Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
26. Sebuah Hadiah


__ADS_3

"Waaan... Ridwan..."


Mbak Wening sekitar jam setengah sembilan malam mengetuk pintu kamar Ridwan, suaranya terdengar panik.


Ridwan yang sedang membaca buku tafsir Qur'an akhirnya segera menutup bukunya, lalu beranjak dari duduknya di depan meja belajarnya untuk membukakan pintu kamarnya.


Suara derit pintu yang dibuka terdengar khas, begitu Ridwan membuka pintu kamarnya yang terbuat dari kayu dan papan.


"Pripun Mbak? Ada apa?"


Ridwan tampak terkejut melihat mbak Wening seperti pucat,


"Ajeng, muntah-muntah dan badannya demam,"


Kata Mbak Wening.


Ridwan mendengarnya segera menuju kamar Mbak Wening.


Ibu yang kamarnya di sebelah Ridwan dan mendengar pembicaraan kedua anaknya, tampak keluar dari kamar.


"Ada apa Ning?"


Tanya Ibu.


"Ajeng sakit Bu."


Jawab Mbak Wening.


"Oalah, yo wis mesti, wong tadi kamu biarkan saja dia di lantai terus."


Ibu malah mengomeli Mbak Wening.


Tentu sudah jadi kebiasaan di mana-mana, jika Nenek akan selalu di pihak cucunya.


Ibu tergopoh-gopoh menuju kamar Mbak Wening juga, Ridwan ada di sana tengah bicara dengan Ajeng yang terlihat lemas.


"Muntah-muntah tadi."


Kata Mbak Wening,


"Badannya panas Bu."


Kata Ridwan manakala Ibunya mendekat.


Ridwan menyingkir untuk memberikan tempat bagi Ibunya agar bisa berada lebih dekat dengan Ajeng.


Di letakkannya telapak tangan kirinya di dahi Ajeng dan juga di kanan kiri leher Ajeng.


"Kamu ke apotek saja Wan, beli obat penurun panas,"


Ujar Ibu.


"Apa ada apotek masih buka jam segini?"


Ridwan melihat jam dinding di kamar Mbak Wening.


"Ada apotek dekat perempatan, itu kabarnya sampai jam sebelas malam."


Kata Mbak Wening.


Ridwan mengangguk.

__ADS_1


"Ning, ambilkan minyak kelapa asli satu pisin, dicampur bawang merah diiris,"


Ibu memerintah.


Mbak Wening mengangguk, ia segera pergi ke dapur tanpa tanya lagi dan juga tak membantah.


Ridwan sendiri menuju kamarnya, mengambil jaket dan dompet, lalu keluar lagi.


"Mbak, sepedanya tek pakai yo..."


Ujar Ridwan.


"Iyo..."


Sahut Mbak Wening sambil menuang minyak gurih asli dari olahan kelapa yang Ibunya sering buat sendiri.


Konon, minyak kelapa yang dibuat sendiri itu memang bisa juga untuk obat.


Ridwan mengeluarkan sepeda milik Mbak Wening dari rumah, ditutupnya kembali pintu depan rumahnya begitu ia sudah mengeluarkan sepedanya dan bersiap pergi.


Ridwan melihat malam sudah tak lagi dihiasi guyuran hujan, hanya kini tinggal sisa hawa dingin yang menusuk, karena angin bertiup cukup kencang.


Ridwan menaiki sepedanya, mengayuhnya dengan cepat agar bisa segera membeli obat untuk keponakan satu-satunya.


Ridwan juga berencana akan mencari bubur ayam bilamana ada yang berjualan, atau roti jika memang ia tak menemukan bubur.


Ridwan terus mengayuh menyusuri jalanan kampung yang berlobang, sampai ia kemudian keluar dari jalan kampungnya dan sudah dekat masjid Uswatun Hasanah, tiba-tiba sepedanya seperti zig-zag jalannya, Ridwan segera turun dan betapa bingungnya ia melihat ban sepedanya yang dibelakang kempes.


Ya Allah, berikan hamba kesabaran. Batin Ridwan begitu melihat ban sepedanya yang mungkin terkena paku atau apa itu sampai ban sepedanya kempes.


Ridwan celingak-celinguk mencoba mengingat di mana di sana tambal ban yang buka malam hari, saat kemudian dari masjid terlihat Pak Haji Imron baru keluar dari masjid dan mengunci pintu utama masjid.


Tampaknya pak Haji Imron masih seperti dulu yang suka tadarus sehabis sholat isya sambil menunggu larut malam.


