
"Wan, itu di pondok kan sekarang ada pengajian kalau malam untuk orang umum, kamu ndak ingin hadir?"
Tanya Mbak Wening sambil memasang kancing seragam sekolah Ajeng yang lepas.
Mereka duduk di bale-bale depan rumah selepas sholat Isya.
"Kalau malas jalan, pakai sepeda Mbak Wening, berangkatnya bareng anak-anak sini, banyak kok yang pada suka hadir pengajian di pondok."
Kata mbak Wening lagi.
Sayup semilir angin malam terasa bertiup dari arah sawah yang membentang luas di sebrang rumah Ridwan.
Suara serangga-serangga malam terdengar sayup-sayup terbawa angin, seolah bersahut-sahutan dengan suara kodok.
"Ya mbak, nanti Ridwan akan coba hadir."
Kata Ridwan.
Mbak Wening mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu berarti kapan mulai resmi mengajar Wan?"
Tanya Mbak Wening.
"Insha Allah awal pekan depan mbak."
Jawab Ridwan.
Mbak Wening meletakkan seragam Ajeng yang sudah selesai dipasangi kancing baru.
"Akhirnya cita-citamu sebentar lagi tercapai Wan, menjadi guru."
Kata mbak Wening.
"Enggih mbak, Alhamdulillah."
Ridwan tersenyum sambil mengangguk.
"Wan..."
Panggil mbak Wening.
"Menurut kamu, Bu Guru Iis bagaimana?"
Tanya Mbak Wening,
"Bagaimana apanya Mbak?"
Ridwan memandang Mbak Wening, yang dari senyumannya Ridwan memahami maksud pertanyaan Mbak Wening tiba-tiba membahas soal Bu Guru Istikomah.
Ridwan lantas menatap hamparan sawah yang ada di seberang sana.
"Baik, dia sosok yang baik dan mengagumkan."
Jawab Ridwan.
__ADS_1
Mbak Wening mantuk-mantuk setuju,
"Sepertinya, jika dijadikan isteri, dia juga akan jadi isteri yang solihah, ya kan Wan?"
Ditanya begitu Ridwan mengangguk tenang,
"Pasti laki-laki yang menikahinya akan sangat beruntung."
Kata Ridwan akhirnya.
Mbak Wening menghela nafas.
"Semoga laki-laki yang beruntung itu kelak adalah kamu Wan."
Ujar Mbak Wening.
Ridwan mendengarnya jadi tertawa kecil.
"Mbak Wening ini, kenapa malah jadi membahas Bu Guru Iis."
Kata Ridwan.
"Ya kan kamu sudah jadi pak Guru sebentar lagi, bahkan juga akan jadi ustadz di wilayah kita, rasanya jika sudah demikian, tak akan lama lagi kamu sudah bisa memikirkan pernikahan juga wan, dan tentunya untuk menjadi pendampingmu kan baiknya adalah perempuan seperti Bu Guru Iis, sosok yang baik, sederhana dan juga sama sepertimu menjadi seorang pengajar."
Ridwan yang mendengar kata-kata Mbak Wening kembali tertawa kecil.
"Mbak, sepertinya untuk memikirkan pernikahan aku masih belum, rasanya aku ingin sukses dulu, aku ingin membahagiakan Ibu dulu, dan Mbak Wening serta Ajeng juga pastinya. Prioritas utamaku adalah kalian untuk saat ini, belum sampai memikirkan pernikahan."
"Tapi suatu hari kamu tetap harus memikirkannya Wan."
"Tentu Mbak, salah satu mimpiku jelas memiliki rumah tangga yang sakinah, mawadah, warrohmah. Di mana di sana aku akan memiliki isteri yang solihah dan juga anak-anak yang juga soleh."
"Namun, untuk meraih semua itu, aku sebagai laki-laki tentu saja harus siap semuanya Mbak, harus siap mental, siap finansial, siap tanggungjawab, siap ilmu. Meskipun memang, Allah sudah menjanjikan kecukupan untuk kita manusia yang mau menikah, tapi tidak serta merta kita manusia tidak berusaha menyiapkan diri."
Mbak Wening tampak menganggukkan kepalanya,
"Paling tidak aku harus memastikan diri dulu, jika aku memang sudah mampu memberikan sandang pangan papan untuk isteri, karena itu kebutuhan dia yang utama dan tak bisa ditunda. Meskipun, standarnya tidak harus sandang adalah pakaian bermerk mahal, pangan juga tak harus lauk daging setiap hari, atau papan adalah rumah sendiri."
