
"Assalamualaikum..."
Mbak Wening mengucap salam sambil masuk rumah, Ibu yang ada di dalam rumah sedang sibuk membuat bumbu untuk emping melinjo terang saja kaget mendengar suara Mbak Wening sudah pulang.
"Waalaikumsalam..."
Jawab Ibu yang belum sempat beranjak dari duduknya di lesehan tikar di lantai dapur sudah melihat Mbak Wening masuk dapur.
Mbak Wening tampak menangis, ia menghambur ke arah Ibunya dan memeluk sang Ibu yang tentu saja semakin bingung.
"Ada apa to Ning? Ada apa?"
Ibu mengusap-usap punggung Mbak Wening agar Mbak Wening bisa lebih tenang.
"Ya Allah, Ibu... Sakit, terlalu sakit hati ini, kenapa kita ditakdirkan menjadi orang miskin?"
Kata Mbak Wening di sela Isak tangisnya yang sangat dalam.
"Ning... Minum dulu biar tenang, minum dulu..."
Kata Ibu seraya melepas pelukan Mbak Wening,
"Istighfar... Istighfar..."
Kata Ibu lagi, yang tangannya kemudian menjangkau gelas minum miliknya dan kemudian memberikannya pada Mbak Wening.
Mbak Wening menerimanya lalu meneguknya sambil masih bercucuran air mata.
Setelah minum, lalu beristighfar beberapa kali, Mbak Wening yang kemudian merasa lebih baik tampak duduk di depan Ibu.
"Bu..."
Lirih Mbak Wening,
"Iyo, kenapa?"
Tanya Ibu dengan nada suara halus,
Mbak Wening menyeka air matanya yang ada di pipi,
"Bu, sungguh ini sangat menyakitkan Bu, pagi ini keluarga Pak Haji Syamsul telah memberikan penghinaan yang begitu besar kepada keluarga kita dan juga kepada pesantren."
Kata Mbak Wening,
__ADS_1
"Kenapa? Menghina apa?"
Tanya Ibu yang tidak mengerti maksud dari apa yang dikatakan Mbak Wening.
"Itu Bu, Ridwan."
Mbak Wening lantas mengambil kertas surat Ridwan untuk Anisa di saat keduanya masih sama-sama belia.
"Apa ini?"
Tanya Ibu pula, ketika Mbak Wening mengulurkan kertas tersebut kepada Ibu.
"Surat cinta Ridwan kepada Anisa, dulu Bu, saat Ridwan dan Anisa masih baru lulus SMP, saat Ridwan baru akan masuk pesantren."
Kata Mbak Wening,
Ibu lantas menatap kertas di tangannya, goresan tangan Ridwan yang rapi terlihat di sana, tulisan rapi yang tentu saja untuk mengungkapkan perasaannya kepada Anisa Larasati.
"Mbak Faizah dan Pak Haji Syamsul menuduh Wening masuk ke rumah mereka untuk bekerja karena ada tujuan lain Bu, tujuan membantu Ridwan agar bisa dekat dengan Anisa dan kelak saat mereka bisa menikah, Ridwan akan ikut menikmati warisan Anisa, yang otomatis Wening juga bisa ikut menikmati."
"Astaghfirullah... Astaghfirullah..."
Ibu yang mendengar langsung lemas,
Mbak Wening mengelus dadanya yang terasa masih sakit.
"Bagaimana bisa seorang Haji berkata sejahat itu? Astaghfirullah..."
Ibu ikut menitikkan air mata, hatinya begitu nelangsa mendengar apa yang dituturkan Mbak Wening.
"Wening tadi langsung membela Ridwan dan tentu saja membela kesucian serta nama baik pesantren Bu. Memangnya apa yang bisa dilakukan Pak Haji untuk umat dan agama kita? Dibanding orang-orang pesantren sudah jelas Pak Haji Syamsul itu tidak ada apa-apanya."
Ibu menganggukkan kepalanya.
"Pak Haji Syamsul itu sama Hajinya dengan Pak Haji Imron, tapi macam bumi dan langit. Mereka benar-benar berbeda dari sifat, tutur kata dan sebagainya."
