Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
117. Seperti Petir Di Siang Bolong


__ADS_3

Anisa berdiri di pintu yang memisahkan ruang tamu rumah lama Wisnu dengan ruang tengah rumah.


Gadis cantik yang kini dibalut gamis warna maroon itu terlihat tangannya langsung gemetaran begitu mendapati siapa yang kini duduk bersama Wisnu di ruang tamu.


Tak berbeda dengan Anisa yang begitu terkejut, Iis yang duduk satu sofa dengan Ridwan pun bahkan langsung tampak berdiri saking kagetnya.


Ia sungguh tidak diberitahu oleh Ridwan jika mereka akan berkunjung ke rumah Anisa.


Ah tidak, ini tentu karena bukan rumah Anisa, tapi kenapa Anisa ada di rumah laki-laki ini?


Iis menatap Wisnu yang kini terlihat bingung menatap Iis dan Anisa yang sepertinya saling mengenal satu sama lain.


"Apa kalian saling kenal?"


Tanya Wisnu akhirnya, sesuai dengan dugaan Iis.


"Nis..."


Iis memanggil Anisa, tapi Anisa malah justeru terlihat menatap Iis dengan tatapan seperti tidak suka.


Ridwan sendiri di sofa hanya duduk diam, ia juga kesulitan mengatur nafas rasanya.


Ia bukan sengaja membawa Iis dan masalah ini, tapi ia memang butuh seseorang untuk menemaninya.


Tapi...


"Anisa, duduklah,"

__ADS_1


Kata Wisnu akhirnya, seperti berusaha memecahkan suasana yang terkesan sangat tidak enak saat ini.


Anisa menatap Wisnu,


"Ada apa ini sebetulnya Nu?"


Suara Anisa bergetar.


"Ka... Kamu sengaja mengundang Ustadz Ridwan ke rumah? Kamu ingin aku malu atau aku melihat mereka berdua?"


Anisa malah seperti akan histeris.


"Nisa, kamu salah faham Nis, tidak seperti itu."


Iis yang merasa paling tidak enak saat ini akhirnya mendekati Anisa, berusaha meraih tangan Anisa, tapi cepat Anisa menampiknya.


Anisa terlihat sangat kecewa.


Wisnu yang sungguh-sungguh tidak tahu duduk perkaranya, akhirnya terlihat celingak-celinguk, ia menatap Ridwan yang tertunduk sejak tadi dan hanya diam saja.


"Pak Ustadz, tolong jelaskan, ada apa ini sebetulnya?"


Tanya Wisnu akhirnya pada Ridwan.


"Biar aku yang jelaskan, semuanya hanya salah faham, duduklah, aku akan jelaskan agar kita bisa sama-sama meluruskan. Duduklah Nisa..."


Iis mencoba meraih tangan Anisa lagi, tapi dengan kasar Anisa menampik tangan Iis lagi. Karena terlalu cepat dan kasar, jari tangan Iis yang dilingkari cincin bermata biru jadi menggores bagian tulang pipi Iis.

__ADS_1


Iis yang terkejut atas goresan di tulang pipinya tanpa sadar memekik seraya mengusap lukanya yang berdarah.


"Anisa, kenapa begitu kasar pada Bu Guru Iis? Ia hanya ikut mampir, dia tidak ada salah apa-apa."


Ridwan yang melihat wajah Iis terkena goresan cincin Anisa terpaksa akhirnya berdiri.


Wisnu yang melihat Ridwan berkata pada Anisa seolah telah mengenal lama jadi maju ke depan dan berusaha meminta penjelasan.


"Kalian, apa kalian semua saling kenal?"


Tanya Wisnu.


Tampak Wisnu menatap ketiganya satu demi satu.


Ridwan tampak mengangguk, lalu...


"Maaf Mas Wisnu, bisa bicara sebentar, nanti setelah ini kita bicara juga Anisa."


Kata Ridwan sambil mengajak Wisnu keluar dari rumah agar mereka bisa bicara di teras saja.


Wisnu yang tentu saja ingin tahu yang sebenarnya langsung mengikuti Ridwan keluar dan mereka pun duduk di teras.


Sementara Anisa dan Iis yang kini jadi saling canggung tampak sama-sama menghela nafas, lalu memilih duduk saja di sofa ruang tamu tanpa saling bicara apapun lagi.


Hanya Iis yang meraih tisu dari dalam tas nya, untuk mengusap luka di wajahnya.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2