Pak Haji Imron mendekati Ridwan yang terlihat sibuk dengan sepedanya.


"Oh Pak Haji, nggih niki Pak, ban sepeda Mbak Wening bocor sampai kempes, sepertinya terkena paku atau entah apa."


Kata Ridwan.


"Wah iya ini sepertinya kena paku."


Pak Haji Imron sambil ikut memeriksa ban sepeda Mbak Wening.


Ridwan mengangguk.


"Nak Ridwan ini baru pulang atau mau ke mana?"


Tanya Pak Haji Imron.


"Saya mau ke apotek Pak Haji, anak Mbak Wening sakit, sepertinya masuk angin."


Kata Ridwan.


"Oh si Ajeng."


Pak Haji Imron sepertinya hafal nama murid-murid yang mengaji di tempatnya.


"Kalau bengkel yang masih buka kira-kira di mana nggih Pak Haji?"


Tanya Ridwan.

__ADS_1


Pak Haji Imron menggeleng,


"Sepertinya kalau di dekat sini tidak ada nak Ridwan, kalau dekat perempatan itu mungkin ada."


"Oh nggih sampun, berarti saya jalan saja ke sana, sekalian ke apotek."


Kata Ridwan akhirnya.


"Perempatan kan lumayan jauh nak, butuh setengah jam kalau jalan kaki, begini saja, nak Ridwan ke rumah saya sebentar,"


Ujar Pak Haji Imron.


"Tapi Pak Haji, saya ditunggu Ibu dan mbak Wening mau beli obat."


Ridwan mencoba menolak.


"Sudah, mari ikut saya sebentar saja, sepedanya dibawa sekalian."


Kata Pak Haji Imron,


Ridwan yang tak berani membantah lagi akhirnya menurut mengikuti Pak Haji Imron.


Rumah Pak Haji Imron toh memang tak seberapa jauh dengan masjid Uswatun Hasanah, masih satu komplek malah dengan rumah dan warungnya Bu Wirjo.


Sesampainya di rumah Pak Haji Imron, tampak Ridwan diminta oleh Pak Haji menunggu saja di depan, Pak Haji sendiri masuk rumahnya.


Tak lama setelah Pak Haji masuk, laki-laki yang termasuk salah satu sesepuh di wilayah tempat tinggal Ridwan itupun kembali keluar dan membawa dua kunci.


"Nak Ridwan,"


Pak Haji Imron memanggil Ridwan.


Ridwan yang dipanggil Pak Haji Imron segera mendekat,


"Tolong dibukakan rolling door nya."


Pak Haji Imron menunjuk garasi rumahnya. Garasi yang berhadapan berdempetan dengan tempat yang digunakan untuk mengajar ngaji anak-anak setiap sore oleh Ridwan.


Ridwan menurut membukakan rolling door garasi pak Haji Imron.


Pak Haji Imron berjalan memasuki garasi dan menyalakan ruangan tersebut.


Tampak di sana satu mobil model minibus dan juga tiga motor yang dua diantaranya matic serta satunya adalah motor bebek tiga tak.


Ada lagi satu motor king, tapi sepertinya itu jelas sudah tak digunakan karena diletakan terpisah.


Pak Haji Imron mendekati motor bebek tiga tak miliknya yang diparkir paling kiri.


"Motor ini sudah tidak ada yang mau pakai, mau saya jual sayang karena ini dulu saya beli dari salah satu sahabat saya yang sudah almarhum untuk membantunya pengobatan gagal ginjal, buat saya motor ini memiliki sejarah dan kenangan akan beliau."


Tutur Pak Haji Imron sambil kemudian kembali berjalan mendekati Ridwan yang bingung sebetulnya kenapa ia yang sedang buru-buru malah disuruh membuka garasi.


Pak Haji Imron lantas mengulurkan kunci di tangannya.


"Saya hibahkan motor itu kepada Nak Ridwan, tolong dirawat dengan baik,"


Kata Pak Haji Imron yang tentu saja membuat Ridwan terkejut.


Pak Haji Imron tersenyum seraya mengangguk,


"Anak-anak saya tidak mau pakai motor selain matic, saya juga sekarang ke mana-mana pakai mobil, motor itu akan rusak jika tidak dipakai, saya ingin nak Ridwan saja yang pakai, selain saya yakin anda akan pandai merawatnya, anda juga hanya akan memakainya di jalan Allah. Untuk mengajar, untuk mengaji, dan mengantarkan keluarga saja."

__ADS_1


Kata Pak Haji Imron.


**-------------**


__ADS_2