
"Ibu, belum selesai nopo Bu?"
Tanya Iis dari luar pintu kamar Ibundanya.
Iis sudah tampak anggun dengan balutan gamis berbahan brokat warna lembut, dengan hijab yang dipakai simpel saja seperti biasa, hanya diberi sedikit hiasan bross berbentuk bunga yang cantik.
Iis mengetuk pintu kamar Ibu, hingga kemudian terdengar suara Ibunya,
"Iya sebentar lagi, sabar tooo..."
Kata Ibu.
"Soalnya Mas Ridwan sudah menunggu di depan Bu,"
Ujar Iis.
"Iya... Iya..."
Jawab Ibu lagi.
Hari ini, mereka memang akan berangkat menghadiri resepsi pernikahan Anisa dan Wisnu bersama.
Setelah pagi tadi Iis dan Ibu menyempatkan diri datang ke rumah Pak Haji Syamsul untuk menyaksikan akad nikah Anisa dan Wisnu, siang ini mereka akan kembali hadir untuk memberikan ucapan selamat pada Anisa dan Wisnu secara langsung.
Sebetulnya, pagi tadi Iis ingin menemui Anisa langsung di kamarnya, ia datang sebelum waktu akad nikah, bahkan saat rombongan keluarga Wisnu datang, namun karena alasan Anisa sedang dirias dan perias tak ingin terganggu dengan kehadiran orang lain, maka Iis pun harus legowo tak bisa bertemu dengan Anisa.
Setelah kemudian akad nikah, Iis juga tak bisa bertemu dengan Anisa, ia hanya bisa melihat saja.
Keluarga Pak Haji Syamsul yang belakangan makin menjaga jarak dan membatasi Anisa terlalu akrab dengan orang lain, menjadi salah satu alasan Iis sulit menemui Anisa.
Iis pun demi menunggu Ibunya selesai berdandan akhirnya duduk di kursi ruang TV yang ada di depan kamar Ibu.
Ia tampak mengutak-atik hp nya, melihat-lihat video saat akad nikah Anisa pagi tadi.
__ADS_1
Ya...
Akad nikah Anisa yang sungguh mengharu biru, meskipun suasana tempat yang dekorasinya luar biasa indah bagai pernikahan seorang artis, tampaknya Anisa tak seperti pengantin yang benar-benar bahagia.
Sejak keluarga Wisnu datang, membawa begitu banyak rombongan dan hantaran yang dua kali lipat banyaknya dari saat lamaran, Iis merekam semuanya.
Keluarga Wisnu yang dengan seragam ala abdi keraton semua berbaris dengan sangat rapi, berjalan mengiring Wisnu dari gerbang depan.
Wisnu yang seperti seorang pangeran, tampak diapit kedua orangtuanya.
Mereka disambut keluarga Pak Haji Syamsul yang juga berdandan layaknya orang-orang keraton.
Mereka lantas dipersilahkan duduk di tempat yang telah disediakan. Mendengarkan sambutan dari perwakilan tuan rumah, lalu ada sedikit wejangan dari sesepuh, ada doa dan lain sebagainya.
Hingga kemudian, akad nikah dilaksanakan di jam yang sesuai dengan seperti yang ada di undangan.
Sungguh ini terlihat jelas, bahwa kedua keluarga memang memiliki kesamaan dalam hal kedisiplinan, tak heran jika mereka memang bisa sukses dalam usahanya.
Karena, salah satu kunci sukses memang adalah kedisiplinan.
Setelah akad selesai, Anisa pun dengan bersama perias pengantin dan asistennya, tampak muncul dengan balutan kebaya yang luar biasa cantiknya.
Semua orang terpana, bahkan pastinya Wisnu sendiri sebagai suami.
Iis bahkan sampai menitikkan air mata, melihat sahabatnya itu seperti menjelma layaknya bidadari yang cantik.
Tak heran memang, banyak nian pemuda jatuh hati padanya, bahkan seorang pemuda yang menjaga pandangannya selama ini pun, tak sanggup mengabaikan pesona kecantikan Anisa yang alami.
Anisa duduk di samping Wisnu, menjabat tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.
Setelahnya, Anisa dan Wisnu duduk berdampingan untuk mengaminkan doa.
Anisa tiba-tiba menangis tersedu-sedu, sepertinya ia mengingat sosok umi nya.
__ADS_1
Makin lama ia makin menjadi tangisnya, membuat Wisnu terpaksa merangkul sang isteri.
"Umiii... Umii... Ada Umi."
Begitu Anisa sempat berkata, sebelum kemudian ia pingsan lalu akhirnya di gotong masuk ke dalam.
Ya, suasana menjadi riuh dan penuh tangis, tak terkecuali Iis dan Ibu Iis juga yang hadir di sana.
"Dia pasti sangat sedih, maafkan aku Nis, aku tak sempat menemanimu belakangan ini."
Lirih Iis seolah begitu menyesal melihat video Anisa di hp nya.
Ya...
Anisa.
Ia pasti sangat merindukan Umi nya di hari-hari menjelang pernikahannya. Ia pasti ingin umi nya ada, mendampinginya dan memberikan doa restu padanya.
Meyakinkan dirinya bahwa pilihannya sudah sangat tepat, dan meyakinkannya jika ia pasti akan bahagia jika nanti bersama Wisnu.
Sayangnya, Uminya Anisa telah lama tiada, meninggal kecelakaan yang Anisa selalu merasa ialah penyebabnya.
Sebagaimana yang selalu kakaknya katakan, jika kecelakaan itu adalah karena Anisa yang tak cakap dalam melajukan motornya, hingga akhirnya semua terjadi.
"Ayuk Is..."
Tiba-tiba terdengar suara Ibu yang muncul dari kamar.
Ibu sudah tampak cantik dan anggun dengan balutan brokat yang sama dengan Iis. Mereka memang sengaja memakai brokat yang sama, brokat yang baru sekali dipakai saat lebaran tahun lalu.
"Oh nggih Bu, ayuk."
Iis pun berdiri lalu memasukkan hp nya ke dalam tas dompet yang ia bawa.
__ADS_1
**-------------**