
Pagi hari, Ibunya Iis yang baru keluar kamar untuk menuju kamar mandi dikagetkan suara seseorang yang seperti sedang muntah-muntah.
Ibunya Iis pun tergesa berjalan ke arah dapur dan langsung menuju kamar mandi di mana kini Iis terlihat berdiri di dekat toilet duduk.
"Is..."
Panggil Ibu,
Iis yang mendengar suara Ibunya lantas menoleh ke arah pintu masuk kamar mandi yang ia memang tak sempat tutup.
Melihat wajah Iis yang pucat pasi, Ibunya pun segera menghampiri.
"Kenapa Is? Sakit?"
Tanya Ibu seraya meraih Iis yang tubuhnya terasa panas.
"Kamu demam tinggi."
Kata Ibu yang langsung jadi panik.
"Sejak kapan ini? Semalam sepertinya kamu baik-baik saja."
Ujar Ibu.
Iis terlihat sempoyongan, ia menggeleng pelan.
"Tidak Bu, memang sejak kemarin sebetulnya sudah tak enak badan, tapi entah kenapa tadi mau sholat subuh badan terasa demam, sholat juga seperti jadi buru-buru karena ingin muntah."
Tutur Iis.
"Oalah, wis, wis... Ayuk masuk kamar, Ibu buatkan air hangat dulu sama masakan bubur."
__ADS_1
Ujar Ibu sambil membantu Iis yang sempoyongan agar bisa tetap berjalan keluar dari kamar mandi.
"Sebaiknya ijin dulu saja, kamu harus ke dokter dan istirahat."
Kata Ibu pada Iis.
Tampak Iis mengangguk.
"Ya Bu, Iis juga memang tadi sudah terpikir untuk ijin mengajar hari ini."
Ibu menuntun Iis sampai kamar sang anak, dan membantu Iis naik ke tempat tidur sampai berbaring.
Ibu mengusap kening Iis yang terasa benar-benar panas.
"Sebentar, Ibu buatkan air hangat dulu agar perutmu membaik, nanti Ibu tinggal sebentar untuk panggil Bu Bidan."
Kata Ibu seraya menyelimuti Iis.
Iis menghela nafas, ia sungguh merasa tubuhnya memang benar-benar tak enak.
Selain demam, kepalanya juga pening dan perutnya mual sekali.
Ibu sendiri di dapur tampak sibuk merebus air.
Sambil merebus air, Ibu tampak mencuci beras untuk ia masak menjadi bubur.
Ibu ingat masih ada abon sapi, nanti tinggal Ibu masak telor ceplok saja untuk teman makan bubur.
Begitu niat Ibu.
Trrtttt...
__ADS_1
Trrrttt...
Trrrtttt...
Hp Iis di atas meja bergetar, sepertinya sebuah panggilan masuk.
Entah siapa yang menelfon di saat pagi seperti ini.
Iis rasanya ingin mengambil hp nya saja malas, karena untuk mengambil hp itu, tentu saja Iis harus bangun dari posisinya dan turun sebentar dari tempat tidur, yang mana hal itu sedang tak bisa ia lakukan seperti biasanya.
Iis menghela nafas, saat hp nya kembali bergetar.
Untungnya, bersamaan dengan itu, Ibunya Iis telah kembali, ia masuk ke dalam kamar dan mendapati hp anaknya di atas meja itu tampak ada panggilan masuk.
Ibu menghampiri meja dan meraih hp Iis sebentar dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya ia gunakan untuk membawa gelas air putih hangat yang telah dicampur madu untuk Iis.
"Sinten Bu?"
Tanya Iis.
"Anisa, mau diangkat?"
Ibu balik bertanya.
Iis tampak mengangguk pelan, Ibunya pun akhirnya memberikan hp Iis agar anaknya bisa bicara dengan Anisa, sahabatnya.
**---------------**
(((((( Hai gaes, sori ya... aku lagi teramat sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor sampai pertengahan bulan depan. Jadi aku mungkin akan menulis tidak seaktif biasanya, tapi InshaAllah di dalam ketidak aktifan ini, semua novel yang masih menggantung akan aku tamatkan.
Maaf ya, karena bagaimanapun, tanggungjawab sebagai karyawan juga harus diutamakan. Semoga kalian selalu sehat ya, lop lop u all)))))
__ADS_1