Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
167. Calon Mertua


__ADS_3

Ibunya Iis berbaring di kursi ruang tamu, hari sudah menjelang Maghrib saat Iis belum juga pulang, dan Ibu membalas pesannya tak juga dibalas lagi, bahkan tak dibaca.


Ibu pun walhasil galau setengah mati, memikirkan anak gadisnya itu sambil merasa perutnya melilit sakit karena telat makan hingga asam lambungnya naik.


Ah Ibu nyatanya memang suka begitu, hobinya telat makan, jika tidak diingatkan. Hari ini sudah diingatkan pun tetap ia telat makan karena saking sibuknya mengobrol dengan Bu RT tentang calon mantunya.


Hihihi... Calon mantu nih yeeee, padahal kan othor belum ACC.


(Tiarap takut ditimpuk emak-emak)


Ke mana anak itu?


Sebentar lagi maghrib, apa tidak takut ketemu wewe gombel?


Ibu membatin.


Hingga akhirnya...


Suara motor Ridwan pun terdengar memasuki halaman rumah Iis.


"Ah mereka pulang."


Kata Ibu yang begitu mendengar ada motor masuk halaman, Ibunya Iis tentu saja langsung bangkit dari posisinya karena ingin menyambut anak dan calon menantunya pulang.


Tapi...


"Adduuuuh..."


Ibu kembali merasakan perutnya sekarang seperti di peras, hingga tiba-tiba kepalanya terasa berputar-putar, pandangannya makin lama makin tidak jelas, dan...


"Astaghfirullah..."


Ibu jatuh ke lantai, tapi ia masih dalam keadaan sadar.


Tepat saat itu, Iis terdengar mengucap salam,


"Assalamualaikum..."


Dan bersamaan dengan itu suara derit pintu utama pun terbuka.


Iis yang begitu membuka pintu dan masuk ke dalam melihat Ibu ada di ruang tamu dalam keadaan jatuh di lantai, tentu saja langsung panik.


"Ya Allah, Ibuuu... Ibuuu... Kenapa Buuu..."


Iis menghambur ke arah Ibunya.


Ridwan yang memang akan mampir sebentar untuk menemui Ibunya Iis karena mendengar suara Iis di dalam seperti ada sesuatu yang terjadi, akhirnya langsung berlari masuk ke dalam rumah Iis.


"Ada apa?"


Tanya Ridwan pada Iis yang kini tengah berusaha membantu Ibu berdiri dari lantai.


Ridwan pun cepat membantu,


"Kita ke dokter saja?"


Tanya Ridwan.


Ibunya Iis menggeleng,

__ADS_1


"Panggil saja Bidan Harti, Is. Biasanya Bu Harti juga tahu kok kalau asam lambung naik."


Kata Ibu dengan suara lirih karena menahan sakit.


Iis mengangguk,


"Nggih Ibu, nanti Iis telfonkan Bu Harti, Ibu ke kamar dulu saja."


Kata Iis seraya menuntun Ibunya menuju kamar dengan dibantu Ridwan.


"Bu Harti jauh atau tidak rumahnya?"


Tanya Ridwan.


"Tidak Mas, hanya selang empat rumah di belakang mushola, ini samping gang rumah, masuk terus ada mushola rumah warga, nah dari situ empat rumah ke belakang."


Jelas Iis.


"Kalau begitu aku ke sana saja, biar cepat."


Kata Ridwan.


Iis menatap Ibunya, yang kini sudah mereka bantu berbaring di atas tempat tidur.


"Ibu telat makan lagi to?"


Tanya Iis yang langsung tahu Ibunya pasti kambuh karena telat makan.


Tampak Ibunya nyengir.


Iis menghela nafas,


"Ssstt... Sudah, orang sakit diomeli."


Ridwan mengingatkan, Iis menoleh ke arah Ridwan, yang kini Ridwan tersenyum.


"Jangan mengomeli Ibu."


Kata Ridwan lagi, Ibu yang dibela tentu saja jadi senyum-senyum dan perutnya pelahan langsung membaik.


"Bukan mengomel Mas, aku hanya khawatir kalau Ibu sakit."


Kata Iis dengan mata berkaca-kaca.


"Aku hanya punya Ibu, aku ingin Ibu sehat terus, panjang umur."


Tambah Iis lagi.


Ibu mencoba menggapai tangan Iis, dan kemudian meminta Ridwan mendekat juga.


"Sudah, Ibu sudah tidak apa-apa, tadi hanya melilit saja, dan tiba-tiba kunang-kunang, belikan Ibu bubur ayam saja, Ibu ingin makan bubur."


Ujar Ibu.


Iis menatap Ibunya dengan heran,


"Ibu serius apa?"


"Ibu serius sudah tidak apa-apa, apalagi melihat kalian berdua, Ibu tentu saja ingin sehat terus."

__ADS_1


"Bu... Ibu..."


Iis mulai yakin Ibu akan bicara aneh-aneh.


"Nak Ridwan..."


Panggil Ibu.


Iis yang takut Ibu akan bicara aneh-aneh, langsung mengajak bicara Ridwan lebih dulu.


"Ngg kita lebih baik cari bubur ayam saja Mas, ayo sekalian Mas kan katanya mau pulang kan, udah mau Maghrib lho."


Ajak Iis, tapi sayangnya Ridwan menolak,


"Sebentar Is, ini Ibu mau bicara..."


Kata Ridwan.


Iis menghela nafas,


"Nanti saja, itu bubur ayamnya nanti keburu jalan lagi, kan Ibu sukanya yang mangkal dekat gapura itu yang mau masuk RT sebelah."


Iis benar-benar berusaha agar Ridwan tak bicara apapun dengan Ibu lagi, tapi mana mau tahu Ibu. Dalam kepanikan Iis yang berusaha melakukan semua hal agar Ridwan cepat pergi dari rumahnya, Ibu bicara dengan serius.


"Nak Ridwan, bisa bicara berdua saja sebentar?"


Tanya Ibu.


Iis jelas menatap Ibunya dengan berat hati.


"Bu..."


Iis mau protes, tapi...


"Sudah sana kamu beli bubur, Ibu ada penting dengan Nak Ridwan."


"Tapi..."


Iis menatap Ridwan yang malah mengangguk tanda setuju dengan Ibunya Iis.


Iis mengurut keningnya.


Lalu akhirnya karena enggan berdebat, Iis pun terpaksa mengalah keluar dari kamar Ibunya.


Apa yang akan Ibu bicarakan dengan Ridwan?


Ah memalukan sekali jika Ibu membicarakan soal Iis.


Iis menutup pintu kamar Ibunya pelahan, tapi telinganya ia tempelkan di pintu kemudian.


Lamat-lamat didengarnya suara Ibu...


"Nak Ridwan, bisakah Ibu titip Iis pada mu?"


Tanya Ibu,


"Dia hanya punya Ibunya, sedangkan Ibu sering sakit-sakitan, Ibu khawatir jika kelak ia harus Ibu tinggalkan, padahal ia masih sendiri."


Kata Ibunya Iis, membuat Ridwan jelas saja langsung terdiam, karena saking terkejutnya mendengar pertanyaan Ibunya Iis itu.

__ADS_1


**----------**


__ADS_2