Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
137. Calon Ibu Pilihan


__ADS_3

"Haduh, sudah... sudah... ini Mbok sama anak suka sekali iseng sama orang."


Ibunya Ridwan jadi tidak enak melihat Bu Guru Iis yang jadi kelimpungan karena salah tingkah.


"Tidak apa Bu, tidak apa..."


Kata Bu Guru Iis sambil kemudian berdiri untuk meletakkan gelas minum di meja, namun Ridwan cepat mengambil alih gelas di tangan Iis.


"Sudah, biar saya saja Bu."


Kata Ridwan perhatian,


Tentu saja Mbak Wening tambah-tambah iseng pula,


"Ehm... Ehm..."


Yang kemudian langsung kena tabok Ibunya.


Pok!!


"Aduh, sakit Bu,"


Kata Mbak Wening yang kena tabok Ibu di lengannya.


"Wong kamu ini, moso yo Bu Guru di ledeki, tidak sopan."


Ibu memarahi Mbak Wening.


Mbak Wening jadi tertawa,


Ridwan sendiri yang jadi tak bisa tahan diledekin Mbak Wening terus akhirnya memilih keluar dari kamar.


"Tek ke belakang dulu saja."


Kata Ridwan.


"Maaf nggih Bu Guru, memang ini si Mamanya Ajeng beda sama adiknya, kalau adiknya itu si Ridwan pendiam sekali, kalau ini dari bayi sudah petakilan."


Ujar Ibu jadi tidak enak pada Iis.


Iis yang berdiri di sisi tempat tidur Ajeng tampak tertawa kecil, membayangkan ada bayi petakilan, tentu saja itu sangat aneh.


"Mana ada bayi petakilan Bu."


Mbak Wening protes,


"Lho, wong Ibu yang lihat kamu seperti apa dari kecil kok."


Kata Ibu sambil terkekeh,


"Cerita to Mbah, dulu Ibu nakal sekali yo Mbah?"


Ajeng nimbrung, membuat si mbah nya makin terkekeh.


"Ajeng... awas Ibu tidak belikan sate nanti sore."


Kata Ibu.


"Nanti Paman bisa belikan Bu, tidak apa-apa, hihihi..."


Ajeng iseng pula, yang tentu saja membuat si Mbah nya dan Bu Guru Iis jadi tertawa.

__ADS_1


Sampai akhirnya, sekitar jam setengah sembilan pagi, Iis pamit dari rumah Ridwan, sementara Ridwan sendiri sudah pamit lebih dulu untuk berangkat ke sekolahan karena Ridwan ada jadwal mengajar di jam kedua di kelas tiga.


"Ajeng cepat sembuh ya."


Kata Iis sambil mengelus kepala Ajeng.


"Nggih Bu Guru."


Jawab Ajeng sembari minta salim dan mencium tangannya.


Iis lantas diantar Mbak Wening dan Ibunya Ridwan sampai ke depan rumah,


"Salam untuk Ibunya Bu Guru."


Kata Mbak Wening,


"Oh nggih Mama Ajeng, inshaAllah nanti saya sampaikan."


Kata Iis.


"Ibunya Bu Guru Iis ini baik sekali lho Bu, kalau aku datang itu selalu dijamu dengan ramah, meski pertama kenal aku masih jadi pembantu di rumah Pak Haji Syamsul, tapi Ibunya Bu Guru Iis ini sama sekali tidak membeda-bedakan."


Ujar Mbak Wening pada Ibunya.


Ibu pun mantuk-mantuk, sementara Iis tampak tersenyum,


"Siapapun yang datang ke rumah kita kan adalah tamu Mama Ajeng, dan memuliakan tamu itu sudah di contohkan sejak Nabi Ibrohim Alaihis Salam, di budaya kita juga begitu, jadi sebetulnya nggih siapa saja memang harusnya melakukan hal yang sama."


Kata Iis membuat Ibu tersenyum mendengarnya. Sudah jelas dari jawaban yang dilontarkan oleh Iis, bahwa memang keluarga Iis adalah keluarga yang mempraktekan sekali ajaran agama dan sekaligus juga unggah-ungguh orang tua jaman dulu.


Dan dengan demikian, jelaslah memang bahwa Iis sungguh gadis yang tumbuh di dalam keluarga yang baik.


"Semoga nanti Ibu bisa kenal dengan Ibunya Bu Guru Iis."


