
"Apa tidak berat nanti kamu bagi waktunya? Sementara kamu ada ngajar les anak-anak, kamu juga mau sekolah lagi meneruskan S2."
Kata Ibu pada Iis saat keduanya sudah selesai sholat Isya, lalu tampak duduk-duduk di depan TV meskipun acaranya tidak ada yang menarik untuk ditonton.
Tapi...
Ya bagaimana lagi, seolah kita dipaksa untuk menyantap apa yang disajikan, apa yang disuguhkan, apa yang diberikan, jadilah kita akhirnya mau tidak mau memakannya meskipun sama sekali tak bisa menikmatinya.
"Nanti gampang Iis akan buat jadwal Bu, supaya tidak saling bertabrakan."
Ujar Iis.
Ibu tersenyum sambil mengangguk, tatapannya tak lepas dari anak gadisnya.
"Is..."
Panggil Ibu,
Iis menoleh ke arah Ibunya,
"Nggih Bu,"
"Misalnya... Ini misalnya Is, misalnya Nak Ridwan tiba-tiba melamarmu bagaimana?"
Tanya Ibu, membuat Iis membulatkan matanya, meskipun wajahnya tak mampu menyembunyikan semburat merah karena rasa malu dan senang yang datang secara bersamaan.
"Ibu ini, apa sih, kenapa tiba-tiba bicara begitu."
Kata Iis yang masih malu-malu kucing.
Ibu jadi mengulum senyum, jelas sekali jika Iis sebetulnya juga memiliki rasa istimewa untuk Ridwan, pun juga saat tadi Ibu menemui Ridwan sebentar setelah membuatkan mie rebus dan gorengan.
Tampak tatapan Ridwan yang sekilas lalu pada Iis terlihat berbeda.
__ADS_1
Sebagai Ibu, tentu saja beliau cukup peka dalam hal ini.
"Sulit menemukan laki-laki seperti Ridwan, Is. Jika ada kesempatan itu, Ibu hanya bisa memberikan saran agar jangan sampai kamu menyia-nyiakan."
Kata Ibu.
Iis tampak menghela nafas,
Ya, pastinya. Iis juga ingin sekali tidak menyia-nyiakan kehadiran sosok seperti Ridwan jika saja nanti memang ada kesempatan demikian.
Tapi sejatinya Iis sedikit takut jika harus berharap lebih pada Ridwan.
Ia takut Ridwan merasa nantinya Iis terlalu GR, sementara padahal siapakah Iis ini dibandingkan Anisa.
Iis tentu tak sebanding dengan Anisa secara kecantikan.
Jika toh Ridwan akan mencari pengganti Anisa di hatinya, pasti ia akan mencari sosok yang setidaknya mirip atau mendekati yang serupa.
"Suami adalah imam dalam satu rumah tangga, itu sebabnya sebagai perempuan harus benar-benar memilih calon pendamping agar tak sampai salah pilih nantinya Is."
"Iis pasrah mawon Bu, apa kata nanti saja,"
Ujar Iis.
Iis baru akan bicara lagi, manakala hp nya tiba-tiba ada pesan baru masuk dari Anisa.
Iis pun memilih permisi masuk kamar pada Ibunya untuk berbalas pesan dengan Anisa, sekalian istirahat karena hari juga sudah larut.
"Iis duluan nggih Bu."
Kata Iis sambil beranjak dari tempat mereka berbincang.
"Iya, kamu rehat, besok Ibu saja yang belanja sayur sekalian jalan-jalan Is,"
__ADS_1
Kata Ibu sambil menata bantal kursi lalu merebahkan diri di atas kursi panjang yang ia duduki.
"O nggih, persediaan sayur di kulkas habis nggih Bu?"
Tanya Iis jadi menunda masuk kamar.
"Iyo, makanya besok Ibu saja yang belanja, sekalian jalan-jalan pagi, sudah lama tidak jalan-jalan."
Kata Ibu.
"Lumayan jauh lho Bu, warung sayur yang langganan Iis."
"Ah tidak apa-apa, yang arah mau ke rumah Mbak Wening to? Yang nanti sampainya di Masjid Uswatun Hasanah kalau sampai jalan raya?"
Tanya Ibu.
Iis mengangguk.
"Iyo tidak apa-apa, Ibu ingin jalan-jalan."
Kata Ibu.
Melihat Ibu sepertinya memang sungguh-sungguh ingin jalan-jalan, akhirnya Iis mengalah menuruti keinginan Ibunya.
"Oh nggih sampun."
"Wis ndang istirahat, sekalian itu barangkali Nak Ridwan nunggu dibalas."
Kata Ibu tersenyum,
"Eh lah Ibu ini lho, wong chat Anisa kok."
Iis jadi malu dan akhirnya memilih cepat masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
**-------------**