
Trrt...
Trrt...
Trrt...
Hp di atas meja tempat tidur di dalam kamar Ibunya Iis bergetar karena ada pesan baru masuk.
Tiga pesan baru dari Iis.
Tapi Ibu tidak ada di sana dan tidak tahu ada pesan masuk pastinya.
Ya, tentu saja Ibu tidak tahu, karena Ibunya Iis sedang duduk-duduk di teras rumah dengan Bu RT yang datang bersama salah satu Ibu lain ke tempat Ibunya Iis untuk memberitahu bahwa akan ada PKK lagi mulai bulan depan.
Sebagaimana kebanyakan Ibu-ibu lain, yang jika membahas sesuatu akhirnya jadi panjang kali lebar ke hal-hal yang tak ada hubungannya, Ibunya Iis beserta Bu RT dan temannya juga sama.
Membahas soal PKK hanya sekitar lima belas menit, lalu rentan waktu satu jam lebih malah untuk membahas Iis.
Ya Iis,
Bu RT merasa ingin menjodohkan Iis dengan keponakannya.
Keponakan Bu RT yang juga sama seorang Guru namun sudah diangkat pegawai negeri tahun lalu.
Selain itu, ia juga memiliki usaha warung ayam dan sudah mulai kredit rumah.
Pokoknya keponakan Bu RT digambarkan sebagai laki-laki yang bermasa depan cerah.
Tapi...
Ibunya Iis yang merasa sudah optimis Iis akan bersama Ridwan nantinya akhirnya memutuskan untuk menolak secara baik-baik, bukannya ingin jual mahal, tapi Ibunya Iis sudah kadung sreg dengan sosok Ridwan jika kelak menjadi suami putrinya.
Mungkin, Ridwan memang belum terlihat akan memiliki masa depan cerah, tapi Ibunya Iis selalu percaya bahwa rezki orang yang berjalan di jalan Allah itu sesungguhnya telah dijamin sepenuhnya.
Ridwan adalah bagian dari orang-orang yang tengah berjalan di jalan Allah, ia berbagi ilmu dengan anak-anak yang belajar mengaji, ia juga akan mengabdikan diri membesarkan yayasan milik keluarga Almarhum Pak Sahudi yang akan menaungi pondok untuk anak-anak yatim dan duafa.
Sungguh untuk Ibunya Iis itu adalah lebih membanggakan, daripada sekedar Iis bersanding dengan laki-laki yang memiliki mobil mewah sekalipun.
Apalagi, Ibunya Iis juga sudah melihat bagaimana Ridwan memperlakukan Ibu dan kakak perempuannya.
Sudah jelas dari apa yang Ibunya Iis lihat itu, jika Ridwan adalah laki-laki yang memiliki hati hangat dan penuh kasih sayang.
Lembut tutur kata dan halus budi pekerti. Dan jika sudah demikian, maka akan berlaku baiklah ia pada isterinya.
Sungguh akhlak Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pastinya.
"Ustadz Ridwan yang mengajar ngaji di tempat Pak Haji Imron bukan sih Bu?"
Tanya teman Bu RT.
Ibunya Iis mengangguk,
"Enggih, yang menggantikan Pak Ustadz Soleh."
Jawab Ibunya Iis dengan senyuman sumringah, seolah benar-benar telah optimis jika Ridwan memang calon menantunya.
"Ooh iya iya,"
Teman Bu RT menganggukkan kepalanya.
"Yang pondok dan rumah tahfiz itu juga diurus Ustadz Ridwan bukan?"
__ADS_1
Tanya teman Bu RT lagi,
Ibunya Iis mengangguk.
"Nah itu juga."
Ujar Ibunya Iis, yang memang sengaja tidak menceritakan dulu soal itu takut dinilai menyombong.
"Lho, yang pondok di dekat jalan besar itu? Yang sebentar lagi dibuka?"
Tanya Bu RT.
Ibunya Iis menganggukkan kepalanya.
"Itu ikutnya RT tiga apa dua ya?"
Temannya Bu RT pada Bu RT.
"Dua itu Bu, di sini kan enam."
Jawab Bu RT.
"Oh iya, soalnya sudah agak ke sini, ternyata masih masuk RT dua."
Ujar teman Bu RT.
