
Dan sepanjang hari ini, Ridwan dan Iis sama-sama tak bisa konsentrasi mengajar. Mereka tak seperti biasanya yang bisa mengajar dengan santai, membuat anak-anak menikmati jam pelajaran, hari ini mereka mengajar seperti hanya mengandalkan membaca buku paket.
Ridwan yang seharusnya sudah membuat rangkuman materi yang akan ia bawakan bahkan lupa membawa catatannya, ia meninggalkannya begitu saja di meja ruang Guru, dan sama sekali tak ingat sampai kemudian ia masuk kelas.
Anak-anak tampak sedikit bingung melihat Ridwan yang hari ini terlihat sekali tidak fokus, bahkan beberapa kali ia terlihat tiba-tiba saja terdiam.
Ya...
Ridwan bagaimanapun tak bisa memungkiri jika membayangkan bertemu Anisa dan harus membantu Wisnu menyampaikan niatnya adalah sungguh teramat berat.
Anisa...
Bagaimanapun ia adalah gadis pertama yang bahkan sampai hari ini mampu memasuki hatinya.
Membuat Ridwan bermimpi banyak hal tentangnya, termasuk juga bermimpi memiliki keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah bersamanya.
Bermimpi memiliki keluarga kecil bersama Anisa, dan kemudian memiliki beberapa anak dengannya.
Ridwan bahkan berangan-angan ia akan mengajarkan banyak ilmu pada Anisa, ia akan mengajari sesuci yang benar, tata cara sholat yang benar, baca Alquran yang benar dan semua hal yang intinya Ridwan ingin sekali menjadi imam bagi Anisa hingga kelak Anisa bisa menjadi perempuan dan isteri yang solikhah.
Tapi...
Kenyataan yang terjadi memang sangat pahit, bukan hanya semua tak berjalan sesuai keinginan, namun juga berjalan seolah menyakiti Ridwan.
Ridwan sungguh dipaksa untuk belajar ikhlas melepas mimpinya, dipaksa mengembalikan seluruh cintanya hanya kepada Robb'nya.
Allah lah yang menciptakan Anisa.
Allah lah yang mengijinkan Ridwan memiliki rasa cinta pada Anisa.
Allah lah yang menuliskan takdir siapa yang tepat menjadi jodoh mereka masing-masing.
Ya...
Sejatinya manusia memiliki rasa cinta adalah untuk manusia mampu mengukur diri bahwa besar cintanya pada mahluk apakah juga cinta itu sama besarnya pada Allah dan Rosulullah.
Jika cinta kepada Allah justeru lebih kecil maka sungguh pasti merugilah manusia itu.
Dan apabila cinta kepada Allah lebih besar dibandingkan dengan mahluk Allah yang lain, berarti beruntunglah manusia itu.
Dan mungkin, selama ini, Ridwan diam-diam lebih mencintai Anisa daripada mencintai Allah.
Mungkin hatinya lebih banyak menyebut nama Anisa daripada menyebut nama Allah.
Mungkin fikirannya lebih banyak ia gunakan untuk memikirkan sosok Anisa dan larut dalam angan-angan kosong bersama Anisa, dibandingkan fikirannya digunakan untuk memikirkan kekuasaan Allah, memikirkan kebesaran Allah, memikirkan kasih sayang Allah pada seluruh makhluknya tanpa terkecuali.
Ridwan kini benar-benar ditempa oleh Allah untuk bisa belajar ikhlas dalam bentuk nyata.
Diambil kecintaannya, bahkan ia diharuskan melepaskannya secara langsung.
__ADS_1
Ujian...
Ini adalah ujian yang sebenarnya.
Penghinaan dan caci maki Pak Haji Syamsul nyatanya itu hanyalah ujian kecil saja.
Inilah yang paling utama, di mana ujian sabar dan ikhlas melepaskan kecintaan harus dilewati dalam waktu yang sama.
Melepas untuk laki-laki lain, yang Ridwan hanya melihat dan mendengar sepak terjangnya saja sudah merasa begitu kecil jika dibandingkan dengannya.
Teeeeet...
Tiba-tiba terdengar suara bel pelajaran terakhir hari ini berbunyi.
Ridwan di kelas lima, mengajar di jam terakhir tampak terkejut.
Dilihatnya anak-anak didiknya sudah langsung sibuk membereskan peralatan sekolah mereka.
Ridwan menghela nafas, karena tampaknya hari ini, ia sungguh gagal menjadi Guru yang baik.
**--------------**
Di jalan yang tak jauh dari sekolah dasar waru dua, tampak Iis menuntun sepeda motornya yang kembali mogok.
