Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
180. Maha Pengasih Dan Penyayang


__ADS_3

Ridwan selepas maghrib pergi ke tempat Pak Haji Imron di mana anak-anak telah menunggu di sana.


Beberapa yang rumahnya agak jauh terlihat diantarkan Ibu mereka.


Para Ibu terlihat duduk menunggu di luar, dan begitu Ridwan tiba, mereka lantas berdiri menyambut sembari tersenyum ramah, manis dan bahkan ada yang terlihat salah tingkah sendiri.


Ridwan tampak mengangguk santun pada para Ibu, mengucap salam lantas kemudian permisi langsung masuk ke dalam ruang kelas di mana memang disediakan untuk mengajar anak-anak.


Hari ini adalah hari untuk mengetes hafalan, anak-anak terlihat telah siap.


Memang Ridwan sengaja membuat jadwal mengaji di setiap hari Jum'at malam Sabtu adalah untuk hafalan dan juga memberikan sedikit pengertian atas surah dan ayat yang dihafal.


Saat Sabtu, adalah bacaan sholat, tata cara wudhu yang benar, dan pada hari minggu adalah doa-doa selepas sholat.


Buat Ridwan, anak-anak yang paling penting memang adalah ilmu dasar, tapi tetap harus ditanamkan pengertian agar keimanan dan ketaqwaan mengakar dalam diri mereka bukan karena takut dan lain hal, tapi karena cinta mereka atas agama Allah adalah paling utama.


Tadi juga saat Ridwan akan meninggalkan masjid, ada remaja masjid yang ingin khusus malam minggu dibuat acara kajian selepas isya.


Setidaknya itu untuk memberikan alternatif kegiatan positif untuk remaja, agar tidak hanya mengisi malam minggu untuk pacaran dan kumpul-kumpul tidak jelas di luar rumah.


Jika komunitas-komunitas anak muda yang kurang bermanfaat saja bisa begitu marak, kenapa remaja-remaja dan pemuda yang ingin memiliki kegiatan positif justeru kesulitan menemukan wadah.


Begitulah seorang remaja masjid menyampaikan buah pikirannya.


Ridwan sendiri sebetulnya juga sebelumnya sempat kembali menghidupkan majelis taklim untuk para remaja dan pemuda, hanya saja memang karena kendala Ridwan yang sekarang mulai sibuk di yayasan, akhirnya majelis sering ditinggalkan.


"Pak Ustadz, Hilda tidak berangkat, katanya sakit gigi, soalnya... soalnya Hilda itu bandel sih, tidak boleh makan permen sama es malah makan permen dan es terus."


Seorang anak perempuan tampak maju bicara pada Ridwan, tampak Ridwan tersenyum dan mengangguk,


"Iya, tidak apa-apa, sakit itu diberikan Allah adalah untuk selain menguji kesabaran, juga menghapus dosa manusia. Kita sebagai teman dan saudara, jika ada yang sakit harus mendoakan teman dan saudara kita itu, supaya ia bisa sabar dan bisa segera sembuh."


Ujar Ridwan.


"Berarti Hilda banyak dosanya ya Pak Ustadz karena Hilda sakit."


Celetuk Hilal, anak laki-laki yang gembul, Ridwan tersenyum,


"Manusia itu tidak ada yang tidak memiliki dosa, kecuali para Nabi dan Rosul, karena mereka terjaga dari maksiat dan melakukan hal batil. Nah, arti kata menghapus dosa di sini, bukan berarti yang sakit itu berarti dosanya banyak, sedangkan yang sehat itu tidak ada dosa. Bukan... Bukan begitu anak-anak."


Ridwan lantas meminta semuanya duduk manis di bangku masing-masing. Anak-anak menurut duduk dan siap mendengarkan penjelasan Ridwan.

__ADS_1


"Allah itu mencintai seluruh hambanya, itu sebabnya Dia disebut Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jangankan umat muslim, umat yang berbeda agama saja, Allah tetap berikan apa yang menjadi hak nya, dan penuhi kebutuhannya."


"Manusia diberi rasa sakit, juga termasuk karena cintanya Allah pada manusia, karena saat seseorang sakit, ia akan lebih banyak mengingat Allah, dengan begitu gugurlah dosanya. Jika ia bersabar dan tidak mengeluh, maka bertambah pula kecintaan Allah padanya."


