
"Mau Ibu potongkan buah tidak?"
Tanya Ibu pada Iis yang baru selesai mandi dan akan sholat asar.
"Nanti Iis potong sendiri saja Bu, Ibu lebih baik istirahat saja,"
Kata Iis,
"Aah tidak apa, Ibu saja yang potong, kebetulan Ibu lagi ingin makan pepaya."
Ibu mendekati kulkas lalu membukanya, Iis pun menghela nafas,
"Ya baiklah, terserah Ibu saja."
Ujar Iis akhirnya.
"Iis sholat dulu, Bu."
Kata Iis kemudian, Ibu tampak mengangguk,
Ibu lantas mengeluarkan satu potongan besar pepaya.
Ibu kemudian membawanya ke dapur, untuk ia akan kupas dan potong jadi beberapa bagian untuk dirinya sendiri, pun juga untuk Iis.
Nyatanya, terlalu banyak makan makanan berkolesterol tinggi di resepsi pernikahan Anisa dan Wisnu, membuat perut Ibu terasa benar-benar begah.
Iis sendiri begitu masuk ke dalam kamar langsung bersiap sholat asar, ia sebetulnya tadi sampai di rumah tak lama setelah adzan asar berkumandang, tapi karena kebetulan Ibu memang dalam posisi sudah ingin ke kamar mandi, maka Iis pun mengalah dengan melakukan kegiatan lain.
Dari menyapu lantai, mengepel, sampai menyapu halaman depan, barulah setelah semuanya selesai, kemudian Iis pergi mandi.
Iis baru masuk rokaat kedua, saat hp nya terdengar ada panggilan masuk.
Untungnya Iis tahu betul jika tidak mungkin Ridwan yang menelfonnya, jadi Iis tetap fokus saja menyelesaikan Sholatnya dengan baik, tanpa memperdulikan panggilan di hp nya yang terus saja berisik.
"Assalamualaikum warahmatullahi..."
"Assalamualaikum warahmatullahi..."
Iis mengakhiri sholatnya, hp sudah tak lagi berdering, maka ia lanjutkan berdzikir saja.
Cukup lama ia khusuk berdzikir, setelah itu membaca beberapa doa, termasuk doa yang tak pernah ia lupakan adalah doa untuk kedua orangtuanya, serta surah Al-fatihah yang dikhususkan untuk almarhum Ayahandanya sebagai hadiah.
Iis tahu, bahwa seseorang yang telah meninggal adalah tak perlu apapun selain doa. Mereka hanya bahagia jika kita yang ditinggalkan selalu mengingat mereka dalam doanya.
Ya, tentu, apalagi kita yang ditinggalkan adalah seorang anak.
Sungguh, tiga amal yang tak akan terputus itu, di mana diantaranya adalah doa anak sholeh, adalah bukti, bahwa betapa luar biasanya posisi doa di sisi Allah untuk orang-orang yang telah wafat.
Terutama doa anak pada orangtuanya yang telah tiada.
Iis pernah dengar dalam satu ceramah Abah Ya'i, saat dimana seseorang yang telah meninggal tengah mendapatkan siksa kubur (Nadzubillah) ada riwayat yang menyebutkan tiba-tiba malaikat tersebut menghentikan siksanya.
__ADS_1
Si Fulan yang tengah disiksa itu, bertanya kepada malaikat,
"Ya malaikat Allah, kenapa engkau tiba-tiba menghentikan siksamu?"
Tanya si fulan,
Malaikat tersebut lantas menatap si fulan, lalu ia kemudian menjawab,
"Demi Allah, aku diminta berhenti menyiksamu oleh Allah Subhanahu Wata'ala, bahwasannya anakmu ada yang berdoa kepada Nya, jika ia tak ingin engkau disiksa. Sungguh Allah maha pemurah, Dia memberitahuku untuk tidak menyiksamu atas doa anakmu."
Si fulan yang mendengar pun menangis haru, sungguh ia sangat senang anaknya mengingatnya dalam doa.
Kasih sayang yang sesungguhnya seorang anak adalah teruji ketika orangtuanya telah wafat.
Ia masih akan terus mendoakan, mengingat orangtuanya dalam setiap doa yang ia panjatkan, atau hanya sekedar ritual tahunan, yang berkunjung ke makam sebentar lantas melupakan di keseharian karena alasan kesibukan.
Kita tahu bukan? Bahwa orangtua sesungguhnya mungkin, di saat hidupnya, mereka bukan hanya mengurus, tapi juga selalu meminta pada Allah jika kita dicukupkan rezekinya.
Iis lantas menutup doanya dengan selalu membaca doa keselamatan dunia dan akhirat. Setelah itu, barulah ia berdiri, melepas mukenah, melipatnya dengan rapi, lantas di letakkan di atas rak dekat rak buku.
