Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
31. Mampir Sebentar


__ADS_3

"Mau ke mana to Is, tidak biasa-biasanya sore begini rapi sekali, ada kondangan to?"


Tanya Ibu yang tampak duduk di ruang TV saat melihat Iis melintas untuk meraih kunci motornya di atas meja TV.


"Mau cari buku Bu, sekalian sudah lama tidak jalan-jalan dengan Anisa. Belakangan dia lagi murung terus, kasihan takutnya nanti sakit, padahal peristiwa meninggalnya Uminya saja sepertinya masih menyisakan trauma pada diri Nisa."


Kata Iis.


Ibu mengangguk,


"Iya tadi Ibu lihat Anisa wajahnya makin tirus, kasihan memang."


ujar Ibu.


Iis tersenyum seraya kemudian menghampiri Ibunya untuk bersalaman.


"Pulangnya beli martabak telor ya Is."


Ibu memesan makanan kesukaannya.


"Enggih Bu, nanti inshaAllah Iis akan belikan."


Iis mencium punggung tangan sang Ibu, lalu ia pamit pergi.


Iis begitu keluar rumah tampak memakai helm nya, lalu bersiap naik ke atas motor saat tiba-tiba sebuah suara terdengar memanggil,


"Bu Guru Iis... Bu Guru Iis, sebentar."


Iis menoleh ke arah asal suara, yang di sana terlihat kini Mbak Wening yang setengah berlari ke arah Iis.


"Oalah Mama Ajeng, ada apa?"


Tanya Iis menunda melajukan motornya, Mbak Wening terlihat mendekat,


"Ibunya ada Bu Guru Iis?"


Tanya Mbak Wening.


"Ada di dalam Mama Ajeng,"


Jawab Iis sambil turun dari motornya,


"Ini ada kiriman dari Mbak Faizah, biasa jumat sore pertengahan bulan ngisi masjid untuk habis maghriban nanti bagi-bagi nasi berkat."


Kata Mbak Wening seraya menunjukkan dua tas kresek yang sepertinya berisi besek nasi berkat.


"Ooh enggih, nanti tek panggilkan Ibu."


Bu Guru Iis kemudian kembali masuk ke dalam rumah untuk memanggil Ibunya,


"Nopo Is?"


Tanya Ibu,


"Mamanya Ajeng, Bu, nyampein nasi berkat dari Mbak Faizah."


Kata Iis.


Ibu kemudian tampak berdiri dari duduknya, lantas mengikuti Iis berjalan keluar rumah menemui Mbak Wening,


"Eh Mbak Wening,"


Ibu tersenyum ramah, Mbak Wening menghampiri Ibu untuk memberikan satu nasi berkat titipan Mbak Faizah.


"Terimakasih Mbak, sampaikan salam untuk Mbak Faizah."

__ADS_1


Ucap Ibu.


Mbak Wening tersenyum dan mengangguk,


"Enggih Bu, besok saya sampaikan, ini saya mau pulang."


Kata Mbak Wening,


"Lho, pulang naik apa Mbak?"


Tanya Ibu.


"Jalan kaki Bu, biasanya dijemput, tapi katanya tadi adik saya tiba-tiba diminta Pak Haji Imron menemani pergi ke tempat sahabat beliau yang sedang sakit."


"Oalah,"


"Saya antar saja Mama Ajeng, sekalian saya juga mau pergi."


Iis tiba-tiba menyela.


"Aduh ndak enak merepotkan Bu Guru,"


Kata Mbak Wening.


"Tidak apa-apa Mama Ajeng, sekalian kok, kan nanti ke jalan raya utama juga lewat rumah Mama Ajeng bisa."


Kata Iis.


"Enggih Mbak Wening, sudah ikut Iis saja, daripada jalan kaki kan capek, lumayan jauh lho, mana bawa nasi berkat kan."


Ujar Ibu.


Mbak Wening memandang ke arah Iis yang kemudian naik ke atas sepeda motornya,


"Ayok Mama Ajeng,"


Mbak Wening akhirnya menurut meskipun terlihat malu-malu,


"Monggo Bu, ini aduh saya jadi ndak enak beneran."


Kata Mbak Wening, Ibu tampak tersenyum.


"Ndak apa Mbak, kan Iis sekalian jalan itu mau beli buku."


Ujar Ibu.


"Oh enggih sampun, monggo Bu, assalamualaikum..."


Mbak Wening pamit lalu naik ke boncengan,


"Waalaikumsalam, hati-hati nggih..."


