Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
62. Sebuah Keputusan


__ADS_3

Ridwan akhirnya menyelesaikan acara mengajar anak-anak di tempat pak Haji Imron dalam waktu yang lebih cepat dari biasanya.


Setelah anak-anak pulang, Ridwan juga pamit pulang pada Pak Haji Imron.


Namun, alih-alih Pak Haji Imron setuju Ridwan pulang, Pak Haji Imron malah meminta Ridwan untuk duduk sebentar karena ia ingin menyampaikan beberapa hal penting lebih dulu.


Sebetulnya, jika saja yang meminta bukan Pak Haji Imron, Ridwan tentu ingin sekali menolaknya, karena Ridwan sungguh-sungguh sedang tak bisa fokus jika harus bicara tentang banyak hal, apalagi jika untuk hal-hal yang serius.


Tapi...


Berhubung pak Haji Imron yang meminta, akhirnya Ridwan pun mengalah dan menurut saja.


Ridwan duduk berhadapan dengan Pak haji Imron, tampak pak Haji yang sedang menulis sesuatu di buku.


Tak lama setelah itu, pak Haji memberikan buku yang baru saja ia tulis sesuatu, Ridwan menerima buku itu,


Dibacanya oleh Ridwan tentang beberapa rencana dan tujuan pendirian yayasan Pak Suhadi.


"Saya menuliskannya agar Nak Ridwan bisa membacanya berulangkali nanti, kalau saya menjelaskan lewat lisan saja, takutnya ada yang hilang atau lupa."


Ujar Pak Haji Imron.


Ridwan terdiam,


"Yayasan akan tetap segera dibuat akta pendiriannya dan juga SK Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia di tempat Notaris, berkas sudah ada yang masuk, tapi menurut staf Notarisnya, mereka masih butuh satu KTP lagi, dan keluarga Pak Suhadi sepakat bahwa itu harus diisi oleh Nak Ridwan."


"Kenapa harus saya pak Haji?"


"Itu yang kosong adalah untuk dewan pengawas, padahal sebetulnya keluarga Pak Suhadi ingin Nak Ridwan yang jadi ketua pengurus yayasannya."


Kata Pak Haji Imron.


"Tapi..."


Ridwan baru akan berkata lagi, manakala tiba-tiba hati kecilnya seolah menahan untuk tidak meneruskan bicaranya lagi.


Ridwan menelisik ke dalam hatinya,


Apa yang membuatnya sampai hari ini masih bersikukuh tidak menerima tawaran dari keluarga pak Suhadi?

__ADS_1


Benarkah ini masih karena ia takut pada Allah tak bisa amanah? Atau justeru karena hal lain?


Kesombongan?


Merasa sok eksklusif?


Apa ini adalah bentuk dari jaga imej juga?


Ridwan terus menelisik ke dalam dirinya.


Sampai ketika di mana ia lantas ingat bahwa tujuan dari keluarga pak Suhadi adalah melaksanakan wasiat orangtua yang telah tiada.


Wasiat yang menginginkan hartanya bisa bermanfaat untuk umat, sungguh pastinya ini adalah wasiat yang jarang ditinggalkan seorang mayit.


Dan juga sangat jarang saat ini anak-anak dari si mayit begitu serius menginginkan wasiat orangtuanya bisa dilaksanakan.


"Apa Pak Haji ikut sebagai pengurus yayasan Pak Suhadi?'


Tanya Ridwan akhirnya.


Pak Haji Imron mengangguk,


Kata pak Haji Imron.


Ridwan mengangguk mengerti,


"Begini Nak Ridwan, ini jadi saya permisi untuk sedikit memaksa Nak Ridwan menjawab nggih."


Kata Pak Haji Imron.


Ridwan mengangguk.


"Ini kan wasiat Pak Suhadi sejatinya untuk kemaslahatan umat, semakin cepat dilaksanakan tentu akan semakin baik."


Ridwan mengangguk lagi.


"Saya tahu jika Nak Ridwan sedang berusaha menjaga diri dari sifat serakah dan aji mumpung. Nak Ridwan juga pastinya memang benar-benar takut nantinya tidak amanah, itu juga saya sangat hargai."


"Tapi Nak, kita tidak bisa membiarkan mereka menunggu terlalu lama, karena takutnya mereka nantinya mencari orang lain, yang takutnya malah memang lebih tidak amanah."

__ADS_1


"Apa nak Ridwan rela jika akhirnya uang yang harusnya bisa dikelola dengan baik untuk kepentingan yayasan dan juga bisa untuk mendirikan rumah tahfiz malah nanti jatuh ke tangan orang yang tak bertanggungjawab?"


Pak Haji Imron menatap Ridwan yang mulai terlihat gamang,


"Niatkan untuk menolong Nak, menolong untuk nanti mendirikan yayasan, mengelola yayasan, dan juga rumah tahfiz."


Kata Pak Haji Imron yang kini membuat hati Ridwan tergetar.


"Untuk menjaga nak Ridwan takut akan dipasrahi uang terlalu banyak, nanti menjadi pengurus yayasan, Nak Ridwan akan ada gaji khusus setiap bulannya sebagai pengurus.'


Mendengar kata gaji, entah kenapa Ridwan langsung ingat Mbak Wening,


"Gaji itu akan dibayarkan dengan beberapa kali bonus lain tentu saja, dan juga tambahan penunjang lainnya."


Ridwan menatap Pak Haji Imron.


Pak Haji Imron kemudian tersenyum,


"Saya akan dampingi sampai semua bisa selesai dengan baik dan bisa berjalan dengan baik nak Ridwan. Kita tolong saudara kita sedang ingin jadi anak-anak sholeh yang masih peduli dengan wasiat peninggalan Pak Sahudi."


Ridwan menghela nafas, ia mencoba mempertimbangkan, lalu...


"Saat saya menerima gaji mengelola yayasan, apakah saya jadi tidak melakukan kebaikan karena uang Pak Haji?"


Tanya Ridwan.


Pak Haji Imron menggeleng,


"Tentu ini bukan masalah Nak, karena gajian itu diberikan pada Nak Ridwan kan sebagai pengganti lelah, bukan ilmu."


"Yang digantikan uang berupa gaji untuk Nak Ridwan itu adalah waktu yang Nak Ridwan habiskan untuk yayasan. Jadi kalau misal nanti Nak Ridwan mengajar itu bukan ilmunya yang dibayar, tapi waktunya, lelahnya."


Kata Pak haji Imron.


Ridwan akhirnya mengangguk mengerti.


"Ya kalau begitu menurut Pak haji, baiklah Pak, saya terima saja amanah yang dipercayakan pada saya, inshaAllah nanti saya akan berusaha semaksimal mungkin dalam mengelolanya. Tidak akan main-main dan akan sepenuhnya berfokus membangun yayasan serta rumah tahfiz sesuai dengan impian dan Cita-cita Pak Suhadi almarhum."


Putus Ridwan.

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2