"Ya kalau begitu, semoga memang berjodoh ya Bu, sudah jelas kalau itu laki-laki sholeh, calon suami dan menantu idaman. Mungkin sukses bisa diraih siapa saja, tapi kalau sholeh itu tidak semuanya bisa meraih."
Kata teman Bu RT tulus memberikan doa.
Ibunya Iis pun mengaminkan.
**----------------**
"Ning, Ridwan kok belum pulang to?"
Tanya Ibu pada Mbak Wening yang baru saja membantu Ajeng naik ke tempat tidur yang ada di dekat TV karena tukang urut sedang menuju ke rumah.
Mbak Wening menoleh ke arah Ibunya yang berjalan dari arah dapur membawa satu bakul berisi keripik yang baru selesai digoreng.
"Ridwan?"
Mbak Wening seperti bergumam, lalu...
"Oh tadi kan waktu mau nganter Ibunya Bu Guru Iis pulang sekalian pamit katanya kemungkinan pulang sore Bu."
Ujar Mbak Wening yang akhirnya mengingat pagi tadi Ridwan memang sempat menyampaikan soal kemungkinan ia akan pulang terlambat sebab urusan yayasan.
"Apa iyaya?"
Gumam Ibu sembari menuju meja makan dan meletakkan bakul isi keripik di sana.
"Lha iyo, kan ada rapat apa itu kan Bu, rapat paripurna apa rapat apa itu lho kan Ridwan sekarang wis jadi orang penting, orang hebat, iya to?"
Mbak Wening tampak benar-benar bangga dengan sosok adiknya.
"Ealah, Ibu kok tidak ingat."
Kata Ibu pula.
Mbak Wening geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Lha yo Ibu kan tadi fokusnya ngobrol dengan Ibunya Bu Guru Iis to?"
Mbak Wening kali ini mendekati Ibunya yang terlihat memindahkan keripik ke wadah yang lebih besar dan datar.
"Tapi ngomong-ngomong bagaimana Bu menurut Ibu?"
Mbak Wening menjejeri Ibunya.
"Ngopo? Bagaimana apanya?"
Tanya Ibu bingung,
Mbak Wening menghela nafas,
"Itu, Ibunya Bu Guru Iis, baik kan Bu, ramah, terus tidak sombong."
Kata Mbak Wening, Ibu mantuk-mantuk.
"Cocok kalau jadi besan kan Bu?"
Mbak Wening kali ini mendekatkan wajahnya pada Ibu yang tengah sibuk dengan keripik pisang di wadah agar panasnya cepat hilang lalu bisa dibungkus.
"Kamu ini, kitanya merasa cocok, di sananya tidak terus bagaimana? Jangan suka berharap terlalu tinggi, nanti kalau jatuh tidak bisa diurut."
Kata Ibu, membuat Mbak Wening hanya bisa garuk-garuk kepala.
Melihat Mbak Wening garuk-garuk langsung Ibu mendorong Mbak Wening jauh-jauh dari meja.
"Kenapa Bu?"
Mbak Wening protes.
"Lho kok malah tanya kenapa, wong tanganmu kotor itu garuk-garuk kepala, nanti lupa ambil keripik malah bahaya."
Kata Ibu.
Mbak Wening jadi tertawa,
"Nanti dikira keripik bertabur salju."
Tiba-tiba Ajeng nimbrung, membuat Mbak Wening dan si mbah menoleh ke arah Ajeng yang berbaring di atas tempat tidur besi dekat TV dengan tubuh bersandar pada tumpukan bantal.
"Salju apa?"
Tanya Mbak Wening, Ajeng cekikikan lalu menjawab,
"Kulit kepalanya Ibu pada jatuh kayak salju."
Celetuk Ajeng, membuat Mbak Wening tentu saja langsung mendesis, sedangkan Ibunya terkekeh-kekeh.
"Punya anak satu sukanya menghina Ibunya sendiri, benar-benar ujian hidup."
Kata Mbak Wening geleng-geleng kepala sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang lalu berjalan menuju dapur.
Ya, daripada kena buli, mending menemani Mbok Yem menggoreng saja, tapi...
"Niiing, cuci tangan, nanti kamu lupa nyolek keripik."
Kata Ibu, tetap mengingatkan, membuat Mbak Wening tertawa.
**--------------**
__ADS_1