Iis mendekati meja belajarnya, duduk di kursi kayu dekat meja, diraihnya hp nya dan tampak panggilan dari Bu Windi.
"Astaghfirullah..."
Iis mengucap istighfar,
Sudah berhari-hari lamanya, dan Iis menjanjikan hari ini akan memberikan jawaban terkait permintaan Bu Windi pada Iis agar bisa memberikan les untuk keponakannya.
Mereka seperti menemukan tujuan kenapa mereka harus belajar, mereka memiliki motifasi untuk bisa jadi anak yang pintar, kemampuan ini yang tak banyak Guru lain miliki.
Iis pun kemudian buru-buru menghubungi Bu Windi, tentu saja ia tak enak hati apabila nantinya Bu Windi merasa Iis sok sekali sampai tak mau angkat panggilan tak terjawabnya hingga lima kali panggilan.
Tuuuut...
Tuuuuut...
tuuuuuuut....
Siapa hendak turut?
Eh bukan salah, maksudnya sambungan telefon ke nomor hp Bu Windi terdengar.
Tidak ada nada sambung yang terdengar, itu menandakan Bu Windi juga bukan tipe orang yang senang salah pencet saat ada tawaran NSP tiba-tiba. Wkwkwk...
Lalu...
Kresek... kresek...
Terdengar bunyi kresek kresek tanda panggilan diangkat,
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
Iis mengucap salam,
"Waalaikumsalam..."
Sambut Bu Windi dari seberang sana.
"Aduh maaf Bu, saya tadi sedang tanggung, bagaimana Bu?"
Kata Iis, tak mau berkata sedang sholat tentunya, karena ibadah toh tak boleh untuk riya.
"Ooh nggih Bu, maaf nggih Bu, saya lho tidak tahu, tadi pas telfon yang terakhir kok tiba-tiba saya ingat Bu Iis sempat cerita kalau hari ini sepertinya panjenengan ada acara undangan resepsi pernikahan saudara."
Bu Windi terdengar tak enak,
"Enggih Bu, tapi itu tadi siang sih, pulang tadi pas Asar, tidak apa-apa Bu, tidak ganggu sama sekali, hanya saja tadi sedang tanggung."
"Syukurlah kalau begitu, saya tidak enak kalau misal sampai malah ganggu ini Bu Iis."
Bu Windi tertawa renyah,
"Tidak Bu, sama sekali tidak."
Kata Iis.
"Ngg, begini Bu, soal yang kita bicarakan, terkait permintaan saya mewakili kakak saya dan kakak ipar saya pastinya, untuk meminta panjenengan memberikan les privat pada keponakan saya itu, apa saya sudah bisa mendapatkan jawaban Bu Iis?"
Tanya Bu Windi.
Iis yang sudah menyangka memang Bu Windi akan menanyakan hal tersebut, akhirnya tersenyum,
Gadis ayu nan sederhana itu lantas menjawab,
"InshaAllah Bu, tapi, mungkin nanti saya akan ambil waktunya hari Sabtu dan Minggu, karena supaya saya tidak terlalu lelah mengingat jaraknya lumayan kalau harus pulang pergi dari rumah saya. Kalau di akhir pekan, tentu saya kan bisa punya cukup waktu, baik untuk aktivitas maupun istirahat. Nanti berarti jika akan dimulai, untuk les privatnya akhir pekan depan nggih?"
"Oh siap... siap Bu Iis, saya mengerti sekali, sungguh saya mengerti sekali dengan kondisi Ibu, saya juga tahu Bu Iis kan juga buka les di rumah, jadi tentu kami yang datang belakangan harus mengalah. Ini saja sungguh saya merasa sangat berterimakasih, pasti kakak saya juga nanti akan sama seperti saya. Terimakasih sekali lagi Bu Iis, terimakasih..."
Kata Bu Windi.
"Aduh Ibu, sama-sama Ibu. Justeru harusnya saya yang berterimakasih karena sampai diberi kepercayaan memberikan les privat untuk keponakan Ibu."
"Bu Iis ini salah satu Guru terbaik yang pernah saya kenal, jadi sudah barang tentu, saya harus berterimakasih sekali, paling tidak ini akan menjadikan harapan kami semua agar keponakan saya ini mau rajin belajar dan memiliki motivasi atau cita-cita pada umumnya anak-anak."
Kata Bu Windi.
"InshaAllah Bu, yang punya kemampuan tentu adalah Allah, saya ini cuma berusaha agar ilmu saya bermanfaat saja."
Ujar Iis.
"Aduh Bu Iis ini, sudah macam Pak Ridwan lhi bahasanya."
Seloroh Bu Windi, membuat Iis jadi tertawa.
__ADS_1
**-------------**