
"Kenapa wajahmu begitu nak? Ada apa si Wening?"
Tanya Ibu pada Ridwan begitu selesai bicara dengan kakaknya lewat sambungan telfon,
"Mbak Wening ternyata masih ada di rumah Bu Lurah, Bu, sepertinya ada pembicaraan penting di sana."
"Lho jadi Ajeng juga di rumah Bu Lurah? Ini mau hujan nanti bagaimana?"
Ibu jadi panik karena suara geluduk di luar makin bergemuruh,
"Ajeng masih di tempat les, di rumah Iis,"
Kata Ridwan.
"Oalah, si Wening ini, wis kamu saja jemput Ajeng Wan."
Ibu akhirnya memberi perintah,
Ridwan menghela nafas,
"Iis yang katanya mau ant..."
Dan belum lagi Ridwan menyelesaikan kalimatnya, di luar terdengar ada motor yang masuk ke halaman rumah.
"Nah itu mungkin Iis, Bu, dia yang antar Ajeng."
Kata Ridwan akhirnya.
Ibu pun meletakkan wadah sirih nya yang semula ia pangku ke atas meja, lalu berdiri untuk lantas cepat melangkah ke ruang depan,
"Assalamualaikum..."
Terdengar suara Ajeng mengucap salam seiring dengan suara derit pintu depan yang dibuka,
"Waalaikumsalam..."
Ibu dan Ridwan menjawab salam Ajeng, sambil menyambut kedatangan Ajeng, satu-satunya anak kecil di rumah itu hingga menjadi kesayangan semua orang.
"Embaaaaah..."
Ajeng menghambur ke arah Mbah nya yang kemudian menyalami si Mbah dan mencium punggung tangan Mbah nya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu terdengar pula suara perempuan mengucap salam di pintu depan,
"Assalamualaikum..."
Ridwan yang tahu itu adalah Iis, dan memang sudah ada di ruang depan tentu saja menyambutnya dengan senyum manis dan menjawab salamnya,
"Waalaikumsalam..."
Kata Ridwan,
"Mas..."
Iis tampak tersenyum sambil menangkupkan dua telapak tangannya di depan dada sebagai pengganti salaman karena mereka belum mahrom.
Ridwan mengangguk,
"Terimakasih Is, sudah antar Ajeng pulang."
Kata Ridwan.
"Iya, Mbak Wening masih sibuk katanya, jadi daripada nanti Ajeng ikut pulang Mbak Wening malah kehujanan, jadi aku antarkan pulang saja, kasihan."
Kata Iis.
Ujar Ridwan,
"Ah tidak Mas, sama sekali tidak repot,"
Ibunya Ridwan kemudian muncul juga dari ruang dalam ke ruang depan, Iis pun langsung menghampiri Ibunya Ridwan untuk bersalaman.
"Sehat Nak Iis?"
Tanya Ibu pada Iis tatkala Iis menyalami dirinya dan mencium punggung tangannya.
"Alhamdulillah, sehat Ibu. Ibu juga Alhamdulillah sepertinya sehat nggih?"
Iis pada ibunya Ridwan yang tampak mengangguk-angguk sambil tersenyum,
"Ya beginilah nak, sehat, tapi kadang kaki sudah suka linu-linu,"
Kata Ibu seraya terkekeh, membuat Iis jadi ikut tertawa kecil,
__ADS_1
"Aku buatkan wedang teh dulu, duduklah bersama Ibu."
Ujar Ridwan pada Iis,
"Oh tidak usah Mas, ini Iis mau langsung pamit kok, mau hujan."
Kata Iis, yang tepat saat Iis bilang mau hujan, malah hujan turun dengan derasnya, dibarengi petir dan geluduk juga.
Iis dan Ridwan saling berpandangan, sebelum akhirnya malah jadi tertawa sendiri,
"Sudah hujan nak Iis, bukan mau."
Ujar Ibu sambil ikut terkekeh jadinya,
Iis pun akhirnya mengalah menurut duduk di ruang tamu rumah Ridwan bersama Ibu, sedangkan Ridwan masuk ke ruang dalam untuk membuatkan teh.
"Paman mau apa?"
Tanya Ajeng yang baru keluar kamar selesai berganti baju,
"Oh, Paman mau buatkan teh untuk Bik Iis, Jeng. Ajeng mau buat teh juga?"
Tanya Ridwan.
Ajeng mengikuti Pamannya yang sudah akan masuk dapur itu,
"Ajeng sajalah yang buat wedang teh Paman, kan Ajeng bisa."
Kata Ajeng,
"Lho, nanti ini kan air panas Ajeng."
Ujar Ridwan.
"Ajeng kan sudah biasa, kan Ajeng anak pintar."
Kata Ajeng bangga, membuat Ridwan akhirnya tertawa.
"Ya... Ya... Alhamdulillah, Ajeng yang pintar, baiklah kalau begitu, Ajeng yang buat wedang teh."
Kata Ridwan akhirnya,
__ADS_1
**------------**