Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
146. Sang Pengirim Sate


__ADS_3

Tok tok tok...


Terdengar suara ketukan di pintu depan rumah, dan juga suara orang mengucap salam.


Ridwan keluar dari kamar, ia sudah selesai mandi dan sudah tampak rapi dengan sarung dan baku koko warna putih serta peci putih juga.


Adzan Maghrib telah diperdengarkan dari mushola dan masjid, Ridwan celingak-celinguk, sepi.


Ridwan akhirnya berjalan ke ruang depan, untuk membukakan pintu karena ada yang datang.


Krieeeeet...


Terdengar derit suara pintu yang terbuka, Ridwan melihat laki-laki sebaya Mbak Wening tampak berdiri di depan pintu rumah yang tersenyum padanya.


"Nuwun sewu, ini rumah Mbak Wening kan?"


Tanya laki-laki itu, Ridwan mengangguk,


"Nggih Mas, ada yang perlu saya bantu? Mbak Wening sepertinya sedang di belakang."


Kata Ridwan.


"Ooh, begitu nggih."


Sekilas tampak langsung raut kecewa di wajah laki-laki itu.


"Ngg begini saja, ini titipan satenya, katanya Ajeng minta makan lauk sate."


Ujar Laki-laki itu kemudian seraya menyerahkan bungkusan sate ayam ke arah Ridwan,


"Oh nggih Mas, jadi berapa Mas? Biar sama saya saja tidak apa-apa."


Kata Ridwan yang melihat jaket yang dikenakan laki-laki itu sepertinya adalah nama ojek online.


"Tidak usah De, tidak usah, sudah kok tadi, itu saya cuma antar saja."


"Lho, maksudnya ini sudah bayar Mas?"


Tanya Ridwan memastikan lagi,


"Nggih sampun, kersane."

__ADS_1


Laki-laki itu mantuk-mantuk, setelah itu ia cepat-cepat pamit,


"Monggo De, sudah maghrib, saya permisi,"


"Oh nggih Mas... Nggih, maturnuwun."


Laki-laki itupun berbalik untuk menuruni teras dan menuju ke motornya.


Ridwan sendiri masuk ke dalam rumah untuk membawa bungkusan sate ke kamar Ajeng.


Suara mesin motor di depan rumah terdengar dari dalam rumah, lalu di susul kemudian suara knalpot motor laki-laki itu yang menjauh.


Ibu tampak muncul dari pintu dapur ke ruang tengah tatkala Ridwan akan masuk kamar Ajeng membawa bungkusan sate, Ibu tampaknya baru selesai wudhu.


"Sate buat Ajeng, Bu."


Kata Ridwan.


"Ooh iya, tadi Wening katanya pesan sama orang."


Sahut Ibu,


Bersamaan dengan itu, Mbak Wening juga tampak muncul dengan rambut digulung handuk, memakai daster warna hijau dan handuk yang ukurannya lebih besar dari yang ada di kepalanya terlilit di pinggang.


Tanya Mbak Wening,


"Ini sate, tadi ojek yang kirim."


Kata Ridwan.


"Eh lah, kamu yang bayar Wan? Biar Mbak ganti Wan."


Mbak Wening tergopoh-gopoh akan masuk kamar juga, Ridwan menyerahkan bungkusan sate ayamnya ke Mbak Wening.


"Oalah, tidak ada Mbak, tadi si ojeknya bilangnya sudah bayar Mbak, mau tek bayar tidak mau katanya tadi sudah. Aku pikir Mbak Wening titip uang lebih dulu."


Ujar Ridwan,


"Weh, belum Wan, Mbak Wening belum nitip uang."


Mbak Wening akhirnya masuk kamar,

__ADS_1


"Jeng, hp Ibu mana?"


Terdengar Mbak Wening di dalam kamar tanya hp miliknya.


"Ini Ajeng pakai buat nonton Conan."


Kata Ajeng.


"Waduuuh, kuota Ibuuu."


Mbak Wening heboh.


Ridwan dan Ibunya saling berpandangan, dan akhirnya geleng-geleng kepala, karena tak usah menunggu lama, Mbak Wening langsung keluar rangkaian gerbong kata-kata untuk anaknya.


Ridwan pun memutuskan untuk berangkat ke masjid saja, sementara Ibu ke kamarnya, meski sebelum masuk kamar Ibu tetap menyempatkan diri bertanya pada Ridwan, ingin makan apa malam ini, dan kemudian Ridwan jawab,


"Mboten Bu, hari ini sudah terlalu kenyang, tadi di rumah Iis, disuguh mie rebus pakai telor, dan sepiring gorengan tahu dan tempe, karena hujan makannya enak sekali, sekarang begah rasanya kekenyangan. Jadi besok pagi saja Bu, inshaAllah makan laginya."


Ibu yang mendengarnya jadi tersenyum, karena sepertinya memang benar Iis akan jadi isteri yang baik nantinya untuk Ridwan.


"Ya sudah, tapi nanti kalau lapar lagi, bilang Ibu saja, nanti Ibu dadarkan telor."


Ujar ibu.


Ridwan pun mengangguk,


"Nggih Bu, maturnuwun Bu."


Langit maghrib yang bercampur dengan awan-awan mendung kini terhampar di atas Kampung Dukuh Waru.


Angin senja masih terasa lembab karena seharian bumi basah kuyup diguyur hujan.


Sawah terbentang di depan rumah Ridwan, dihiasi sisa cahaya matahari yang sudah makin surut.


Ridwan mempercepat langkahnya, dengan sesekali melompat menghindari genangan air yang memenuhi lobang kecil jalanan yang rusak.


Dari masjid terdengar suara anak-anak remaja masjid yang kini mulai kembali aktif melantunkan sholawat Nariyah.


Suara mereka menggema ke seantero kampung Waru, membuat ujung hari ini dihiasi suara merdu mereka memuji Nabi sebagai bentuk kecintaan pada Baginda Nabi.


Sungguh Ridwan tersenyum lembut, merasakan hatinya hangat karena mendengar anak-anak remaja kini tak hanya tertarik bernyanyi dengan musik saja.

__ADS_1


Ya, salah satu impian Ridwan, kelak nanti, para remaja di kampung Waru bisa menjadi tauladan remaja desa lain, agar sebagai generasi muda Muslim modern harus hidup seimbang dalam menikmati hidup di dunia dan sekaligus juga mengejar Ridho Allah untuk di akhirat kelak.


**------------**


__ADS_2