Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
67. Pedas


__ADS_3

Seperti yang telah dijadwalkan oleh ketua Dewan Kemakmuran masjid Uswatun Hasanah bahwa malam ini selesai sholat Isya berjamaah maka mereka akan membahas pembentukan kegiatan untuk remaja di sekitar masjid, akhirnya Ridwan dan para jamaah berkumpul di teras masjid.


Dengan Ridwan sebagai pembicara utama untuk membuat para anak muda merasa tertarik, mereka membahas bagaimana kedepannya masjid bisa menjadi pusat tempat kajian ilmu dan juga tempat berkumpul anak muda guna melakukan banyak kegiatan yang positif.


Ridwan tampak bicara dengan sangat baik sebagai wakil generasi muda yang cerdas, sholeh dan peduli dengan kemajuan anak-anak muda di wilayahnya.


Ridwan tak lupa juga ingin melibatkan anak-anak muda nantinya ikut serta memajukan majelis dan yayasan yang akan segera di bangun gedungnya.


"Jadi kapan rencananya rumah tahfiz didirikan Mas Ridwan?"


Tanya salah seorang pemuda.


"inshaAllah akhir pekan ini, saya akan ke Jakarta dengan Pak Haji Imron, setelah semua surat ditandatangani, sepertinya pembangunan tak akan lama langsung bisa digarap."


Jawab Ridwan.


"Apa kami yang belum dapat pekerjaan bisa dan boleh ikut dilibatkan dalam projek ini Pak Haji?"


Tanya seorang pemuda lainnya pada Pak Haji Imron yang juga turut duduk dalam perkumpulan malam ini.


Pak Haji yang baik itu mengangguk seraya tersenyum,


"inshaAllah nanti saya akan minta banyak warga sendiri yang bekerja."


"Alhamdulillah."


Kata para yang hadir.


"Termasuk menggerakan UMKM di sekitar kita."


Kata Pak Haji Imron pula.


"Yang penting selain kita berfokus membangun daerah kita maju secara ekonomi, kita juga harus pastikan majelis kita para pemuda, anak-anak dan para orang tua berjalan dengan maksimal. Fungsi masjid juga bukan hanya sebagai tempat sholat saja, tapi juga kita jadikan tempat untuk pusat dakwah kita dan memperkuat umat."


Kata Ridwan.


"Banyak pemuda mengalami masalah yang akhirnya lari ke obat terlarang, atau pergaulan yang salah, kita rangkul dengan majelis ini. Kita sejatinya sebagai orang beragama adalah penting untuk belajar dan maju bersama-sama."


Kata Ridwan lagi.


Semua tampak mengangguk setuju.


Pembahasan mereka semakin lama semakin serius, termasuk juga tentang isyu sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari rumah Ridwan kabarnya ada perempuan yang tinggal satu rumah dengan laki-laki yang bukan mahramnya.


Pemilik kontrakan sendiri tidak mau tahu karena ia merasa bahwa penyewa asal sudah bayar uang sewa ya dia mau bawa masuk siapa saja itu hak dia.


Pihak RT maupun tokoh sekitar sudah sempat datang, tapi mereka masih saja tak mau dengar teguran dari sana sini.

__ADS_1


Baik pemilik kontrakan maupun pihak perempuan yang mengontrak sama-sama tidak perduli dengan yang disampaikan oleh mereka wakil para warga, maka di kesempatan itu mereka ingin Ridwan yang besok datang ke sana untuk memberikan teguran kembali, sebelum warga bertindak dengan cara memaksa mereka keluar dari sana.


Ridwan dan para hadirin tampak begitu serius membahas isu sosial tersebut, karena poin utamanya tentu adalah jelas orang-orang tidak mau di wilayah mereka ada pasangan yang terang-terangan tinggal satu rumah dalam ikatan yang tidak jelas.


Warga tidak ingin, wilayah mereka dijadikan tempat untuk tinggal orang yang berzina, karena selain itu pastinya akan jadi dosa besar untuk mereka yang membiarkan, pun juga mereka takut akan azab yang bisa diturunkan Allah Subhanahu wata'ala.


"Jadi bagaimana Mas Ridwan, besok apakah panjenengan bersedia mewakili kami semua lebih dulu memberikan teguran dan peringatan terkahir?"


Tanya ketua RT yang juga ikut hadir.


Ridwan tersenyum, ia sebetulnya bingung kenapa rasanya ia semakin hari mendapat amanah tanggungjawab yang semakin banyak dan berat.


Ridwan menghela nafas, ia baru akan menjawab pertanyaan ketua RT, saat tiba-tiba, sebuah mobil memasuki pelataran masjid Uswatun Hasanah.


