Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
151. Kehebohan Pagi


__ADS_3

"Niing, diajak ngomong wongtuo kok sibuk dewe."


Ibu mengomeli Mbak Wening.


Tampak Mbak Wening menoleh ke arah Ibu yang kini memandanginya,


"Eh piye Bu?"


Tanya Mbak Wening yang ternyata sibuk bebenah sambil melamun.


Ibu menggelengkan kepalanya,


"Subuh-subuh, beberes di sumur malah sambil melamun, kamu ini lho, tidak tahu sumur itu banyak jin nya?"


Kata Ibu,


Mendengar kata Jin, Mbak Wening seketika langsung berlari ke arah sang Ibu yang akan bersiap menuju kamar mandi.


Tentu saja yang terbayang dari sosok jin pasti adalah sosok tinggi besar hitam, bukan sosok ganteng ganteng serigala.


"Kenapa?"


Ibu jadi bingung.


"Lha Ibu nakutin Wening, kenapa masih gelap bahas jin."


Mbak Wening protes.


"Yo kamu, melamun di sumur, nanti ketempelan."


Kata Ibu.


"Duh, amit amit Bu, jangan gitu la Bu, bikin Wening takut."


Mbak Wening celingak-celinguk.

__ADS_1


"Wis, Ibu mau sholat subuh itu sudah iqomat."


Ujar Ibu.


"Lha tadi Ibu ngajak ngomong Wening apa?"


Tanya Mbak Wening lagi,


"Kamu, nanti jangan lupa panggil tukang urut lagi,"


Kata Ibu.


"Ooh, enggih Bu, ini nanti sekalian beli lauk buat sarapan di Mbok Yem."


"Jadi minta tolong Mbok Yem buat bantu-bantu goreng keripik?".


Tanya Ibu.


Mbak Wening mengangguk,


"Enggih Bu, soalnya kan ini sudah lumayan banyak, Wening tidak kuat mengurus sendirian, Ibu juga jadi capek sering masak dewe, bahkan nyetrika juga karena Wening banyak pesanan."


Jelas saja, sudah menjadi kewajiban Mbak Wening sebagai anak, di mana seharusnya ia yang mengurus segala sesuatu atas orangtuanya.


Sudah jadi kewajiban Mbak Wening sebagai anak, mbakti sama Ibu terutama di usia sepuh nya.


"Wis tidak apa-apa, wong kamu lagi repot, kecuali kamu duduk santai, Ibu kan juga kebutuhan kamu yang tanggung,"


Kata Ibu.


"Lah Ibu, jangan ngomong begitu Bu. Sampun Ibu katanya mau sholat subuh."


Ujar Mbak Wening, dan Ibu pun mengangguk mengiyakan.


Ibu masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Mbak Wening masuk ke dapur untuk mengambil beras yang akan di masak.

__ADS_1


Beras di dalam wadah yang sudah ditampi itu dipisahkan dari beras yang masih ada di karung yang belum ditampi.


Mbak Wening membawa beras itu ke sisi dapur yang ada kotakan kecil yang dipisah dan ada keran serta ember di sana.


Kotakan yang seperti di sumur, yang biasanya digunakan untuk meletakkan piring-piring kotor bekas makan malam di sana, atau kadang Ajeng buang air kecil saat malam hari supaya tidak takut.


Mbak Wening tampak mencuci beras di sana, setelah bersih dimasukkannya ke dalam wadah magicom.


Belakangan Ibu memang sudah tidak keberatan masak nasi pakai magicom, setelah sebelumnya tidak begitu setuju karena kata ibu rasanya tidak seenak dimasak dengan kukusan.


Namun, demi menghemat gas, serta juga jadi bisa disambi melakukan hal lain, jadilah sekarang masak nasi pakai magicom di ACC oleh Ibu.


Kelak, Mbak Wening juga punya keinginan membeli mesin cuci agar bisa mencuci sambil mengurus pekerjaan rumah yang lain, termasuk misalnya sambil mengemas keripik.


"Buuu... Ibuuuu..."


Ajeng memanggil dari kamar.


Mendengar panggilan Ajeng yang sudah macam sirine, Mbak Wening langsung tergopoh-gopoh masuk kamar.


"Ada apa Jeng? Apa yang sakit?"


Tanya Mbak Wening menghampiri anaknya, takut anaknya memanggil karena ada yang dirasa sakit.


Tapi...


"Ada Bapak-bapak yang telfon nyari Ibu."


Kata Ajeng membuat Mbak Wening nyaris melompat mendengarnya.


Apalagi saat Ajeng menatapnya dengan tatapan menghujam disertai pertanyaan...


"Ibu pacaran ya?"


Hah?

__ADS_1


Mbak Wening rasanya langsung ingin lari ke hutan belok ke pantai.


**------------**


__ADS_2