
Ridwan pagi ini entah kenapa ingin sekali berjalan-jalan menyusuri jalanan tempat kelahirannya.
Menikmati udara pagi, sembari mengenang masa kecil dulu saat ia sering ikut Bapak jamaah masjid di kala subuh lalu akan diajak jalan-jalan oleh Bapak sampai ujung perempatan lampu merah.
Ya, dulu...
Saat kendaraan belum seramai sekarang, saat orang beli motor tidak bisa kredit dulu, harus benar-benar menunggu uang terkumpul baru bisa beli.
"Wan, pulang kapan?"
"Lagi di rumah to Wan?"
"Mampir nak Ridwan."
"Lho Ridwan pulang kok baru kelihatan."
Banyak nian sapa ramah orang sekitar yang tak sengaja bertemu di jalan, atau kebetulan rumah mereka ada yang di pinggir jalan dan Ridwan melewatinya.
Sampai dekat perempatan, Ridwan berbalik arah untuk kembali menuju ke arah jalan yang akan ke rumahnya.
Namun, karena ia telah janji kepada Mbak Wening hari ini ia akan beli sarapan, maka Ridwan pun membawa langkahnya ke arah Masjid, di mana tak jauh dari masjid ada warung nasi yang cukup legendaris.
Warung nasi Bu Wirjo, yang jika pagi akan menyediakan sarapan, dan jika siang warungnya juga akan menjual beraneka menu masakan hingga habis isya biasanya baru tutup.
Belum lagi sampai di warung, Ridwan sudah bisa melihat betapa ramainya warung Bu Wirjo tersebut.
Tampak banyak orang sesak berdiri mengantri beli sarapan.
Di warung tersebut, yang juga menyediakan bangku-bangku kayu panjang dengan meja yang juga berukuran sama dengan bangkunya itu memang juga melayani pelanggan yang ingin makan di sana.
Ridwan berjalan mendekat, berdiri di belakang kerumunan orang yang nyaris membuat si empunya warung tak terlihat.
Pelanggan yang kebanyakan anak sekolah dan juga para karyawan yang tak sempat masak sendiri itu ramai memesan menu.
Bu Wirjo sendiri terlihat begitu cekatan melayani permintaan pelanggannya.
Dua orang asistennya juga tampak tak kalah sigap, ada yang membantu membungkuskan nasi rames, ada juga yang sibuk menggoreng gorengan.
"Aku to Bu ngantri dari tadi, rames dua lauk telur dadar sama terong balado dan mie goreng."
"Aku juga Bu, nasi uduk tiga, nasi rames empat, semuanya pake ayam goreng Bu."
"Aku nasi rames nggih Bu, lima bungkus lauk tumisan saja sama terong balado, gorengannya sepuluh ribu, campur tempe tahu."
"Aku duluan Bu, cuma pisang goreng Bu, lima ribu saja."
"Aku juga pisang goreng empat ribu, nasi uduk biasa tiga bungkus."
Ridwan jadi bingung harus bagaimana caranya ia memesan agar suaranya akan terdengar oleh Bu Wirjo dan kedua asistennya, sedangkan pelanggan yang berebut dilayani sebegitu banyaknya.
Ridwan masih terlihat celingak-celinguk bingung, saat tiba-tiba seseorang dari arah belakang menyapanya.
"Pak Ridwan."
Suara itu terdengar tak begitu jelas, tapi Ridwan bisa mendengar karena posisi si pemilik suara tepat di belakangnya.
Ridwan seketika menoleh, benar dugaannya, jika Bu Guru Iis yang berdiri di sana.
Ridwan langsung tersenyum lebar, begitu melihat Bu Guru Iis.
"Beli sarapan Bu?"
Tanya Ridwan berbasa-basi,
__ADS_1
Tampak Bu Guru Iis mengangguk sambil tersenyum manis.
"Iya Pak, ini kebetulan lagi tidak ada bahan masakan, jadi beli matang saja, sekalian nanti mampir beli sayuran."
Kata Bu Guru Iis.
Ridwan menganggukkan kepalanya,
"Ya, saya juga ini mau beli sarapan untuk di rumah."
Kata Ridwan.
"Ajeng tidak ikut?"
Tanya Bu Guru Iis.
"Tidak Bu,"
Beberapa orang yang mengantri sudah mulai dilayani satu persatu, Bu Guru Iis yang mungkin karena seorang perempuan, maka ia lebih luwes menyelinap di antara pelanggan lain yang masih tampak berebut dilayani.
Melihat kedatangan Bu Guru Iis, Bu Wirjo yang lima cucunya semua bersekolah di tempat Bu Guru Iis mengajar langsung menyambut dengan hangat dan ramah.
"Nasi nopo Bu Guru?"
Tanya Bu Wirjo.
Bu Guru Iis mengangguk,
"Nasi megono saja Bu dua bungkus, tahu isi ada nggih?"
