Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
172. Masih Pagi Yang Sama


__ADS_3

"Wah, maaf ya Is, aku tidak tahu kamu sakit, yo wis istirahat saja Is, nanti inshaAllah aku mampir kalau habis pulang nyekar makam orangtua Wisnu."


Kata Anisa di sambungan telfon.


Pagi ini, Anisa memang sengaja menelfon untuk meminta Iis menemaninya memilih baju pengantin, namun Iis tidak bisa karena sedang tidak enak badan.


"Aku yang harusnya minta maaf Nisa, aku sudah janji akan menemanimu, tapi malah begini."


Ujar Iis tak enak.


"Tidak apa Is, sakit dan sehat itu kan bukan sepenuhnya kekuasaan kita."


Kata Anisa.


"Iya Anisa, makasih ya udah ngerti, nanti kalau aku sudah sehat, kamu butuh ditemani apapun, inshaAllah aku siap Nisa."


"Oke Is."


Sahut Anisa.


Setelah itu mereka pun mengakhiri pembicaraan di telfon.


Iis menatap Ibunya yang tampak membuka tirai jendela kamar Iis, dan juga jendelanya dibuka sedikit agar ada pergantian udara.


"Ibu masakan bubur, masih ada abon, Ibu buatkan telor ceplok saja ya?"


Ibu berjalan menghampiri Iis, tampak Iis menganggukkan kepalanya.


"Tapi kalau Ibu lelah tidak usah Bu, lauk abon saja sudah cukup."


Kata Iis,


Ibu meraih hp yang ada di tangan Iis dan membantunya meletakkannya di atas meja lagi.


Iis ganti meneguk air hangat yang telah dicampurkan madu.


Setelah meneguknya sekitar tiga tegukan, Iis tampak berusaha untuk turun dari tempat tidur agar bisa meletakkan gelas minumannya di atas meja, tapi Ibu cepat meraih gelas dari tangan Iis.


"Wis kamu istirahat saja dulu, biar Ibu saja yang kerjakan semuanya. Oh, mau Ibu panggilkan ojek? Biar ke dokter saja?"


Tanya Ibu pula, Iis tampak menggeleng,


"Nanti sore saja Bu, biar Iis istirahat dulu saja, kalau belum mendingan baru nanti ke dokter."


Kata Iis.


Ibu mengusap kening putrinya, yang masih terasa panas karena demam.


"Ibu buatkan telur ceplok dulu biar perutnya diisi, nanti minum parasetamol dulu saja ya."

__ADS_1


"Nggih Bu."


Iis lantas berbaring lagi, setelah sebelumnya sempat duduk karena menerima telfon dan minum air hangat yang disiapkan Ibu.


Udara pagi yang sejuk terasa masuk ke dalam kamar, menggantikan udara semalam.


Semilir angin pagi membuat Iis terasa tenang, namun karena dingin akhirnya merapatkan selimut.


Ibu keluar dari kamar, dan berjalan menuju dapur.


Iis baru akan memejamkan mata, saat ia ingat belum ijin ke sekolahan karena hari ini tak bisa berangkat mengajar.


Tapi Iis merasa tubuhnya benar-benar tak karuan, akhirnya ia pun memilih menunggu Ibu saja nanti yang menghubungi pihak sekolahan.


Iis memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur karena matanya terasa panas hingga berair.


Mungkin ia sedikit kelelahan, hingga imun tubuhnya menurun, dan cuaca yang sedang tak menentu juga akhirnya menjadikan tubuhnya semakin mudah terserang flu.


**---------------**


"Lho Ajeng mau berangkat sekolah?"


Tanya Ridwan yang saat keluar dari kamar untuk bersiap berangkat mengajar melihat Ajeng juga keluar dari kamar sudah tampak rapi dengan seragam sekolah.


Keponakannya itu terlihat berjalan masih dengan sedikit pincang.


Jawab Ajeng.


Ridwan membantu Ajeng berjalan,


Mbak Wening keluar dari kamar dengan penampilan yang telah rapih juga.


"Dibilangin istirahat dua hari lagi tidak mau, ngeyel maunya tetap berangkat sekolah saja."


Kata Mbak Wening.


Ajeng tampak nyengir begitu Ridwan menatap wajahnya dan mengusap lembut kepala Ajeng.


"Banyak anak-anak yang ingin sekolah tapi tidak bisa sekolah, Ajeng bisa sekolah tidak boleh malas, begitu dulu kata Ibu Guru Iis."


Ujar Ajeng, membuat Mbak Wening langsung ber uhuk-uhuk menggoda Ridwan.


Dan tentu saja, Ridwan langsung jadi salah tingkah, karena ia juga jadi teringat tentang permintaan Ibunya Iis soal keinginannya menitipkan Iis kepada Ridwan.


Ya menitipkan, yang mestinya itu adalah perkataan halus dari permintaan agar Ridwan menjadikan Iis sebagai isteri.


"Jadi berangkat?"


Tiba-tiba Ibu muncul dari belakang, Ibu baru saja selesai menjemur nasi lebihan semalam dan juga nasi-nasi lebihan hari-hari sebelumnya.

__ADS_1


"Jadi Mbah, kan Ajeng rajin sekolah."


Kata Ajeng sambil tersenyum lebar dan penuh kebanggaan.


Ibu tampak balas tersenyum,


"Iya... Iya, kan Ajeng cucu kebanggaan Embah."


Kata Ibu seraya menghampiri Ajeng dan semuanya.


"Biar aku saja Mbak yang antar Ajeng."


Kata Ridwan kemudian, saat Ajeng menyalami tangan Mbah nya.


"Lho, kamu kan mau jemput Iis, sudah tidak apa-apa, Mbak akan antar pakai sepeda, sekalian ambil uang di warung depan rumah Pak Haji Syamsul."


Kata Mbak Wening,


"Paman berangkatnya dengan Bu Guru Iis?"


Tanya Ajeng sambil menatap wajah Pamannya, yang jelas langsung kebingungan, Mbak Wening yang melihat wajah Ridwan jadi seperti orang panik akhirnya tertawa geli.


Ridwan menatap kakaknya seolah ingin protes, tapi manalah ia berani, sementara ibunya ada di sana juga menatapnya dengan senyuman penuh arti.


Ah...


Ridwan yang melihat wajah Ibunya jadi terus terbayang wajah Ibunya Iis lagi.


Apakah harus ia bicarakan dengan Ibunya juga?


Meski sebetulnya tanpa membicarakannya dengan Ibu dan Mbak Wening pun, sejatinya Ridwan sudah tahu apa jawaban mereka untuk ini.


Ridwan akhirnya menyalami tangan Ibunya pula, karena harus pamit untuk segera berangkat.


"Bagaimana Mbak, berangkat saja sekalian sama..."


"Wis... Wis, sudah sana kamu berangkat saja, ini Mbak yang akan antar Ajeng."


Kata Mbak Wening.


"Kasihan Bu Guru Iis to wis nunggu."


Seloroh Mbak Wening lagi membuat Ridwan akhirnya tidak bisa menahan tawa.


"Aduh Mbak ini gosip terus, astaghfirullah..."


Kata Ridwan di sela tawanya.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2