Ibu mengiringi mereka menjauhi pelataran rumah,


Matahari kini terlihat telah condong di sebelah barat, terlihat kilaunya yang menyilaukan dari hamparan sawah yang terbentang hampir di sepanjang jalanan desa.


Mungkin jika Indonesia mampu bertahan menjadi wilayah yang lebih memajukan pertanian sebagaimana dulu di kala masa kejayaan Majapahit dan kerajaan besar lainnya, pastinya hamparan sawah akan tetap ada dan bisa menjadi negeri subur gemah ripah loh jinawi tenan.


Sayang sekali, industri pangan yang sebetulnya akan selalu dibutuhkan dunia justeru ditinggalkan oleh manusia yang tinggal di negeri ini dengan alasan mahalnya pupuk dan biaya ini itu tak berimbang dengan harga setelah panennya, ini membuat lahan pertanian semakin sempit, sawah dikeringkan dan dijadikan perumahan dan usaha lainnya.


Angin sore bertiup sepoi-sepoi dari arah sawah, terlihat padi-padi yang menjelang menguning, dan sebagiannya bahkan sudah dipanen kini meriap-riap.


Mbak Wening duduk di boncengan sambil memangku satu besek nasi yang akan ia bawa pulang.


Besek nasi yang selalu ditunggu Ajeng saat Jumat pertengahan bulan karena lauknya enak-enak.

__ADS_1


"Bu Guru Iis nanti mengajar di tempat yang sama dengan Ridwan adik saya ya berarti? Sudah pernah ketemu belum Bu?"


Tanya Mbak Wening basa-basi bertanya,


"Oh Pak Ridwan, nggih sampun."


Jawab Iis dari depan Mbak Wening.


Tampak Mbak Wening tersenyum,


"Dari dulu itu cita-citanya memang ingin jadi Guru, Bu. Katanya supaya nantinya punya ilmu bisa bermanfaat."


Mbak Wening bercerita.


Iis tersenyum,


"Bu Guru Iis juga dulu cita-citanya jadi Guru to?"


Tanya Mbak Wening.


Iis tertawa kecil.


"Wah saya ingin jadi Guru setelah SMA, Mama Ajeng. Waktu kecil, belum terpikirkan seperti Pak Ridwan sudah punya cita-cita semulia itu. Saya dulu ya masih ikut-ikutan saja, kadang ingin jadi pilot, kadang ingin jadi polisi, kadang ingin jadi dokter."


Iis tertawa kecil, yang disambut Mbak Wening pula.


"Sama berarti dengan Ajeng, Bu. Kalau ditanya, hari ini sama besok dan lusa berbeda, tergantung baru nonton apa, baca apa."


Kata Mbak Wening.


"Nggih memang Mama Ajeng, inilah kenapa pentingnya anak-anak diarahkan membaca dan menonton sesuatu yang positif, karena memang itu berpengaruh sangat besar dalam pembentukan pola pikir, gaya hidup dan sebagainya."


Ujar Iis.


Mbak Wening mantuk-mantuk,


Tak lama, motor Iis akhirnya mendekati rumah Mbak Wening, tampak Ibu di halaman sedang menyapu halaman.


Melihat motor Iis menuju ke arahnya, dan Mbak Wening duduk di boncengan motor, membuat Ibu akhirnya menghentikan sejenak kegiatan menyapunya.


Iis menghentikan motornya, Mbak Wening terlihat turun dari boncengan untuk menghampiri Ibu dan bersalaman dengannya.


Tampak Iis melepas helm nya, dan turun juga dari atas motor dan menghampiri Ibu untuk bersalaman juga.


"Ibu, ini Bu Guru Iis, yang aku ceritakan Bu, yang Ibu guru baik dan sholihah, guru les nya Ajeng."


Kata Mbak Wening memperkenalkan Iis pada sang Ibu.


"Oalah, ini Bu Guru, ayu tenan yo."


Puji Ibu saat Iis mencium punggung tangannya.


"Monggo Bu, masuk dulu, masuk."


Mbak Wening mengajak Iis masuk ke dalam rumah, begitu juga Ibu.


"Aduh, maturnuwun, tapi ini saya mau jemput Anisa di toko emas nya, takut Anisa sudah nunggu Bu,"


Kata Iis.


"Oh sudah janjian sama Mbak Nisa?"


Tanya Mbak Wening.


Iis mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


**-----------------**


__ADS_2