
Hari-hari berlalu dengan cepat untuk Ridwan karena kesibukannya di yayasan yang lumayan menyita.
Hampir setiap hari pula Ridwan nyaris tak punya banyak waktu untuk dirinya sendiri, karena selain mengajar di sekolah, ia juga mulai mengajar di rumah tahfidz, ia juga mulai mengawasi berjalannya pondok, ia juga mengajar ngaji anak-anak di tempat Pak Haji Imron dan mulai membuatkan jadwal pengajian rutin bagi remaja masjid.
Ridwan benar-benar sampai merasa sedikit kewalahan sebetulnya karena kesibukannya yang luar biasa.
"Paman, nanti sore pulangnya bawa es krim ya."
Pinta Ajeng sambil menggandeng tangan sang Paman saat keluar dari rumah, Ajeng akan berangkat sekolah, dan hari ini ia berangkat membonceng Paman Ridwan karena Mbak Wening pagi-pagi sekali sudah mengantar pesanan.
Ridwan tampak mengangguk,
"Iya, nanti Paman belikan, mau yang biasa kan?"
Tanya Ridwan sambil naik ke motor dan memakai helm nya.
Ajeng menyusul naik ke boncengan,
"Iya Paman, tapi yang besar, hehehe..."
Kata Ajeng sambil tertawa kecil,
Ridwan tersenyum sambil mengangguk,
"inshaAllah, Paman pulang akan bawakan apa yang Ajeng minta, yang penting tahu kan pesan Paman?"
Ridwan melihat Ajeng dari spion yang kini memeluk pinggang sang Paman dari belakang.
"Tahu to Paman, tetap rajin sholat, rajin ngaji, rajin belajar, dan nurut sama Ibu juga Mbah."
"Alhamdulillah."
Ridwan tersenyum lagi,
Ridwan lantas menyalakan mesin motornya, dan tak usah menunggu lama, ia pun membawa motornya melesat pergi menjauhi rumah.
Di dalam rumah, Ibu terlihat duduk menemani Mbok Yem menggoreng keripik sambil membantu mengiris tempe yang akan jadi keripik.
"Dengar-dengar mau ada Ustadzah dari Jakarta lho Yu..."
Kata Mbok Yem sambil sibuk menggoreng.
"Ustadzah dari Jakarta? Maksudnya?"
__ADS_1
Ibu agak kurang paham maksud Mbok Yem tiba-tiba membahas soal Ustadzah dari Jakarta.
"Itu, mau ada ngisi acara pengajian di rumah Pak Haji Syamsul, kan katanya mau hajatan besar-besaran, namanya mantu anak bungsu dan dapat boss."
Kata Mbok Yem,
Mendengar nama Pak Haji Syamsul disebut, rasanya Ibu tiba-tiba jadi tak enak hati, ada rasa seperti masih sakit hati atas apa yang telah menimpa keluarganya.
Bukan dendam, tapi hanya sebatas rasa sakit yang sulit hilang.
"Luar biasa hajatan sampai ustadzah nya saja langsung dari Jakarta."
Ujar Mbok Yem lagi, Ibu yang enggan berkomentar hanya tersenyum saja, lalu lebih memilih mengalihkan pembicaraan tentang kabar banyak petani yang sedang mulai budidaya jamur tiram.
Ya tentu saja, ini dilakukan agar nantinya Ibu tidak sampai berkomentar yang tidak-tidak, menjaga lisan dan hati dari sesuatu yang kurang bermanfaat.
Selain karena Ibu memiliki sedikit masalah rasa dengan pribadi Pak Haji Syamsul, Ibu juga merasa bahwa sebagian masyarakat kita terbiasa mengawali pembicaraan tentang orang lain dengan memuji tapi akhirnya justeru menutupnya dengan menggunjing.
Ibu, berusaha tidak terjebak dalam situasi yang demikian, ia lebih suka memilih tema pembicaraan yang lebih bersifat umum saja, macam dunia usaha, atau masalah harga sembako atau juga soal resep masakan.
Ini sudah dibiasakan Ibu sejak dulu, sejak terakhir kali ia saat masih muda berbincang dengan tetangga soal nakalnya anak tetangga lain, yang kemudian Bapak Ridwan dengar dan langsung menegurnya.
"Jangan suka ghibah, kamu kan pengajian setiap hari Jum'at, ikut acara pengajian rajin, tapi kalau ghibah juga rajin trus apa yang kamu dapat sebetulnya dari pengajian?"
