusan pesantren.
Ridwan ingin mereka melihat bahwa anak lulusan pesantren juga bisa sukses.
Anak pesantren bukan hanya bisa mengandalkan sumbangan untuk membangun tempat mengajar, tapi justeru terkadang rezeki itu datang dengan sendirinya tanpa kita minta-minta.
Ridwan juga ingin Pak Haji Syamsul janganlah lagi memandang rendah anak-anak pesantren, apalagi pada para ulama yang telah mendirikan pesantren di atas bumi pertiwi ini.
Mereka sungguh berjasa sangat banyak, bahkan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan pun, para santri banyak yang gugur ikut berperang.
Ridwan sungguh sakit hati karena hinaan itu tak bersifat hanya pada pribadi Ridwan, tapi juga pada pesantren tempat ia menimba ilmu yang begitu ia cintai.
Ia sebagai anak lulusan pesantren, sangat menjunjung tinggi kehormatan pesantren sebagai tempat para ulama mengajarkan ilmu untuk umat agar bisa beragama dengan benar.
Ya, bukankah sia-sia ibadah tanpa ilmu?
Maka karena itulah Pesantren adalah tempat yang paling banyak memberikan ilmu untuk kita bisa belajar tata cara ibadah, selain tentu saja belajar banyak hal lain.
__ADS_1
Ridwan menghela nafas, dadanya terasa sesak tiba-tiba. Cintanya sebetulnya begitu besar pada Anisa, tapi dibandingkan cintanya pada pesantren yang dimana ia mengenal agama dengan lebih baik, tentu saja itu tak sebanding.
**---------------**