Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
39. Hadiah Terbaik


__ADS_3

Ridwan dan Anisa sejenak saling bertatapan, meski akhirnya masing-masing sama-sama menunduk.


Anisa karena malu-malu kucing, sedangkan Ridwan tentu saja merasa bahwa tidak boleh memandang yang bukan mahrom lebih dari tiga detik.


Tidak boleh, jika nantinya cintanya pada Anisa justeru berganti menjadi perasaan yang dilarang.


"Maaf Ustadz, boleh saya mengambil video saat Suci mengaji? Ibunya meminta saya mengirimkan."


Kata Anisa dengan suaranya yang lembut mendayu.


Ridwan mengangguk lalu mempersilahkan Anisa masuk,


Anisa lantas mengambil tempat duduk di posisi belakang Ustadz Ridwan.


Suci akan mengaji selang satu anak lagi.


Anisa memperhatikan cara Ridwan mengajari anak didiknya satu demi satu dengan telaten, melihat hal itu membuatnya semakin takjub dan jadi membayangkan saat kelak Ridwan menjadi Imam dalam rumah tangga yang mereka bangun.


Tapi...


Astaghfirullah, Anisa menggelengkan kepalanya, seolah berusaha menyingkirkan pikiran yang merasuki dirinya.


Bagaimana bisa ia malah jadi berpikir soal rumah tangga bersama Ridwan, padahal hubungan mereka saja belum jelas saat ini.


Mungkin benar, Ridwan pernah mengungkapkan perasaanya meskipun dalam kalimat yang masih belum terlalu jelas karena masih terbilang anak baru gede.


Cinta anak ingusan atau yang lebih dikenal cinta monyet itupun belum tentu masih Ridwan miliki untuk Anisa. Begitulah Anisa mencoba menyadarkan dirinya.


Tampak gadis cantik itu menghela nafas, kembali di fokuskan nya melihat proses belajar mengajar Ridwan pada Suci dan teman-temannya.


Hingga kemudian tiba saat Suci yang duduk menghadap Ridwan.


Suci terlihat tegang, karena Bibinya, Anisa tampak bersiap mengambil video saat Suci mengaji.


Suci menatap Bibinya yang kini berdiri sekitar satu meter di belakang Ridwan duduk.


"Alfatihah dulu ya Suci, nanti setelah Alfatihah bacaannya bagus, kita ganti baca tahyat."


Ujar Ridwan pada Suci.


Suci mengangguk.


"Nggih Pak Ustadz."


Sahut Suci pula.


Suci lantas membaca surah Al-fatihah sebagaimana teman-temannya juga begitu sebelum akhirnya meneruskan membaca yang terakhir kali mereka mengaji bersama Ustadz Saleh.


Anisa terlihat sigap mengambil video Suci yang mulai mengaji, sesekali Ridwan terdengar membetulkan cara Suci membaca alfatihah.


Hingga kemudian, Suci akhirnya selesai, dan Ridwan memberikan beberapa catatan untuk Suci agar nanti bisa diberikan pada orang tuanya.


Bukan hanya Suci tentu saja, namun juga teman-temannya Suci.


Setelah Suci, masih ada dua anak lagi yang mengaji pada Ridwan.

__ADS_1


Anisa kembali duduk.


Ia kemudian mengirimkan video ke nomor sang kakak, sebagaimana permintaannya.


Sekitar setengah jam setelah itu, saat akhirnya Ridwan selesai mengajarkan satu persatu anak didiknya, ia lantas mengakhiri pelajarannya hari ini dengan pesan agar anak-anak tetap mengaji setelah Maghrib, mengulang apa yang baru mereka baca.


"Hiasilah rumah kalian dengan bacaan ayat suci Alquran, supaya tampak cahaya dari langit, dan dimudahkan rohmat datang kepada rumah kalian. Membuat kalian nyaman tinggal di dalam rumah, karena Malaikat menjaga kalian dari banyak sisi. Dan pastinya, kalian yang menjadi anak-anak Sholeh dan Sholihah, akan jadi pelita untuk kedua orangtua."


Kata Ridwan berpesan.


"Ustadz, apakah benar kalau orangtua kita meninggal, lalu kita baca doa akan membuat mereka bahagia?"


Tanya seorang anak yang merupakan teman Suci.


Ridwan tersenyum lalu mengangguk,


"Ayah saya meninggal dua bulan lalu karena sakit Pak Ustadz, Ibu masih terus menangis, tapi Kakak bilang padaku, aku laki-laki tidak boleh menangis, kalau sedih bacalah doa untuk Ayah."


"Benar kata Kakak,"


Jawab Ridwan.


"Kakak jadi ketua rohis di sekolah, idola kakak adalah ustadz Adi Hidayat."


Kata anak itu.


Ridwan mengangguk dan lagi-lagi sambil tersenyum.


Sungguh satu kebahagiaan tersendiri, di masa seperti ini, masih ada anak-anak muda yang aktif di rohis, belum lagi idolanya adalah seorang Ustadz yang memang ilmu beliau begitu mengagumkan.


"Mau Ustadz ceritakan sebuah kisah yang Ustadz dengar dari Guru Ustadz di pesantren?"


"Mau..."


Anak-anak kompak menjawab.


Anisa yang duduk di posisi di belakang Ridwan juga tampak antusias ingin mendengar, karena tentu ia ingat Umi.


Ridwan sejenak menutup Alqurannya, meletakkannya di sisi kanan dirinya, lalu ia menatap satu persatu anak-anak didiknya dengan lembut.


"Diceritakan ada seorang alim yang suka sekali menghadiahkan surah Alfatihah untuk para muslimin dan muslimah yang telah wafat, beliau selalu membacanya setiap selesai sholat. Saking istiqomahnya amalan itu, beliau tiba-tiba mendapatkan mimpi."