"Kalau yang tidak sakit, Allah cinta tidak Pak Ustadz?"


Tanya anak yang lain, di luar ruangan para Ibu juga tampak ikut mendengarkan.


"Oh tentu saja, Allah juga mencintai anak-anak yang sehat. Karena anak yang sehat, akan jadi generasi yang kuat nantinya. Tapi... Selama kesehatannya tidak untuk disombongkan tapi disyukuri, selama kesehatannya digunakan untuk ikut kegiatan yang baik, sekolah yang baik, berbakti pada Ibu dan Bapak di rumah dengan baik, bergaul dengan teman secara baik dan sholat, mengaji dengan baik."


Kata Ridwan.


"Berarti kalau kita sakit, Allah cinta sama kita kalau kita sabar. Dan kalau kita sehat, Allah cinta kalau kita syukur ya Pak Ustadz?"


Tanya Hilal,


Ridwan mengangguk sambil tersenyum lagi.


"Tapi kalau sakit karena bandel, apa Allah juga cinta Pak Ustadz?"


Tanya Rani pula,


Lalu Ridwan tersenyum tipis,


"Tentu saja, kan Allah mencintai semua hamba Nya."


"Kenapa bandel dicintai?"


"Karena Allah tidak pernah membenci, jadi manusia yang suka membenci manusia lain, teman yang suka benci temannya, saudara yang membenci saudaranya, tetangga yang membenci tetangganya, itu jelas bukan ajaran Allah."


Jelas Ridwan karena merasa Rani ini memiliki bakat sebagai pembenci, tentu saja ini pasti karena ia mengadopsi sifat dari apa yang sering ia lihat dan dengar.


Bisa saja dari orangtua, atau lingkungan dan tontonan.


"Hilda suka makan permen dan es, Allah kasih dia sakit gigi, menurut kalian supaya apa Allah kasih sakit gigi?"


Tanya Ridwan pada anak-anak,


"Dihukum."


Ujar Rani,

__ADS_1


"Di azab."


Kata anak lain, korban film TV azab azab.


Ridwan sampai nyaris tertawa dibuatnya,


"Supaya Hilda berhenti makan permen dan es."


Kata Hilal.


Ridwan begitu mendengar jawaban Hilal tampak langsung mengacungkan ibu jarinya.


"Alhamdulillah, betul sekali Hilal."


Kata Ridwan.


"Hilda tidak boleh makan es dan permen oleh orangtua, pasti karena orangtua tahu. Dan kalau orangtua melarang, itu berarti karena Hilda makan permen dan es nya terlalu sering, sementara sesuatu yang berlebihan itu tidak baik."


Jelas Ridwan.


"Nah, Allah berikan Hilda sakit gigi supaya Hilda jadi tahu, oh ternyata orangtua melarang karena mereka sayang pada Hilda, dengan begitu Hilda akan jadi anak penurut, dan Allah suka sekali dengan anak penurut."


Lanjut Ridwan, lalu...


"Hilda sakit gigi, juga supaya Hilda jadi tidak makan permen dan es terlalu sering lagi, supaya gigi Hilda nanti tidak cepat rusak, karena kasihan Hilda kalau giginya pada rusak sebelum Hilda tua. Dia nanti akan kesulitan mengunyah, akan sering sakit jadi tidak berangkat sekolah dan lain-lain."


"Jadi bukan azab ya Pak Ustadz?"


Tanya si anak korban acara TV, tampak Ridwan mengangguk sambil tersenyum lebar,


"Bukan nak, bukan. Janganlah kita suka merasa kesusahan yang menimpa orang lain dan juga menimpa diri kita adalah azab. Allah adalah Maha Kasih Sayang, saat kita mendapat musibah, atau saat orang lain dapat musibah, kita harus baik sangka. Allah menegur karena kita ingin jadi hamba yang lebih baik, karena Allah ingin kita semua masuk ke dalam syurga. Paham ya?"


Tanya Ridwan.


Semua mengangguk, lalu...


"Baiklah, kita mulai hafalannya, siapa dulu yang maju?"


Riswan pun memulai pelajaran.


**------------**

__ADS_1


__ADS_2