Tanya Bu Guru Iis.
"Ooh ada Bu, ada..."
Sahut asisten Bu Wirjo cepat,
"Pak Ridwan, panjenengan mau pesan nopo?"
Tanya Bu Guru Iis dari tempatnya.
Bu Wirjo yang mendengar dan melihat Bu Guru Iis bertanya pada Ridwan jadi kepo memandang ke arah Ridwan berdiri.
"Lho, itu kan nak Ridwan."
Ujar Bu Wirjo,
"Enggih Bu, Pak Ridwan kan guru agama baru di sekolah kami."
Kata Bu Guru Iis.
"Ooh masya Allah, monggo Pak Guru, monggo... monggo, mau sarapan nopo?"
Bu Wirjo terlihat langsung memberikan pelayanan berbeda kepada Ridwan begitu mendengar penjelasan Bu Guru Iis.
Ridwan yang tak enak karena seperti jadi lebih diistimewakan dibandingkan yang lain akhirnya mau tak mau melangkah maju, menyeruak kerumunan pelanggan lain yang sedang antri dilayani.
"Min, ini yang sebelah sini dulu yang dilayani, yang antri dari tadi."
Kata Bu Wirjo pada asistennya yang membantunya melayani membungkus nasi.
Sementara Bu Wirjo sendiri melayani Bu Guru Iis dan Ridwan yang kini berdiri bersebelahan.
"Nak Ridwan mau bungkus rames atau nasi uduk atau nasi megono atau apa?"
__ADS_1
Tanya Bu Wirjo sambil membungkus pesanan Bu Guru Iis.
"Saya nasi megono saja Bu, tiga bungkus, nasi uduknya satu, pisang goreng dan tahu isinya delapan ribu."
Kata Ridwan.
"Lho Bu Guru Iis tadi pesan apa Bu?"
Bu Wirjo bertanya karena merasa pesanan keduanya hampir sama.
"Nasi megono dua bungkus, tahu isi dan pisang goreng enam ribu Bu."
Bu Guru Iis mengulang, yang saat mengatakannya Bu Guru Iis dan Ridwan jadi saling berpandangan tanpa sadar.
Bu Wirjo terkekeh,
"Lho kok bisa kompakan ngunu to ya, jangan-jangan jodoh ini."
Seloroh Bu Wirjo yang jelas saja langsung disambut tawa orang-orang yang ikut mengantri pula di sana.
"Nopo to Bu, ya Allah, wong kebetulan saja nggih Pak."
Bu Guru Iis jadi bersemu merah wajahnya, sementara Ridwan tampak tersenyum kalem saja.
Setelah kemudian Bu Wirjo menyelesaikan pesanan Bu Guru Iis dan Ridwan, keduanya pun tinggal menunggu gorengan tahu isi yang sedang digoreng.
Sambil menunggu, Bu Guru Iis terlihat memilih dan membungkus sendiri pisang goreng yang kini telah matang dan disajikan di atas nampan bundar di atas meja jualan Bu Wirjo.
"Mbak Min, saya minta kertas."
Kata Bu Guru Iis, asisten Bu Wirjo sigap memberikan kertas untuk membungkus pisang goreng.
Bu Guru Iis menerimanya lalu diletakkan di atas meja dekat nampan, Ridwan yang berdiri di sebelah Bu Guru Iis tiba-tiba menarik kertas yang akan digunakan Bu Guru Iis untuk membungkus.
"Lho kok diambil to Pak?"
Tanya Bu Guru Iis heran karena posisinya sudah memegang pisang goreng untuk ia pindahkan.
"Minta kertas lagi saja Mbak."
Ridwan kepada asisten Bu Wirjo.
"Sama tolong, barangkali ada potongan atau sambungan dari kertas ini Mbak."
Pinta Ridwan.
"Memangnya ada apa to Nak Ridwan?"
Bu Wirjo jadi penasaran.
Ridwan kemudian menunjukkan bagian halaman yang ada tulisan ayat suci Alquran.
"Ini Bu, tolong semuanya, kalau beli gorengan atau nasi atau apapun yang memakai kertas lalu ada ayat suci seperti ini dipisahkan, jangan sampai dibuang yang nanti bercampur dengan sampah, atau dibuang sembarangan lalu kena angin dan terinjak oleh orang."
Kata Ridwan.
"Memang tidak ada unsur kesengajaan tidak berdosa, tapi jika kita tahu lalu membiarkan, itu takutnya Allah nanti tidak ridho, jadi saya sarankan lebih baik dipisahkan."
Kata Ridwan.
Semuanya yang mendengar mantuk-mantuk, termasuk juga Bu Guru Iis.
"Memuliakan ayat suci Bu,
__ADS_1
Kata Ridwan pada Bu Guru Iis kemudian.
**-------------**