Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
72. Siapa Dia?


__ADS_3

Wisnu menatap Anisa dengan lembut, jauh di dalam hatinya, ia sungguh merasakan cinta yang tulus untuk gadis di depannya ini.


Jelas ini sulit dijabarkan, apalagi dijatengkan, dijatimkan, dan di jakartakan, pokoknya hanya Wisnu dan Tuhan yang tahu.


Ibarat kata, seperti lirik lagu Bank Element jaman othor masih belia, jika hanya cinta sejati yang bisa, memberi tanpa harus menerima, begitulah kira-kira cinta Wisnu kepada Anisa.


Ya...


Cinta yang tumbuh sejak kecil dulu manakala Wisnu melihat Anisa pertama kali sedang menangis di belakang rumahnya ketika keluarga Wisnu diundang ke rumah keluarga Anisa pada satu acara yang tak jauh dari hubungan bisnis mereka.


Ya, keluarga Wisnu yang notabene adalah pengusaha sekaligus pengrajin perhiasan, memang kerap membuat kerjasama dengan keluarga Anisa yang memiliki toko emas.


Toko emas keluarga Anisa butuh barang dagangan komplit, sementara keluarga Wisnu butuh perhiasan yang mereka produksi diluar pesanan bisa laku.


Jadilah dua keluarga ini saling berhubungan untuk saling menguntungkan satu sama lainnya.


"Aku tak akan memintamu membalas apapun Nisa."


Kata Wisnu lembut, selembut bulu kucing.


Anisa matanya berkaca-kaca, ia pun kini sulit menggambarkan perasaannya.


Sisi lain hatinya telah tertambat pada satu nama, namun di sisi lain lagi ia mulai merasa jika ia mulai bergantung dan nyaman atas kehadiran Wisnu.


"Kamu tahu persis perasaanku, tapi aku tak mau kamu merasa terintimidasi dengan perasaanku itu."


Kata Wisnu.


Anisa tampak menunduk.


"Aku ingin kehadiranku bisa menjadi berkah untukmu Nisa, setidaknya kamu dalam kesulitan tak merasa sendirian, tak perlu takut dan khawatir."


Kata Wisnu pula.


Anisa akhirnya tak kuasa menitikkan air mata, ia sungguh terharu dengan setiap kalimat yang diucapkan Wisnu.


Ah...


Andai Ridwan saat ini yang ada di sana, mungkinkah ia melakukan hal yang sama sebagaimana yang Wisnu lakukan saat ini?


Anisa kemudian menatap kalender yang ada di dinding ruangan di mana ia dan Wisnu duduk.


Anisa baru sadar ia sudah cukup lama bersembunyi di rumah Wisnu, dan ia juga sudah lama tak berkabar lagi dengan Iis.


Jika saat dulu Anisa menelfon Iis untuk memberitahu kepada Mbok Rat bahwa ia baik-baik saja, maka sekarang tiba-tiba Anisa terpikirkan Ridwan.


Apa Ridwan memikirkannya?


Apa Ridwan tahu jika Anisa pergi dari rumah, dan apa reaksinya?


Apa yang ia rasakan?


Apa yang ia pikirkan?


Khawatirkah ia pada keadaan Anisa?

__ADS_1


Apa dia berusaha menghubungi Anisa?


Apa dia mencoba mencari Anisa?


Banyak tanya dalam hati dan pikiran Anisa muncul kini tentang Ridwan atas dirinya.


"Aku akan pergi sebentar ke toko Nakula-Sadewa, mungkin aku akan ke sini lagi sore hari Nis."


Kata Wisnu seraya berdiri dan tentu saja langsung berhasil membuyarkan lamunan Anisa.


"Ooh.. Yah.. Yah Nu..."


Sahut Anisa gugup.


Wisnu tersenyum,


"Jangan telat makan, kalau merasa ingin ada yang kamu makan, bilang saja pada Si Mbok agar di masakkan."


Kata Wisnu pada Anisa.


"Ya Nu, terimakasih."


Sahut Anisa yang lantas ikut berdiri untuk mengantar kepergian Wisnu.


Anisa mengikuti Wisnu sampai pintu utama rumah, lalu melepas Wisnu yang menuju mobil tanpa mengucap kata apapun lagi.


