Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
59. Kenyataan Menyakitkan


__ADS_3

Ridwan menatap kertas surat yang Mbak Wening letakkan di atas meja makan dekat piring bekas Ridwan makan siang.


Setelah makan siang, Mbak Wening memang akhirnya menceritakan semuanya yang ia alami pagi tadi di rumah Pak Haji Syamsul pada Ridwan.


Tentu saja, ini adalah pukulan yang sangat luar biasa untuk Ridwan, ia sungguh tak menyangka jika selama ini kenapa Anisa tak menjawab suratnya adalah karena surat itu sampai di tangan Abahnya.


Ridwan menghela nafas, melihat Mbak Wening yang bercerita sambil menangis membuat Ridwan merasakan kesedihan dan sakit yang teramat.


Bukan masalah ia dihina seperti apa, tapi hinaan itu ditimpakan pada sang kakak, jelas membuat hati Ridwan rasanya begitu tersayat-sayat.


Ridwan meraih kertas surat yang pernah ia titipkan pada seorang teman untuk diberikan pada Anisa.


Surat yang ia tulis dari hati yang paling dalam, karena memang Ridwan merasa harus menulisnya agar lega sebelum ia berangkat ke pesantren dan ia jadi bisa fokus belajar saja.


"Kenapa kamu tidak cerita bahwa kamu memiliki hubungan dengan Mbak Anisa? Jika saja kamu cerita, tentu Mbak tidak perlu masuk ke rumah itu untuk jadi asisten Rumah tangga."


Kata Mbak Wening.


Ridwan menghela nafas,


"Aku tidak pernah merasa kami ada hubungan Mbak, selama ini hanya ada aku yang menulis surat, itupun tak pernah ada balasan."


Kata Ridwan.


"Pantas saja Mbak Anisa sering menanyakan tentangmu, dia tahu Mbak kakakmu."


Kata Mbak Wening.


Ridwan menggeleng pelan,


"Aku tidak tahu Mbak, aku tidak tahu Anisa paham dari siapa."


Ujar Ridwan, tampak tangan Ridwan yang menggenggam kertas surat yang dulu ia berikan pada Anisa itu tergetar.


"Seharusnya jika memang Pak Haji Syamsul berniat menghinaku, ia bisa langsung memanggilku."


Lirih Ridwan menyesalkan kenapa Mbak Wening yang harus menanggung semuanya.


Mbak Wening tampak menyeka tetesan air matanya yang ada di pipi.

__ADS_1


"Mbak justru tidak ingin mereka sampai bicara di depanmu Wan, jangan pernah sampai, sungguh Mbak tidak ridho, sudahlah Wan, lupakan saja Mbak Anisa, masih banyak perempuan yang lebih akan bisa menerimamu, baik dirinya maupun keluarganya."


Kata Mbak Wening.


"Apa Anisa juga ikut menghinaku Mbak?"


Tanya Ridwan,


Mbak Wening menatap Ridwan.


"Wan, tidak peduli dia ikut menghina atau tidak, keluarganya sudah terang-terangan menolakmu, menuduhmu mencintai Anisa hanya untuk warisan toko emasnya, itu sudah lebih dari cukup untuk kamu jadikan alasan tidak perlu memikirkan Anisa lagi."


Mbak Wening berapi-api.


"Ingat Wan, mereka bukan hanya menghinamu, tapi juga menghina setiap orang yang lulusan pesantren, mereka merendahkan orang-orang santri, yang seharusnya mereka sebagai muslim justeru ikut membanggakan mereka orang-orang santri."


Kata Mbak Wening.


Ridwan mengangguk mengerti.


Sejujurnya, sebagai manusia biasa, Ridwan juga sekarang rasanya dada seperti terbakar amarah dan juga sakit setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Mbak Wening.


Namun, Ridwan berusaha untuk tidak terbawa emosinya yang nantinya hanya akan membuat syetan tertawa terbahak-bahak.


"Jadi, Mbak Wening sudah resmi tidak akan bekerja lagi di rumah Pak Haji Syamsul?"


Tanya Ridwan.


Mbak Wening mengangguk.


"Buat apa Mbak bekerja di tempat orang sombong seperti mereka."


Kata Mbak Wening pula,


"Wis Ning, kita boleh tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, tapi jangan membenci mereka sebagai manusia. Bagaimanapun mereka tetap mahluk yang juga ciptaan Allah."


Ibu akhirnya ikut bersuara.


Ridwan mengangguk setuju,

__ADS_1


"Mungkin ini juga cara Allah untuk kamu bisa mulai jalan lain mencari rezeki, bukankah memang sudah lama juga kamu ingin bekerja cukup dari dalam rumah? Sekarang keinginanmu sudah diijabah, mungkin memang terkabulnya keinginan caranya tidak seperti yang kita ingin, tapi tetap saja pasti akan ada banyak hikmah Ning. Sabarlah... sabar..."


Mbak Wening menghela nafas dan akhirnya mengangguk pelan mengiyakan apa kata sang Ibu.


"Kamu juga Wan, sebetulnya kalau Ibu, tidak akan mengatur perasaanmu, tentu hatimu adalah milikmu sendiri, mau condong ke mana, mau cinta pada siapa dan lain sebagainya, adalah tentu itu hak kamu, Ibu tidak akan mencoba mencampuri. Tugas Ibu sebagai orangtua hanyalah memberikan restu, jika ada nasehat, Ibu akan berikan sebagai bekal kamu berjalan ke depannya."


Ibu menatap Ridwan yang mengangguk dalam diam.


"Tapi..."


Ibu mulai menyelipkan kata tapi, kata yang sakral setiap kali kata itu orangtualah yang mengucapkannya,


"Tapi kamu juga harus ingat, bahwa yang namanya pernikahan itu tidak hanya melibatkan dua orang saja. Di sana akan selalu ada orangtua dan saudara-saudara kedua belah pihak, dan kamu tak bisa mengabaikan akan hal itu."


Ujar Ibu pada Ridwan.


"Nggih Bu, Ridwan juga sangat memahami itu."


"Itu sebabnya, jika hatimu masih ingin tetap memperjuangkan cinta Mbak Anisa, kamu harus meyakinkan diri bahwa perempuan itu memiliki keluarga yang tak bisa menerimamu apa adanya."


"Hmm betul."


Mbak Wening nimbrung perkataan Ibunya.


"Misalnya, kamu pergi lalu merantau, ternyata di perantauan dicoba usaha lalu sukses, kamu datang lagi pada keluarga Anisa. Setelah kamu sukses baru mereka menyambut, itu juga tetap menunjukkan bahwa mereka bukan menerimamu, tapi kesuksesanmu."


Ridwan menatap kertas di tangannya.


Anisa...


Padahal baru kemarin mereka mulai dekat setelah mereka lama tak bertemu,


Baru kemarin juga, mereka baru bertukar nomor hp dan sempat chat meskipun hanya mengucapkan salam.


Ya...


Ridwan pikir hubungan mereka akan bisa dimulai pelahan sejak kemarin, bisa jadi dekat dan bisa lebih saling mengenal satu sama lain.


Tapi...

__ADS_1


Nyatanya hidup ini memang selalu punya caranya sendiri untuk bermain teka-teki, dan Ridwan pun tak menyangka jika semua yang belum apa-apa ternyata jadi seperti saat ini.


**---------------**


__ADS_2