Iis yang semula akan menyalami Ibunya Ridwan jadi terkesiap, apalagi ditambah Mbak Wening yang mulai iseng lagi menambahkan,


"Hayuk Bu kenalan, sopo ngerti jadi besanan."


Ibu yang mendengar Mbak Wening terus usaha jadi tak tahan tertawa juga,


"Ya Allah, kamu ini kenapa to Ning, ini lho Bu Guru Iis cantik begini yo mesti sudah ada yang punya, kok di jodoh-jodohkan dengan Ridwan terus."


Ibu geleng-geleng kepala,


"Lah iya to Bu?"


Mbak Wening makin menjadi-jadi, membuat Ibunya terpaksa menabok lengannya lagi,


Iis yang juga tak bisa menahan tawa lagi jadi memilih pamit dan segera berjalan ke motornya,


"Maaf Bu Guru nggih, jangan kapok main ke sini, lha wong begitu kelakuan Wening memang."


Ibunya Ridwan meskipun masih terasa geli perutnya karena tingkah Mbak Wening jadi terpaksa menahannya agar bisa bicara dengan Iis.


"Mboten nopo-nopo Bu, saestu."


Kata Iis.


**------------**


Ridwan baru selesai mengajar di kelas tiga dan akan menuju ruang Guru saat berpapasan dengan Mas Trisno dan seorang laki-laki muda yang akan menuju kantin.

__ADS_1


"Katanya nanti Bu Guru Iis sebentar lagi datang, lagi mampir ke Bank dulu."


Terdengar Mas Trisno bicara pada laki-laki muda tersebut,


Ridwan tampak mengangguk pada Mas Trisno dan laki-laki muda itu dengan santun, yang kemudian diikuti pula oleh Mas Trisno dan si laki-laki muda.


Mereka lantas saling meneruskan langkah mereka ke tujuan masing-masing.


Ridwan ke ruangan Guru, sedangkan Mas Trisno dan si laki-laki muda itu menuju kantin.


Tapi...


Apa ini?


Ridwan sejenak merasakan hatinya sedikit tidak enak, ada perasaan aneh yang muncul tiba-tiba manakala mendengar tanpa sengaja Mas Trisno membicarakan soal Bu Guru Iis dengan laki-laki muda yang bersamanya.


Laki-laki muda yang sepertinya seorang pegawai kecamatan itu terlihat cukup tampan, apa mungkin dia calon suami Bu Guru Iis?


Batin Ridwan bertanya-tanya.


Ridwan yang meski melanjutkan langkahnya ke ruang Guru, tapi pikirannya malah sibuk memikirkan kemungkinan hubungan si laki-laki tadi dengan Iis jadi tidak sadar kelewatan pintu ruang Guru.


Tepat ketika Pak Hasan keluar ruang Guru karena akan mengajar di kelas empat.


"Lho Pak, panjenengan mau ke mana?"


Tanya Pak Hasan dengan suaranya yang memang cukup keras suaranya.


Mendengar suara Pak Hasan, baru Ridwan kemudian tersadar.


Cepat ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang,


"Astaghfirullah,"


Ucap Ridwan menyadari ia melamun sampai jalan melewati pintu ruang Guru tanpa sadar.


Pak Hasan geleng-geleng kepala,


Ridwan pun akhirnya berbalik dan berjalan lagi ke arah pintu ruang Guru.


"Ojo melamun Pak, nanti kesurupan."


Kata Pak Hasan,


Ridwan hanya bisa nyengir mendengarnya, karena tentu saja ia malu sekali.


Pak Hasan lantas berjalan meninggalkan ruang Guru menuju kelas yang ia dapat jam pelajarannya.


Ridwan sendiri masuk ke dalam ruang Guru yang sepi.


"Assalamualaikum..."


Ridwan tetap mengucap salam.


Sebuah bangunan nyatanya bukan hanya manusia yang menempati.


Ridwan menuju mejanya yang bersebelahan dengan meja Iis, meja sosok perempuan yang Ridwan jujur kagum sekali dengannya, dan semakin hari rasanya semakin kagum atas kepribadiannya.


Ridwan ingat bagaimana Iis memperlakukan anak-anak didiknya selama Ridwan mengenalnya, dan juga perlakuan Iis pada keponakannya si Ajeng yang benar-benar begitu telaten dan sabar.


Sungguh, perempuan itu sosok yang terlihat sekali adalah sosok yang penuh kasih sayang. Sosok yang bisa menjadi calon Ibu yang baik.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2