
"Maaf ya nak Ridwan, agak lama nunggu,"
Kata Ibu ketika akhirnya keluar dari rumah dan tampak Ridwan benar telah menunggu di sana.
Di luar pagar rumah tampak sebuah mobil model minibus warna abu-abu.
"Mas Arif, mewakili Pak Haji Imron, hari ini beliau berhalangan hadir di acara resepsi karena ada keperluan mendesak."
Ujar Ridwan menjelaskan pada Ibunya Iis saat Ibunya Iis melihat ke arah mobil yang terparkir di depan pagar rumah.
"Oh Mas Arif dengan Mbak Salwa juga to Mas?"
Tanya Iis,
"Tidak Is, Mbak Salwa juga tidak bisa ikut karena ada tamu di pondok,"
Terang Ridwan.
"Ooh begitu,"
Iis mantuk-mantuk,
"Yo wis, ayuk berangkat saja, nanti acaranya takutnya malah sudah selesai."
Ujar Ibu.
Ridwan pun mengangguk, pemuda itu mengikuti calon mertuanya menuruni dua tiga anak tangga dari teras, untuk selanjutnya berjalan menuju mobil.
Iis sibuk mengunci pintu rumah, setelah selanjutnya mengecek jendela semua terkunci, Iis pun baru kemudian menyusul Ibu dan Ridwan.
"Mbak,"
Mas Arif yang duduk di belakang kemudi terlihat tersenyum mengiringi sapanya yang ramah pada Iis begitu gadis itu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Ibunya.
Iis tampak mengangguk kecil,
Ridwan yang duduk di samping Mas Arif yang hari ini akan mengemudikan mobil tampak menoleh ke belakang.
"Sudah semua ya? Tidak ada yang ketinggalan?"
Tanya Ridwan.
"Tidak ada Mas, inshaAllah sudah tidak ada yang tertinggal."
__ADS_1
Jawab Iis,
Ridwan mengangguk,
"Oke, kita berangkat sekarang nggih Pak Ustadz?"
Tanya Mas Arif minta persetujuan, Ridwan pun mengiyakan.
Mobil pun pelahan melaju, meninggalkan depan pagar rumah Iis untuk menuju gedung tempat acara resepsi pernikahan Anisa dan Wisnu digelar.
Pesta resepsi yang pastinya akan dihadiri cukup banyak penggede, baik pengusaha, maupun pejabat daerah, dan bisa juga orang-orang profesional lainnya, macam dokter, polisi, dan dosen.
Ya, sudah jelas, bahwa kelas keluarga Bibik Sundari nyatanya bukanlah orang kaya ecek-ecek.
Usahanya sebagai pemroduksi perhiasan yang cukup besar di kota ini, bahkan hingga bisa menjadi salah satu tempat untuk langganan banyak orang kelas atas dan juga toko-toko emas membuat nama Bibik Sundari dan keluarga sangat terpandang.
"Is, bedak Ibu terlalu tebal tidak?
Tanya Ibu pada Iis,
Tampak Iis menatap Ibunya dari dekat, gadis itu lantas menggelengkan kepalanya pelahan,
"Mboten Bu, sudah pas."
"Kalau gincu? Terlalu tebal atau bagaimana?"
Tanya Ibu lagi,
Iis kembali menggeleng dengan sabar,
"Sampun Bu, hari ini Ibu sudah cantik, jangan khawatir."
Kata Iis membuat hati Ibunya berbunga-bunga.
Ridwan yang duduk di depan tampak mengulum senyum, meski sambil sibuk membaca buku.
**--------------**
Anisa yang tak begitu sehat, tampak duduk di pelaminan di samping Wisnu.
Anisa tak sanggup berdiri karena ia merasa sangat lemas, akhirnya karena Wisnu juga tak ingin Anisa kenapa-kenapa, diputuskanlah Anisa dan Wisnu duduk saja saat beramah tamah dengan tamu.
Acara telah berlangsung hampir satu jam setengah, tamu sudah membanjiri gedung di mana resepsi Wisnu dan Anisa digelar.
__ADS_1
Para tamu yang sebagian besar adalah kolega keluarga Wisnu benar memang adalah para penggede, meskipun juga sesuai dengan keinginan Anisa dan Wisnu, tamu istimewa mereka juga ada yang dari panti asuhan.
Anak-anak yatim yang berjumlah sekitar tiga puluh anak itu terlihat duduk di salah satu bagian di ruangan tersebut, mereka terlihat menikmati hidangan dengan lahap.
Banyak para penggede yang begitu melihat ada anak-anak yatim hadir akhirnya bertanya pada sang pengurus panti, di mana alamat mereka.
Sebagian langsung menitipkan sedikit rezeki, sebagian lainnya berniat akan datang.
Inilah yang dinamakan salah satu dakwah tanpa kata-kata. Di mana kewajiban dakwah memang bukan hanya tugas seorang da'i saja, namun juga untuk semua muslim dengan cara yang berbeda.
Dakwahnya da'i, ulama, kyai, ustadz adalah dengan memberikan ilmu, mengajarkan cara ibadah yang benar, dan memberitahu mana yang halal dan mana yang haram.
Sedangkan, untuk orang awam, maka dakwahnya adalah sesuai dengan profesi, termasuk juga dengan cara mengajak pada hal kebaikan.
Ya...
Tentu saja,
Bukankah anak yatim adalah salah satu kelompok umat manusia yang sangat diperhatikan oleh Allah?
Saking istimewanya kedudukan mereka, hingga rasanya Allah sering sekali menyebut mereka di dalam Alquran.
Apalagi mengingat Rosulullah juga merupakan seorang anak yatim, baginda kita, junjungan kita, tentu kita sebagai umat Islam harus mencintai anak-anak yatim lebih dari umat agama lain.
Suara vokalis band lokal yang mengisi acara terdengar menyanyikan lagu beautiful in white milik Shane Filan, lagu yang begitu indah itu memenuhi setiap sudut ruangan, menemani para tamu hadirin menikmati santap siang.
"Setengah jam lagi, masih kuat kan?"
Tanya Wisnu dengan suara lembut di samping Anisa, tampak Anisa mengangguk,
"Masih, aku masih kuat."
Kata Anisa, meskipun ia yakin wajahnya terlihat pucat sekarang, karena perutnya mulai terasa sakit melilit dan perih.
Wisnu meraih tangan Anisa sebentar untuk menggenggamnya dengan lembut, seolah pengganti kalimat bahwa Anisa mulai saat ini tak perlu lagi mengkhawatirkan apapun karena Wisnu telah menjadi suami.
Ya...
Suami yang akan menjaga, melindungi dan tentu saja membahagiakan Anisa baik jiwa maupun raga.
Wisnu telah berjanji, baik pada dirinya sendiri maupun pada Allah, saat semalam ia melakukan sholat hajat agar pernikahannya dengan Anisa diberi rohmat dan keberkahan.
Hingga...
__ADS_1
**-----------**