Ternyata benar kata tukang bengkel jika harusnya motor Iis turun mesin saja.
Dulu motor Iis memang beli dari seorang saudara yang merantau di Jakarta. Tadinya motornya ia pakai di Jakarta, tapi setelah ia beli motor baru dengan plat Jakarta, motor yang saudara Iis bawa dari kampung itu dijual di kampung dan akhirnya dibeli oleh Iis.
Begitulah kata si tukang bengkel saat Iis dulu mengambil motornya.
"Nanti turun mesin saja Bu Guru, kalau tidak ya mending dijual saja, beli yang baru."
Kata si tukang bengkel lagi.
Iis lelah menuntun motornya, ia pun berhenti sejenak.
Tak hanya satu dua orang laki-laki menawarkan bantuan, tapi Iis menolaknya dengan sopan.
Iis jelas bukanlah perempuan yang dengan mudah menerima bantuan laki-laki, apalagi laki-laki asing yang tak dikenalnya.
Iis mengambil tisu dari tasnya, menyeka keringat di dahinya, panas terik matahari membuat Iis makin cepat berkeringat karena kepanasan dan juga merasa sangat letih.
Bengkel jelas masih cukup jauh, padahal rasanya kakinya sudah nyaris kram.
"Astaghfirullah..."
Iis mengucap istighfar.
Padahal tadi ia buru-buru keluar dari sekolahan karena ingin cepat sampai rumah karena ia lupa rumahnya tadi ia kunci apa tidak, karena dicari-cari kunci rumahnya di tas tidak ketemu.
__ADS_1
Menelfon Mbak Tiwi uang rumahnya sebelah rumah sedang pergi ke tempat saudaranya, hubungi tetangga lain, adanya orang-orang yang lebih tua yang di rumah, tentu Iis merasa tidak sopan jika harus menyuruh mereka.
Ada beberapa anak mereka juga masih di sekolah dan juga ada yang bekerja.
Iis mengurut kening, benar-benar manusia itu tidak bisa menyombongkan diri, meskipun Iis mudah sekali ingat dengan sejarah manapun yang ia baca di buku, tetap saja masalah kunci rumah yang sepele jika Allah yang tidak membuat Iis ingat, secerdas apapun manusia tetap saja tak mampu ingat.
"Astaghfirullah..."
Iis mengucap istighfar lagi, ia menyadari sekali jika mungkin hatinya selama ini sedikit sombong atas ingatannya yang selalu dianggap luar biasa cerdas oleh sebagian orang, terutama oleh orang-orang yang mengenalnya dan juga dekat dengannya.
Iis lantas melanjutkan lagi langkahnya yang mulai lemah menuntut sepeda motornya menuju bengkel, saat kemudian tiba-tiba terdengar seseorang mengklakson dan menyalip Iis.
Orang itu lantas menghentikan motornya di depan motor Iis, memaksa Iis akhirnya menghentikan langkahnya.
"Kenapa lagi Bu?"
Tampak orang yang tak lain adalah Ridwan itu menatap Iis dengan iba.
"Oh ini Pak, sepertinya memang benar harus turun mesin."
Kata Iis lemas.
Ridwan turun dari motornya, ia menghampiri Iis dan lantas membantu mengecek motornya.
Sekitar lima menit berlalu, kemudian Ridwan berdiri lagi.
"Iya Bu, ini kayaknya mesinnya, saya bawakan ke bengkel Bu."
Kata Ridwan.
"Tapi masih agak jauh Pak."
Iis tak enak,
"Tidak apa, daripada Bu Iis yang nuntun kan? saya saja tidak apa-apa."
Ridwan lantas mengambil alih motor Iis,
"Ibu pakai motor saya saja, ke bengkel duluan, tunggu saya di sana, nanti pulangnya saya antarkan."
Ujar Ridwan.
Iis tentu saja sebetulnya tak mau menolak, tapi lagi-lagi ia tiba-tiba ingat Anisa.
"Ngg tapi, saya mau mampir ke satu tempat dulu, hanya sebentar sih, tidak apa-apa ya?"
Tanya Ridwan sambil memandang Iis, yang langsung membuat Iis seperti menurut saja, mengangguk mengiyakan.
Ridwan tersenyum, lalu ia mulai naik ke atas motor Iis lalu membawanya jalan dengan kedua kaki yang menggerakan motornya.
__ADS_1
Iis sendiri menggantikan Ridwan memakai motor Ridwan dan memilih mengikuti Ridwan dari belakang, daripada pergi ke bengkel lebih dulu sedangkan di sana akan ada banyak laki-laki yang pastinya membuat Iis tidak nyaman.
**---------**