Sepeninggal Wisnu, tampak Anisa kembali masuk untuk ke kamarnya.


Di ruang yang tadi ia duduk dengan Wisnu, tampak si Mbok sedang membenahi gelas minum Tuan mudanya.


Tanya si mbok.


Anisa tersenyum kecil,


"Seadanya saja Mbok, tidak apa-apa,"


Kata Anisa.


Si mbok tersenyum, lalu...


"Den Wisnu itu anaknya baik sekali, sejak kecil manut dengan Pak Dhe dan Bu Dhe nya. Saya yang merawat Den Wisnu dari masih balita, sampai sekarang rasanya masih saja sedih setiap melihatnya."


Kata Si Mbok sambil bersiap ke dapur,


Anisa yang mendengar Si Mbok macam cerita tapi tidak secara langsung kepadanya jadi penasaran.


"Wisnu... Maksudnya Wisnu..."


Si Mbok menghentikan langkah kakinya sejenak, ditatapnya Nona Muda yang ia tahu persis telah mengisi hati sang tuan muda sejak masih kecil dulu.


Si Mbok sering melihat gambar sketsa wajah Anisa di kertas-kertas yang ada di kamar Wisnu saat dulu masih sekolah dan tinggal di rumah lama.


Si Mbok menghela nafas,


"Mbak Nisa, sebetulnya saru si Mbok bicara ini, tapi percayalah, Den Wisnu itu laki-laki yang sangat baik, dan penyayang. Jika kelak Mbak Nisa berjodoh dengannya, inshaAllah Mbak Nisa tidak akan menyesal dan dapat berbahagia."

__ADS_1


Kata Si Mbok.


"Saya tidak ingin menikah karena Wisnu anak orang kaya,"


Lirih Anisa yang lantas memilih duduk di salah satu kursi kayu dekat meja telfon rumah di mana di sisinya juga terdapat guci besar.


"Jika saya harus menikah, itu jelas karena memang kami berniat hidup bersama, tak ada embel-embel lain."


Kata Anisa lagi.


Si Mbok tampak tersenyum,


"Mbak Nisa anak Pak Haji Syamsul, jika kemudian menikah dengan Den Wisnu, tak akan ada yang merasa Mbak Nisa menikah dengan Den Wisnu karena harta. Kecuali anak si Mbok yang menikah dengan Den Wisnu, bisa saja tuduhan itu akan ada."


Si Mbok terkekeh,


"Sebaiknya Mbak Nisa mulai mengenali Den Wisnu dengan lebih baik lagi, biar tidak menyesal di kemudian hari telah menyia-nyiakan laki-laki sebaik dia."


Setelah mengatakannya, Si Mbok permisi untuk ke dapur.


Anisa yang duduk di kursi ruangan itu sendirian akhirnya hanya mampu terdiam dan tenggelam dalam ruwet pikirannya sendiri.


Wisnu manut dengan Bu Dhe dan Pak Dhe nya?


Si Mbok merawat Wisnu sejak balita?


Apa sebetulnya maksud dari si Mbok?


Ada rahasia apa sebetulnya pada diri Wisnu yang Anisa tidak ketahui.


Anisa berdiri dari duduknya, ia ingin menyusul si mbok ke dapur untuk menanyakan perihal kata-kata si mbok yang seolah ingin menjelaskan sosok dan posisi Wisnu.


Tapi...


Anisa tiba-tiba matanya tanpa sengaja melihat ke arah meja kayu panjang di dekat jendela besar yang agak jauh dari tempat Anisa biasa bolak-balik lewat.


Ada yang menarik perhatian Anisa,


Ya, tentu... Apalagi jika bukan semua ornamen yang ada di atas meja kayu panjang itu.


Anisa mendekati meja tersebut, di mana di sana kini tampak beberapa bingkai foto lama yang menunjukkan foto Bibi Sundari dengan perempuan persis dirinya.


Anisa mengambil salah satu bingkai foto itu, foto di mana dua perempuan yang hampir persis wajahnya itu duduk di area sekolah dengan seragam abu-abu putih.


Keduanya berambut panjang, hanya yang satu terlihat sedikit ikal.


Siapa perempuan ini? Batin Anisa.


Kenapa begitu mirip dengan Bibi Sundari?


Mungkinkah mereka...


Kembar.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2