Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
45. Tiada Daya Upaya


__ADS_3

Malam hari, Ridwan pulang dari masjid seperti biasa menikmati makan malam sederhana bersama keluarganya.


Hanya nasi anget yang di masak masih pakai kukusan, dengan sambal yang masih ada di atas cobek, tempe tahu goreng tanpa tepung dan petai goreng, serta sayur nangka muda dibumbu kuning.


Sementara Ajeng yang anak-anak, seperti biasa sengaja dibuatkan lauk lain, telur mata sapi ditaburi bawang goreng iris dan kecap.


"Wan, katanya kamu tadi mau cerita soal tamu yang di Pak Haji Imron."


Kata Mbak Wening setelah acara makan malam selesai dan tinggal Ajeng yang masih berjuang menghabiskan nasi kecap telornya.


"Ada apa to Wan?"


Tanya Ibu menatap putranya yang sedang menyeruput wedang teh hangat miliknya.


Setelah menyeruput wedang teh melati hangat buatan Mbak Wening, Ridwan kemudian baru menjawab pertanyaan sang Ibu.


"Sebetulnya Ridwan enggan menceritakannya lebih dulu Bu, karena Ridwan belum istikharah. Tadinya Ridwan ingin bercerita saat sudah ada jawabannya."


Kata Ridwan.


"Kamu mau dijodohkan dengan salah satu anak Pak Haji Imron ya?"


Mbak Wening tiba-tiba menyela asal menebak, membuat Ibu yang duduk di sebelahnya menabok lengannya dengan keras.


Melihat Ibunya ditabok si Mbah membuat Ajeng tertawa kecil.


"Ibu bandel to Mbah?"


Kata Ajeng sambil menyuapkan potongan kuning telor mata sapinya.


"Hmm..."


Mbak Wening langsung melirik Ajeng dengan lirikan maut.


"Bukan soal perjodohan Mbak, jauh sekali lho nebaknya."


Kata Ridwan.


"Terus apa Wan?"


Mbak Wening masih semangat kepo,


"Wis to Ning, terserah saja Ridwan mau cerita atau tidak, kenapa kamu kepo sekali."


Kata Ibu.


"Ya kan siapa tahu Ridwan juga butuh pendapat kita sebagai keluarganya kan Bu, apalagi pendapat Ibu, itu sudah jelas pasti dibutuhkan anaknya."


Mbak Wening macam sedang melakukan penyuluhan keluarga bahagia saja.


"Yo mbuh lah kamu ini sukanya ngomong opo muter-muter."


Kata Ibu.


"Ikh."


Mbak Wening geleng-geleng kepala.


Ridwan tersenyum tipis, lalu...

__ADS_1


"Tapi inggih Bu, Ridwan rasa memang ini harus diceritakan ke Ibu juga sih."


Kata Ridwan akhirnya.


"Nah kan, apa Mbak bilang..."


Mbak Wening mantuk-mantuk bersemangat.


"Ada apa Wan? Ibu kok jadi takut, sebetulnya kamu memangnya mau bicara soal apa?"


Ibu menatap putranya lekat-lekat.


"Begini Bu, tadi siang anak-anak Pak Suhadi meminta Ridwan datang ke rumah Pak Haji Imron. Sebagaimana yang disampaikan Pak Haji Imron, ada wasiat dari Pak Suhadi semasa beliau sakit dan akan meninggal."


"Wasiat? Wasiat apa Wan?"


Tanya Mbak Wening tak sabar.


"Iikh Ibu ini, wasiat saja tidak tahu, wasiat itu lampu wasiat."


Kata Ajeng sambil geleng-geleng kepala, dan masih sambil geleng-geleng itu, Ajeng turun dari kursi lalu membawa piring kotor menuju dapur untuk diletakan di sana dan sekalian cuci tangan.


Si mbah pun jadi terkekeh-kekeh.


Di dapur rumah yang sederhana itu memang ada satu kotak kecil yang sengaja dibuat untuk meletakkan piring-piring kotor dan juga untuk cuci tangan atau bisa juga untuk wudhu saat akan sholat tahajud di malam hari.


Ajeng yang sudah selesai cuci tangan tampak ngeloyor ke kamar, ia akan baca buku saja daripada ikut ngobrol dengan orang-orang dewasa.


Lagipula, Ibu juga suka lama-lama marahin Ajeng kalau Ajeng ikut nimbrung ngobrol.


"Pak Suhadi yang sawahnya di sini ada berapa hektar itu kan Wan?"


Tanya Ibu kemudian.


Ibu mengangguk.


"Wasiatnya opo Wan?"


Tanya Ibu lagi,


"Pak Suhadi ingin wakaf tanah sekaligus membuat yayasan Bu. Yayasan yang menaungi rumah tahfiz dan pondok untuk anak yatim piatu yang tidak punya."