Begitulah omelan Bapaknya Ridwan yang hingga sekarang masih selalu Ibu ingat.
**------------**
Ridwan setelah mengantar Ajeng hingga depan sekolah, iapun langsung menuju ke sekolah tempat ia mengajar.
Hari ini rencananya setelah mengajar ia akan ke pasar atau mungkin ke supermarket untuk membeli beberapa sayur dan bahan masakan untuk di pondok karena kemarin Salwa mengeluh bahan masakan sudah hampir habis.
Karena yayasan memang belum ada donatur tetap selain keluarga dari Pak Suhadi sendiri, keuangan memang masih sangat tipis, jadi Ridwan sebagai ketua pengurus tentu ingin memberikan sumbangsih juga untuk kepentingan bersama.
Bagaimanapun yayasan bukanlah perusahaan di mana memang tujuan pendiriannya pun berbeda.
Jika perusahaan tentu sudah jelas bahwa ada perhitungan matang Modal dan kelak nanti juga keuntungannya, tapi jika yayasan, apalagi yang tujuannya seperti Pak Suhadi adalah sejatinya untuk kemaslahatan umat, tentu adalah baik jika seluruh orang yang terlibat juga ikut serta mengusahakan yang terbaik dari segi tenaga dan materi agar yayasan bisa maju.
Uang gaji yang kelak akan diberikan oleh keluarga Pak Sahudi sebagai pemilik pun tak terlalu Ridwan pikirkan.
Biarlah semua akan mengalir sebagaimana air, yang terpenting saat ini Ridwan hanyalah ingin berfokus pada apa yang telah menjadi tugas dan kewajibannya, baik sebagai pengurus, juga sebagai umat yang tentu ingin setiap apapun yang diusahakan untuk kemaslahatan umat ia ingin ikut serta berjuang meski dalam kemampuannya yang terbatas pastinya.
Ridwan tampak memasuki area parkir dengan motornya, di sana ia bertemu dengan Pak Hasan yang sedang bicara dengan Mas Trisno.
__ADS_1
Ridwan memarkirkan motornya, lalu turun setelah melepas helm nya.
"Assalamualaikum..."
Ridwan mengucapkan salam pada Pak Guru Hasan dan Mas Trisno, lalu menjabat tangan mereka satu persatu.
Sesuatu yang ia pelajari selama di pesantren, di mana ia dibiasakan untuk menjabat tangan sesama santri dan juga mengucap salam.
Jabat tangan yang sebagai jalan agar sesama muslim tak saling bermusuhan dan mengucap salam adalah untuk saling mendoakan keselamatan.
"Waalaikumsalam..."
Jawab Pak Guru Hasan dan Mas Trisno.
Pak Guru Hasan yang semula sedikit julid pada Ridwan pun kini justru jadi menghargai Ridwan sebagai guru agama yang nyatanya ia memang mempraktekan ilmunya dengan sangat baik.
Ridwan baru akan permisi lebih dulu pada Pak Guru Hasan dan Mas Trisno untuk menuju kantor Guru, saat Pak Guru Hasan seperti teringat sesuatu.
"Sebentar Pak Guru, ada titipan ini."
Kata Pak Guru Hasan, seraya membuka tas nya, dan kemudian mengeluarkan setumpuk kertas undangan.
Hanya baru melihatnya saja, hati Ridwan sejenak tergetar, satu minggu sibuk mengurus banyak hal membuatnya lupa jika pekan ini adalah harinya Anisa dan Wisnu menikah.
Pak Guru Hasan tampak memisahkan tiga kertas undangan dari setumpuk undangan itu, lalu memberikannya pada Ridwan.
"Dari Wisnu dan Anisa, titip sekalian untuk Bu Iis dan Pak Haji Imron nanti nggih Pak."
Kata Pak Guru Hasan.
Ridwan pun mengangguk seraya menerima kertas-kertas undangan yang terlihat begitu elegan.
Undangan berwarna coklat muda dengan guratan tinta emas, dan diikat tali emas pula.
"Hadir nggih Pak Ustadz,"
Pak Guru Hasan tersenyum, Ridwan tampak mengangguk santun,
"InshaAllah Pak Hasan, inshaAllah,"
Jawab Ridwan,
Lalu setelahnya ia pun kembali pamit pada Pak Guru Hasan untuk menuju kantor Guru.
__ADS_1
**-------------**