
"Ini pasti wis dijamin bakal laris manis tanjung kimpul Mbak Wening, bahkan pasti banyak yang pesan ini ke depannya."
Kata pemilik warung yang ada di depan rumah Pak Haji Syamsul.
Pemilik warung mengantar Mbak Wening keluar dari warungnya sambil terus bicara ngalor ngidul.
"Nanti dibuatkan yang buat harga dua ribuan Mbak, yang biar orang buat teman makan."
Kata pemilik warung lagi.
"Ooh yang bungkusan kecil nggih? Oke, siap... Siap..."
Kata Mbak Wening.
"Itu bungkusan di belakang sepeda gede amat, buat siapa Mbak?"
Tanya pemilik warung pula kepo, begitu melihat kantong berukuran cukup besar diikat di boncengan sepeda ontel Mbak Wening.
"Ooh enggih, itu punya Ibunya Bu Guru Iis, kemarin dulu pesan lima kilo keripik pisang, karena kebetulan hari ini saya ke sini jadi sekalian saja tek bawakan."
"Wah pesen banyak amat Mbak, apa jangan-jangan mau mantu ya? Apa mau ada acara lamaran ya?"
Tanya pemilik warung kepo lagi,
Nyatanya sudah jadi rahasia umum, jika kebanyakan pemilik warung suka kepo, haus informasi.
"Duh memangnya Bu Guru Iis sudah ada calonnya to? Sudah punya pacar?"
Mbak Wening gantian kepo, jelas ia khawatir Bu Guru Iis sudah ada yang punya, sementara ia ingin Bu Guru Iis nantinya jadi isteri Ridwan adiknya.
__ADS_1
"Lho malah Mbak Wening tanya saya, ya mana saya tahu, kan Mbak Wening yang dipesani keripik."
Pemilik warung jadi terkekeh.
"Lho ya wong panjenengan ini kan rumah dan warungnya dekat dengan rumah Bu Guru Iis, bagaimana to, ndak jelas."
Mbak Wening jadi ikut terkekeh.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba sebuah mobil keluar dari rumah Pak Haji Syamsul, dari kaca mobil yang dibiarkan terbuka di bagian pengemudi tampak Anisa berada di mobil juga.
Mbak Wening yang semula sedang terkekeh langsung terdiam.
"Itu kayanya mbak Anisa ya, katanya kabur dari rumah sampai dicari kemana saja tidak ketemu, lha itu keluar dari rumah pakai mobil."
Pemilik warung kepo seperti biasa jadi miss komen.
"Oh iya, Mbok Rat juga kan keluar dari rumah Pak haji Syamsul lho Mbak Wening."
Kata si pemilik warung lagi menuturkan informasi yang belum sempat ia bagi.
"Lho, nopo nggih?"
Mbak Wening kaget.
"Walah, belum tahu yo?"
Pemilik warung malah jadi senang dan bersemangat karena ternyata Mbak Wening belum mendengar berita terbaru.
Merasa ia akan memberikan laporan eksklusif walhasil pemilik warung langsung pasang wajah lebih serius.
__ADS_1
"Pokoknya sejak Mbak Wening tidak kerja di sini, waaah kacau semuanya Mbak. Itu Mbak Anisa kabur, trus Mbok Rat juga keluar dari pekerjaan dan katanya dengar-dengar sekarang ikut anaknya di Comal lho yo jauh wisan."
"Lha rumah yang di sini piye?"
Tanya Mbak Wening.
"Lho kan rumah yang di sini ditempati anaknya adiknya, yang nikah dapat orang Petarukan itu."
"Eh lah, bukan Petarukan to Bu, wong Spait."
Mbak Wening meralat.
"Lho, aku denger-denger orang Petarukan kok."
Pemilik warung ngotot.
Salah bener tak jadi soal, yang penting ngotot is number one. hihihihi...
"Yo wis anggap Petarukan wae wislah."
Kata Mbak Wening akhirnya mengalah.
Mbak Wening menatap rumah besar di depannya.
Rumah besar milik Pak Haji Syamsul yang sombong, sengak dan menyebalkan.
Kapan waktunya, semoga Ridwan punya rumah jauh lebih besar dari rumah ini. Batin Mbak Wening yang jadi kembali ingat sakit hatinya ketika di hina-hina oleh Pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah.
**---------------**
__ADS_1