Mbak Wening mengangguk setuju, sebagai perempuan, ia memang sangat merasakan beratnya berumah tangga manakala benar-benar suami berangkat dari nol.
Saat urusan makan saja, orangtua yang harus memikirkan, itu sangat tidak nyaman.
Nyatanya rumahtangga bukan hanya sekedar membuat sebuah hubungan menjadi halal dan bisa berhubungan badan tanpa takut dosa lagi.
Rumahtangga juga butuh pondasi yang kuat, dan laki-laki adalah kunci utamanya, karena ia yang akan menjadi imam dalam keluarga tersebut.
"Jika seorang laki-laki belum mampu, namun ia sudah memiliki keinginan pada seorang perempuan, maka agama kita memberikan solusi dengan berpuasa. Menurutku, daripada menikah hanya untuk urusan tempat tidur, lebih baik ditunda dan berpuasa saja."
Kata Ridwan.
"Bagaimanapun, yang kita nikahi anak gadis seorang Ayah yang sejak gadis itu kecil berjuang dengan sepenuh jiwa memenuhi kebutuhan anaknya, jadi menurutku, saat kita tidak bisa memenuhi kebutuhan isteri sebagaimana dulu ia masih gadis, kita adalah laki-laki yang mengkhianati kepercayaan Ayah isteri kita."
"Ya, memang kamu benar Wan, bahwa berat untuk perempuan saat menikah tapi suaminya belum sungguh-sungguh menyiapkan semuanya."
Kata Mbak Wening.
__ADS_1
Ridwan tersenyum.
"Dosa sih tidak menikah belum mapan, tapi ya alangkah lebih baik bukan, jika kita laki-laki menyiapkan semuanya sebaik mungkin, itu kalau memang ingin membangun rumah tangga yang berkualitas."
"Ya pokoknya Mbak sebagai kakak hanya bisa bantu doa saja Wan."
Kata Mbak Wening, .
"Aku memiliki banyak sekali impian, rasanya aku ingin benar-benar bisa mewujudkan semuanya Mbak, bahkan merenovasi rumah ini, aku ingin sekali bisa Mbak."
Kata Ridwan yang melihat lantai teras rumahnya yang sebetulnya sudah harus disemen ulang.
Belum lagi memikirkan banyak kayu atap rumah yang sudah banyak keropos dan harus segera diganti.
Ah pokoknya sangat banyak mimpi Ridwan yang harus diperjuangkan.
"Bu... Ibu..."
Tiba-tiba terdengar suara Ajeng dari dalam, dan tak lama kemudian Ajeng, gadis kecil itu melongok dari arah pintu.
"Ibu, Ajeng ngantuk."
Kata Ajeng manja.
Ajeng, anak itu memang kadang masih seperti bayi, yang bila tidur harus ditemani Ibunya..
Mbak Wening akhirnya berdiri dari duduknya,
"Iya, ini Ibu juga mau istirahat, kamu tidak istirahat Wan?"
Tanya Mbak Wening pada Ridwan.
"Nggih Mbak, nanti sebentar lagi."
Jawan Ridwan.
"Paman bubu to Paman, sudah malam, nanti masuk angin."
Kata Ajeng.
Ridwan terkekeh mendengar keponakannya bicara yang sambil matanya sudah mengantuk berat.
Mbak Wening melangkah menuju pintu dan merangkul Ajeng masuk,
Ridwan menghela nafas, langit malam ini terlihat cukup sepi dengan hiasan sabit kecil dan juga beberapa bintang saja.
Sepertinya hujan memang akan turun lagi malam ini, mungkin tengah malam, atau mungkin juga dini hari nanti.
Ridwan tiba-tiba teringat sosok Anisa, gadis cantik itu, yang telah mencuri hatinya bertahun-tahun lamanya.
Ya, tentu saja, apalagi jika perempuan yang ingin Ridwan nikahi adalah anak seorang Ayah yang kaya, paling tidak Ridwan tentu harus memberikan kenyamanan yang minimal, bisa mendekati apa yang biasa perempuan itu nikmati di rumahnya semasa muda.
Ridwan terus menatap langit malam itu dalam kesendiriannya sekarang, dan...
"Anisa, kapankah kita akan kembali dipertemukan?"
__ADS_1
Muncul tanya itu dalam benak Ridwan, yang disusul kemudian senyuman Ridwan yang khas.
**--------------**