Kata Mbak Wening begitu emosi,
Ibu terlihat ikut menangis membayangkan Ridwan dihina-hina seolah anaknya itu adalah laki-laki tanpa masa depan.
"Wening resmi mengundurkan diri hari ini Bu. Wening tidak akan pernah mau bekerja dengan orang-orang sombong seperti mereka. Bagaimana bisa? Orang-orang sombong seperti itu hidup di atas bumi Allah?"
"Ya Ning, keputusanmu sudah tepat, tidak usah diteruskan bekerja pada orang-orang yang kepada orang yang miskin berlaku sombong, apalagi juga kepada para pejuang agama dia juga sombong, itu sudah jelas tidak boleh kita temani. Masih lebih baik kita bergaul dengan orang beda agama tapi ia baik dan menghormati agama kita, daripada dengan orang sesama muslim yang justeru tidak mencintai agamanya dengan baik."
__ADS_1
Kata Ibu.
Mbak Wening mengangguk,
"Menghina sekali mereka menganggap orang Pesantren itu pasti tidak punya masa depan, tidak akan bekerja di tempat yang bisa membuat mereka sukses, apa mereka tidak berpikir bahwa wakil presiden kita saja orang santri? Astaghfirullah... Wening benci sekali pada Mbak Faizah dan Pak Haji Syamsul Bu."
Ujar Mbak Wening.
"Wis... Biar saja Ning, biar saja mereka tenggelam dalam kesombongan mereka, jika Allah menyayangi mereka, pasti akan ada kejadian yang bisa membuat mereka bisa memperoleh hidayah, tapi jika Allah biarkan mereka tetap dalam kesombongan, yakinlah bahwa setiap apa yang mereka katakan hari ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat."
Kata Ibu.
Mbak Wening mengangguk.
"Ridwan pulang jam berapa ya Bu, rasanya sudah tidak sabar aku bertemu dengan anak itu, agar bisa melarangnya mencintai Anisa lagi. Lebih baik cari perempuan lain saja, tidak sanggup Wening jika harus melihat Ridwan nantinya dihina-hina Bu."
Ibu menganggukkan kepalanya,
"Ya Ibu juga tentu tak akan ijinkan, lebih baik cari perempuan yang sepadan dengan kita, yang sederhana, supaya biasa hidup prihatin, hidup seadanya, tidak bingung jika harus hidup seperti Ridwan yang tak bisa berlebihan."
"Nggih Bu, leres."
Kata Mbak Wening.
Ibu menghela nafas, hatinya yang bagai tersayat-sayat sembilu rasanya ingin sekali mendorong mulutnya untuk mengucap sumpah sarapah.
Tapi, iman dalam hati Ibu sepertinya memang telah mengakar dengan baik, hingga ia tetap tak bisa mengeluarkan sumpah sarapahnya meskipun ia ingin dan ia bisa.
Mbak Wening lantas pamit untuk pergi ke kamar mandi, ia ingin mengajak tubuhnya mandi lagi saja, meredakan emosi yang masih tersisa.
"Ya, pergilah mandi, dan ambilah wudhu, itu akan membuat syetan akan pergi dan berhenti membuat kita ingin mengucap sumpah sarapah. Percayalah Wening, jika tanpa itupun Allah sudah mencatat setiap gerak sikap dan pitutur para hamba Nya."
Kata Ibu pula.
Mbak Wening mengangguk.
"Ya Ibu, Wening juga tidak sampai mengucap sumpah sarapah tadi, meskipun aslinya Wening ingin sekali."
"Alih-alih menyumpahi mereka, lebih baik kita doakan saja agar Ridwan nantinya dapat jodoh perempuan yang sholihah, yang baik, dan bisa menerima Ridwan apa adanya, begitu juga keluarnya si perempuan."
"Nggih Bu, inshaAllah pasti Wening selalu berdoa yang terbaik untuk Ridwan. Bahkan Wening akan mendoakan Ridwan bisa sukses Bu, pokoknya biar Ridwan bisa membuat orang seperti Pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah yang merendahkan para lulusan pesantren jadi tidak asal bicara lagi."
Kata Mbak Wening.
__ADS_1
**------------**