
"Bu, Iis ke bank dulu ya."
Kata Iis sambil menghampiri Ibunya yang seperti biasa mulai menyibukkan diri membuat sulaman.
Ibunya Iis, memang memiliki hobi menyulam, ada bahkan ibu-ibu yang satu pengajian yang sampai memesan.
"Lho, tidak berangkat ngajar?"
Tanya Ibu saat Iis menyalami tangannya,
"Ngajar nanti jam terakhir kelas enam. Jadi ini mau ke bank dulu, mau ambil uang untuk bayar motor saudaranya Mas Trisno."
Kata Iis.
"Ooh yang kata kamu mau beli motor lagi? Jadi?"
Tanya Ibu,
Iis tampak mengangguk.
"Ambil uang tabungan Ibu saja, kan uang tinggalan Bapak masih itu belum pernah terpakai."
Ujar Ibu, tapi Iis segera menggeleng,
"Tidak usah Bu, pakai tabungan Iis sendiri saja, ada kok Bu, jangan khawatir."
Kata Iis.
Ibu menghela nafas,
"Kamu ini,"
Ibu tersenyum,
Benar-benar Iis ini sudah macam mahluk langka di jaman sekarang, yang sebagai anak sangat nrimonan, dan sebagai seorang gadis juga ia sangat mandiri dan sama sekali tidak manja.
"Pamit nggih Bu,"
Kata Iis lagi, Ibu pun mengangguk,
Iis lantas beranjak keluar rumah, memakai helm nya, dan naik ke motor lamanya.
Hari ini akan jadi hari terakhir ia bersama motor yang pertama kali dulu ia beli tersebut, karena sudah berulangkali mogok, walhasil Iis memutuskan untuk membeli motor lagi saja, nanti yang lama akan ia jual.
Iis melajukan motornya meninggalkan pelataran rumah, karena ia akan ke bank lebih dulu, maka ia memutuskan untuk lewat jalan yang melewati rumah Ridwan, karena dari sana Bank tempat ia menabung lebih dekat.
Sekitar lima menit berkendara, ketika di tikungan yang sebentar lagi akan sampai di rumah Ridwan, di mana kanan kiri jalanan tersebut hanyalah hamparan sawah, tampak seorang anak perempuan tampak sedang susah payah naik ke jalan dari parit.
__ADS_1
Iis yang begitu dekat langsung mengenali jika anak perempuan itu adalah Ajeng tentu saja langsung menghentikan motornya.
Sepeda Ajeng masih nyangkut di semak dekat parit, sementara seragam Ajeng terlihat kotor dan sebagian roknya bahkan basah, termasuk tas dan sepatu.
Ajeng meringis-ringis karena lengannya terkilir, dan siku serta kakinya lecet.
Meski tidak menangis, tapi kelihatan sekali Ajeng kesakitan.
"Kenapa Ajeng jatuh?"
Tanya Iis yang langsung sigap menolong.
Dikeluarkannya sapu tangan miliknya untuk membersihkan bagian pakaian Ajeng yang kotor.
Setelah itu, Iis dengan hati-hati bergerak sedikit turun untuk menjangkau sepeda Ajeng.
Tapi, karena posisinya memang nyangkut di semak-semak, maka Iis pun tak bisa dengan mudah menarik naik sepeda Ajeng.
Untungnya, ketika Iis benar-benar dalam kesulitan, dua orang laki-laki yang sepertinya baru pamen buah nangka dari kebun dan sekaligus juga mencari rumput untuk ternak tampak lewat,
"Nopo Bu Guru?"
Tanya keduanya nyaris bersamaan.
Iis pun dengan kembali susah payah naik ke atas jalan lagi dan berdiri di samping Ajeng.
Kata Iis.
Dua orang laki-laki itu melongok sebentar dan langsung bisa melihat sepeda Ajeng yang memang terlihat nyangkut.
"Adik ini jatuh?"
Tanya salah satu laki-laki yang menurunkan rumput-rumput untuk ternaknya.
Iis mengelus rambut kepala Ajeng yang tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
Laki-laki yang tadi menurunkan rumput kini mencoba menggapai sepeda Ajeng, sementara laki-laki satunya lagi, turun ke bawah untuk mengeluarkan sepeda dari semak-semak lalu mendorongnya dari bawah.
Iis baru akan bicara lagi, saat tiba-tiba ada suara motor yang mendekat dari arah belakang Iis dan Ajeng berdiri.
Dan saat Iis serta Ajeng menoleh ke belakang, tampaklah kemudian Ridwan yang ternyata ada di sana.
Ajeng langsung tampak senang karena Pamannya datang, sedangkan Ridwan yang melihat penampakan Ajeng begitu berantakan tentu saja langsung panik.
"Ada apa Ajeng?"
Tanya Ridwan turun dari motornya dan langsung menghampiri sang keponakan.
__ADS_1
Tak lupa, Ridwan juga menatap Iis, sebelum kemudian memandang ke arah dua laki-laki yang tengah berusaha mengeluarkan sepeda Ajeng dari semak-semak.
"Ati-ati Pak, di semak begitu suka ada ular."
Kata Ridwan mengingatkan, sesuatu yang semula ingin Iis sampaikan,
Ya Iis juga sudah ingin wanti-wanti soal ular yang kadang banyak di semak-semak.
Takutnya, bukan sepedanya didapat, malah patokan ular yang didapat.
"Ajeng tadi ngebut soalnya ditinggal teman-teman, takut kesiangan, terus pas ditikungan Ajeng tiba-tiba sepedanya kebablas Paman."
Kata Ajeng,
"Astaghfirullah, Ajeng, kalau kesiangan langsung bilang Paman supaya diantar saja berangkatnya."
Ridwan geleng-geleng kepala.
"Hari ini ijin dulu saja, nanti biat lukanya dibersihkan dan diobati dulu."
Ujar Iis.
Ajeng menatap Iis, lalu mengangguk.
"Ayuk Ibu antar pulang, nanti sepedanya Paman saja yang bawa, ya kan Paman?"
Iis pada Ridwan sambil mengulum senyum.
Ridwan yang jelas tak mungkin menjawab tidak akhirnya mengangguk, Iis tampak tersenyum lebar karena merasa seperti bisa mengerjai Ridwan.
Iis lantas mengajak Ajeng pulang, Ajeng pun menurut dan langsung naik ke atas boncengan.
"Sakit tidak?"
Tanya Iis melihat gerakan Ajeng yang masih tampak lincah.
Ajeng tampak tersenyum, sebelum kemudian mengangguk,
"Sakit Bu Guru, tapi tidak apa-apa, Ajeng tidak akan nangis."
Kata Ajeng membuat Iis jadi malah kasihan.
"Tidak apa, kalau sakit ya Ajeng bilang saja sakit,"
Kata Iis.
**-----------**
__ADS_1