Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
104. Rindu Umi


__ADS_3

Anisa tampak melihat buku menu warung makan lesehan tepi pantai.


Sejak dari rumah tadi, pada akhirnya Anisa memang tak langsung mau pergi ke rumah Wisnu.


Ia terlalu stres dan ingin menangis terus jika sedang sendirian, maka ia memutuskan mengikuti kegiatan Wisnu sehari ini, meskipun setiap kali Wisnu ke toko emas yang merupakan klien dari keluarganya, Anisa akan memilih duduk saja di mobil menunggu sambil main hp.


Hingga kini akhirnya Wisnu telah selesai semua dengan urusan, Anisa pun diajaknya ke pantai agar bisa sedikit tenang.


Ya, pantai...


Melihat lautan yang luas, hamparan pasir meskipun bukan pasir putih, rasanya tetap saja nyaman dan menenangkan.


Debur ombak dan semilir anginnya yang sepoi-sepoi, nyatanya mampu membuat hati dan otak lebih tenang dari sebelumnya.


"Aku udang tepung saja Nu, sama cah kangkung dan tahu goreng."


Anisa akhirnya memutuskan, diletakkannya buku menunya di atas meja pendek di depannya, yang membatasi dirinya dan Wisnu duduk di gazebo rumah makan lesehan tepi pantai.


Pelayan tampak sibuk mencatat.


"Minumnya Nis?"


Tanya Wisnu,


"Wedang jeruk hangat saja."


Jawab Anisa.


Wisnu mengangguk, dan tampak pelayan mencatat lagi.


"Kalau saya bebek bakar, kemanginya agak banyak ya Mbak, minumnya disamain dengan Mbak Nisa, lalu saya minta tambahan satu porsi mendoan, dan juga air mineral dua botol jangan yang dingin."


Kata Wisnu, pelayan mencatat lalu setelah selesai ia pun permisi.

__ADS_1


"Sebetulnya untuk rasa, lebih enak warung kecil yang dulu kita pertama ke sini itu, tapi untuk duduk lama melihat laut dengan tenang, kita lebih nyaman di sini."


Ujar Wisnu.


Anisa yang kini menatap lautan lepas tampak mengangguk.


Jilbabnya terlihat meriap-riap diterpa sepoi angin laut yang berlarian ke arahnya.


"Mau merasakan air laut?"


Tanya Wisnu.


Anisa menggeleng,


"Tidak apa, tidak usah Nu."


Kata Anisa,


"Di sini sudah cukup, aku mungkin harus belajar untuk tidak serakah ketika ingin menyukai sesuatu."


Wisnu tersenyum menatap Anisa yang meski terlihat pucat saat ini, namun masih terlihat cantik.


"Hidup di dalam sangkar emas, terlihat mewah bagi orang lain, tapi bagiku adalah penjara. Mungkin karena aku tak mampu melihat sisi lain yang bisa aku syukuri, tapi juga mungkin karena memang terlalu mengerikan semuanya di sana."


Lirih Anisa.


"Hidup akan memiliki episode yang kita tidak sukai Nis, karena memang begitulah cara Allah menempa kita agar bisa tumbuh dan bisa lebih bijaksana."


"Tapi kenapa ada manusia yang terlihat selalu beruntung? Seperti salah satu temanku, sahabatku, aku melihat hidupnya yang serba sederhana tapi sangat bahagia Nu, ia mendapatkan apapun yang ia mau dalam bentuk kebahagiaan meski ia tak hidup dari keluarga yang penuh kemewahan seperti aku."


Ujar Anisa.


Wisnu menghela nafas,

__ADS_1


"Aku sering bertanya pada diriku, mungkin karena aku pendengki, hingga aku kadang sering iri padanya."


"Manusiawi, semua orang memiliki rasa itu, asal tak lantas terus diikuti, karena nanti akan merusak hatimu Anisa."


Kata Wisnu mengingatkan,


Anisa mengangguk.


"Nu..."


Panggil Anisa yang kini mengalihkan pandangan pada Wisnu,


"Ternyata harta paling berharga adalah kasih sayang Ibu, ya kan?"


Wisnu mengangguk,


"Tentu, Ibu adalah segalanya."


Kata Wisnu pula.


"Hampir semua anak yang ditinggalkan Ayah tapi masih bisa hidup dengan Ibu mereka jauh lebih bisa berbahagia daripada bersama ayahnya."


Kata Anisa.


Wisnu tersenyum,


"Tidak semua begitu Anisa, banyak juga yang bahagia bersama Ayahnya. Tapi jika kasih sayang seorang Ibu adalah harta yang paling berharga adalah benar adanya. Tentu Ibu yang benar-benar berkasih sayang, Ibu yang mampu menjadi madrasah untuk anak-anaknya juga."


Sambung Wisnu.


"Aku rindu Umi..."


Lirih Anisa akhirnya.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2