Kedatangan mobil model lama yang kemudian diparkirkan di depan masjid itupun seketika menarik perhatian perhatian para jamaah, terlebih lagi Ridwan pastinya.


Ridwan tahu persis, jika mobil itu adalah mobil Pak Haji Syamsul.


Ridwan beberapa hari lalu tentu saja sempat melihatnya.


Semua berdiri, begitu Ridwan mengawali berdiri lebih dulu, termasuk pastinya Pak Haji Imron.


Dari mobil turun driver dari pintu depan mobil, ia lalu berjalan menuju masjid, ia tak berani naik ke teras masjid.


Driver itu memberi salam pada pak Haji Imron yang menyeruak ke depan dan memilih mewakili semua orang menghadapi tamu tak diundang yang sepertinya kurang bersahabat, terutama ketika Pak Haji Syamsul turun pula dari pintu belakang mobil.


"Mron, aku mau ketemu dengan Ridwan."


Kata Pak Haji Syamsul.


Pak Haji Imron berjalan mendekati Pak Haji Syamsul.


"Ada apa ini Pak Haji Syamsul?"


Tanya Pak Haji Imron yang menangkap ada masalah antara boss toko emas ini dengan Ridwan.


Tampak Ridwan berjalan ke depan, tapi cepat Pak Haji Imron menahan lengan Ridwan.


Pak Haji Syamsul melirik tangan Pak Haji Imron yang menahan lengan Ridwan.


Sudah jelas sekarang kenapa pemuda itu tampaknya percaya diri sekali sampai berani jatuh cinta pada Anisa.


"Anisa Larasati anakku, dia pasti dilarikan Ridwan ke satu tempat, aku ingin dia mengembalikan anakku."


Kata Pak Haji Syamsul tiba-tiba, yang tentu saja hal itu langsung mendapat reaksi heboh dari banyak orang.


Ridwan sendiri yang sejatinya tak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh Pak Haji Syamsul jadi kebingungan,

__ADS_1


"Kembalikan anakku! Aku tahu hanya kau yang mampu melakukan ini pada Anisa. Kau harusnya lebih tahu diri, berkaca dulu saat akan mencintai anak gadis, siapa anak itu, anak siapa dia, pantas atau tidak kamu untuk nya. Jangan malah sudah ketahuan apa niat busukmu malah jadi membawa kabur anak gadis orang."


Pak Haji Syamsul berkata tanpa peduli semua orang jadi melihat ke arah Ridwan dengan pandangan yang Ridwan sungguh tidak suka.


Ridwan akan menjawab, saat pak Haji Imron mendahuluinya,


"Atas dasar apa Pak Syamsul menuduh seperti itu?"


"Tentu saja tidak usah bukti, karena hanya dia yang pasti memiliki motif untuk menculik dan mengurung Anisa entah di mana."


Ujar Pak Haji Syamsul pula.


"Selama tidak ada bukti, anda melakukan fitnah keji Pak Haji Syamsul. Apa tidak malu anda sudah pernah pergi ke Mekkah tapi perilaku anda tidak mencerminkan anda pernah menjadi tamu Allah."


Tandas Pak Haji Imron.


"Lho, ini tidak ada hubungan dengan ibadah Mron, ini soal anakku yang tidak ada di rumah karena pasti dia yang membawa Anisa."


Pak Haji Syamsul bersikeras menuduh.


"Memangnya jam berapa anakmu hilang?"


Tanya pak Haji Imron,


"Siang, dia mulai tidak ada di rumah begitu siang."


Kata Pak Haji Syamsul.


Ridwan menghela nafas,


"Maaf Pak Haji, tuduhan ini tentu saja adalah sangat menyakitkan untuk saya. Jelas saya salah telah mencintai anak anda. Bukan karena status sosial anda yang membuat saya ingin dekat, atau juga sekarang saya ingin jauh, tapi karena semula saya benar-benar hanya peduli dengan sosok Anisanya."


"Anisa pergi dari rumah, saya bahkan baru dengar kali ini, demi Allah saya tidak tahu ke mana Anisa pergi."


"Lalu ke mana dia!!"


Pak Haji Syamsul suaranya begitu tinggi,


"Pak Haji, saya sarankan anda pergi ke tempat polisi saja agar mereka bisa bertindak cepat mencari Anisa."


Kata pak Haji Imron.


"Daripada anda membuat keributan dengan orang saya, lebih baik anda pergi saja."


Pak Haji Imron terlihat kesal karena semprotan Pak Haji Syamsul dinilai sangat tidak layak, dan pak Haji Imron juga merasa bahwa Pak Haji Syamsul ada unsur kesengajaan untuk mempermalukan Ridwan.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2