Kata Ridwan.


"Oalah, lalu bagaimana?"


Tanya Ibu pula,


"Nggih tadinya mau dipasrahkan kepada Pak Haji Imron agar beliau bisa mengelola, tapi berhubung Pak Haji Imron merasa sudah sepuh, takut nanti tidak bisa menjalankan wasiat Pak Suhadi dengan maksimal, maka Pak Haji Imron memasrahkan wasiat itu pada Ridwan."


"Wah keren Wan, alhamdulilah kalau begitu."


Mbak Wening makin tampak bersemangat.


Tapi Ibu yang peka dan tahu betul Ridwan bukan tipe orang yang suka aji mumpung akhirnya menanyakan, apakah memang Ridwan berkeinginan menerimanya atau bagaimana.


"Sejujurnya ini juga salah satu impian Ridwan Bu, memiliki pondok khusus anak yatim yang tidak mampu agar mereka bisa tetap menimba ilmu, sekaligus juga rumah tahfiz."


"Berarti ini rezekimu Wan."

__ADS_1


Kata Mbak Wening.


Ridwan mengangguk pelan,


"Di satu sisi mungkin benar Mbak ini rezeki, tapi bisa jadi di satu sisi lagi ini juga ujian untuk aku."


"Lho kok ujian."


Mbak Wening mengerutkan kening, Ibu menghela nafas,


"Ujian itu bukan hanya saat kita diberi kesusahan Mbak, justeru ujian yang lebih berat itu adalah saat kita diberi banyak kelapangan, banyak kelebihan, dan juga banyak kesempatan, seperti aku ini. Aku takut tidak amanah Mbak, takut sekali kalau sampai ada yang salah lalu aku jadi berdosa atas hal itu."


Kata Ridwan.


Mbak Wening menatap adiknya sambil mantuk-mantuk,


"Kalau begitu, benar katamu jika lebih baik kamu istikharah saja Wan. Supaya nanti diberi petunjuk kamu harusnya bagaimana, apa yang baik menurut Allah atas itu."


Kata Ibu.


Ridwan mengangguk.


"Enggih Bu, Ridwan memang berencana akan meminta petunjuk terlebih dahulu. Jika memang baik dan Allah ridho, inshaAllah Ridwan akan berusaha melakukannya dengan semaksimal yang Ridwan bisa. Sementara, jika ternyata menurut Allah, akan menjadi buruk jika Ridwan yang urus, misal Ridwan juga malah nantinya jadi takabur dan malah tidak amanah ya lebih baik Ridwan mundur saja sejak awal."


Ujar Ridwan.


"Hmm kamu memang berbeda dengan kebanyakan lainnya Wan, padahal Mbak dengar, Itu Pak Ustadz Sholeh juga menerima wakaf untuk dibangun pondok, tapi tidak berjalan."


"Hsttt... Jangan suka membicarakan orang lain. Sudah tidak baik, dosa."


Ibu mengingatkan.


Mbak Wening jadi nyengir malu.


Ibu lantas menatap Ridwan lagi,


"Ya untuk Ibu, sebagai orangtua tentu Ibu hanya bisa bantu doa Wan, Ibu harap kamu bisa nantinya menjadi orang yang amanah, yang ilmunya juga bisa bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri namun juga untuk umat."


Kata Ibu.


"Aamiin ya Allah, semua tentu atas doa Ibu, Bu. Sungguh doa Ibu yang sholihah lah, yang mampu mengantar anak-anak meraih berkah Allah dunia dan ridho Allah di akhirat."


Kata Ridwan pula.


"Kalau begitu, kamu istirahatlah, agar malam nanti bisa mulai istikharah untuk meminta petunjuk, agar bisa diberikan pilihan terbaik dari sisi Allah."


"Enggih Bu."


Ridwan mengangguk.


"Ibu lega kamu tidak mengedepankan keinginanmu sendiri, kamu masih mendahulukan apa yang menurut Allah baik, tidak serta merta menerima tawaran untuk mengemban amanah yang bisa saja kapan waktunya akan menjebakmu dalam kesombongan dan kelalaian."


Ibu matanya berkaca-kaca karena merasa begitu bersyukur melihat sosok Ridwan.


"Semua karena Allah yang menjaga Ridwan Bu, Allah yang masih menuntun Ridwan sampai masih bisa berlaku hati-hati, sesungguhnya kita manusia bisa berlaku baik pun karena Allah yang memampukan."


Kata Ridwan pula.


"Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim, sesunguhnya manusia tiada daya upaya tanpa pertolongan Allah. Sekalipun untuk beribadah, kita juga bisa karena diberi kemampuan oleh Allah."

__ADS_1


Tutur Ridwan.


**---------------**


__ADS_2