Ridwan mengawali kisahnya,


"Mimpi apa ustadz?"


Tanya Suci,


"Orang alim itu duduk di satu tempat yang ia belum pernah mengunjunginya, ia melihat sebuah tumpeng besaaaar sekali, tumpeng makanan itu diletakkan di tengah tempat itu, tak lama tiba-tiba datang banyak sekali orang ke tempat tersebut, mereka berebut tumpeng makanan berukuran besar yang diletakkan di tengah tempat tersebut. Mereka seperti orang-orang yang sangat kelaparan."


"Orang alim itu melihat mereka makan seperti kelaparan itu menjadi kasihan, sungguh pasti mereka sangat senang menemukan tumpeng makanan sebesar itu."


"Namun, tiba-tiba ada satu orang Bapak yang duduk saja diam dan hanya melihat mereka yang berebut makanan. Orang alim itu bingung, kenapa orang itu sepertinya tenang sekali, tidak ikut berebut makanan, pun juga tampaknya ia tidak lapar."


"Maka... Orang alim itu daripada penasaran mendatangi bapak tersebut, beliau bertanya pada di bapak itu."

__ADS_1


"Hai Bapak, kenapa anda tidak ikut makan? Apa anda tidak lapar? Tanya si Orang alim."


"Lalu si Bapak yang ditanya menjawab, saya tidak lapar, saya tidak perlu berebut makanan dengan mereka, karena setiap hari, anakku mengirimiku hadiah."


Suci dan teman-temannya tampak melongo,


"Hadiah apa Ustadz?"


Tanya Suci pemasaran.


"Suci dengarkan dulu sampai selesai, jangan suka menyela."


Kata temannya.


Ridwan tersenyum, lalu melanjutkan ceritanya,


"Bapak itu menunjuk tumpeng besar itu, sambil berkata pada si orang alim, sesungguhnya tumpeng besar itu adalah hadiah darimu untuk para muslimin dan muslimat yang telah tiada, mereka yang tak mendapatkan kiriman doa dari keluarganya kelaparan dan akhirnya berebut doa yang kamu kirimkan."


"Sementara anakku, si Fulan, ia tak pernah lupa memberikan aku hadiah, ia terus memberiku setiap hari."


"Siapa nama anakmu hai Bapak? Tanya orang alim itu. Lalu Bapak itu menyebutkan nama si anak, ia juga tak lupa memberitahu pada si orang alim, bahwa anaknya si fulan berdagang di dekat pintu pasar."


"Setelah Si Bapak menyebutkan nama anaknya dan juga namanya sendiri, tiba-tiba orang alim itu bangun dari tidurnya, ia kaget begitu terbangun karena mimpinya terasa nyata."


Ridwan menatap satu persatu anak didiknya lagi, baru kemudian ia melanjutkan ceritanya,


"Esok paginya, beliau si orang alim akhirnya datang ke pasar, penasaran iapun mencari nama si anak, dan betapa kagetnya beliau, manakala ternyata benar ada nama anak itu yang juga benar si fulan itu berjualan di dekat pintu pasar."


"Maka orang alim itupun akhirnya mendatangi tempat si fulan berdagang, ia bertanya pada si fulan apakah ia mengenal nama seorang Bapak, dan saat orang alim itu menyebutkan nama bapak yang ada di dalam mimpinya, si anak terkejut."


"Darimana anda kenal Bapak saya? Apakah anda teman beliau semasa hidup? Apa Bapak saya berhutang pada anda? Tanya si anak itu pula."


"Tentu saja orang alim itu menggeleng, tidak! Kata si orang alim, aku datang karena ingin mengenalmu hai anak sholeh, sungguh amalan apa yang kau hadiahkan pahalanya untuk Bapakmu setiap hari? Hingga membuat Bapakmu di sana menjadi orang yang begitu beruntung."


"Anak itu bingung, apa maksudnya Bapak beruntung? Tanya si anak yang berjualan di pintu pasar itu. Lalu si orang alim menceritakan pengalaman mimpinya, membuat si anak itu menangis tersedu-sedu. Alhamdulillah... Alhamdulillah... Saya yakin dan percaya, Allah pasti akan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Bapak di sana."


"Orang alim itu menepuk-nepuk bahu si anak muda itu, lalu si anak itu kemudian berkata lagi, aku sesungguhnya saat menunggu pelanggan datang membaca sholawat dan sholawat itu aku hadiahkan untuk Bapak, dan setelah sholat aku hadiahkan Al-fatihah untuk Bapak juga."


"Orang alim itu terlihat berkaca-kaca, sungguh benar apa yang disampaikan Rasulullah, bahwa amalan yang tak terputus dari seorang mayit adalah doa anak yang Sholeh."


Anisa di belakang Ridwan, yang duduk ikut mendengarkan menangis tersedu, betapa nyeri hatinya mendengar kisah itu.


Terbayang pada dirinya jika selama ini ia hanya sibuk meratap, menangisi kepergian Umi, mengutuk dirinya sendiri dengan rasa bersalah yang tak berkesudahan.


Tapi...


Tapi Anisa lupa, bahwa yang dibutuhkan seseorang yang telah meninggal tidak ada lagi selain doa.


Mau seperti apapun Anisa menyesal, tetap saja Anisa tidak akan membuat Uminya hidup lagi, dan waktu bisa diputar ulang.


Dan...


"Itu sebabnya, kalian setiap selesai sholat, bacakan doa untuk orangtua, kirimkan hadiah untuk para muslimin dan muslimat yang telah meninggal. Mereka yang banyak dilupakan keluarganya agar bisa tetap makan dan tidak kelaparan."


Kata Ridwan mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


Anak-anak mengangguk.


**--------------**


__ADS_2