
Iis dan Ibunya berjalan lebih dulu daripada Ridwan memasuki gedung resepsi, setelah enjelberurutan mengisi daftar hadir di meja penerima tamu dan mendapatkan sebuah sovenir mungil.
Ada beberapa pilihan, ada anting, cincin, liontin, bahkan juga bross untuk jilbab, semuanya terbuat dari perak, begitu kata sang penerima tamu menjelaskan ketika Iis dan rombongan dipersilahkan memilih sovenir.
"Luar biasa, sovenirnya saja dari perak."
Kata Ibu terkagum-kagum,
Ridwan yang berdiri di dekat Ibunya Iis tampak tersenyum dalam posisi wajah tertunduk,
Tentu saja ia memaklumi, bahwa memang perempuan sudah tabiatnya menyukai hal-hal semacam itu.
Allah menciptakan mereka para perempuan menyukai keindahan, menyukai kemewahan, memiliki keinginan akan banyak hal, maka kelak, ketika perempuan belajar agama dengan baik, mengamalkannya dengan baik, mereka akan mampu mengendalikan keinginan-keinginan yang banyak itu.
Mereka akan mampu memilah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang sekedar kebutuhan dan mana yang hanya keinginan, dan yang jelas, mereka akan mampu mengendalikan diri untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, dan tak akan menuntut laki-laki yang menjadi pasangannya untuk memberikan apa yang ia inginkan dengan cara yang tidak halal.
"Yang mana Is, mau milih yang mana?"
Tanya Ibu yang seperti bingung mau memilih yang mana karena semuanya cantik dan indah.
"Ibu yang paling ingin yang mana?"
Tanya Iis,
"Ini sama ini sama ini."
Kata Ibu sambil menunjuk liontin, bross dan cincin.
Iis jadi tertawa geli,
"Sudah itu yang bross sama liontin saja Bu, punya Iis buat Ibu."
Kata Iis akhirnya, Ibu pun mengangguk setuju,
__ADS_1
Ibu mengambil bross bunga dan liontin berbentuk bunga juga.
Ibu juga memang penyuka bunga, jadi tak heran jika ia menyukai aksesoris juga dari bentuk-bentuk bunga.
Setelah Ibu memilih sovenir, Iis pun menggandeng tangan Ibu untuk memasuki ruangan yang telah di hias begitu indahnya.
Bunga ada di mana-mana, tamu begitu banyak yang datang, sungguh ramai luar biasa.
Ridwan yang setelah Ibu dan Iis pergi, lantas memilih sovenir bross untuk Ajeng di rumah. Sementara Mas Arif di belakang Ridwan juga sama memilih bross.
Mereka menyusul Iis dan Ibu memasuki ruangan resepsi.
Menyeruak di antara para tamu yang tengah berbincang sambil mengantri di beberapa gerobak makanan.
Pelaminan terlihat begitu indah dihias berbagai macam bunga, ada pula taman kecil di depan panggung pelaminan.
Taman dengan air mancur buatan itu terlihat menambah keindahan pelaminan Anisa dan Wisnu.
Anisa yang dibalut dengan kebaya berwarna abu terlihat begitu cantik dan anggun.
Iis dan Ibu berjalan mendekati panggung pelaminan, begitupun dengan Ridwan dan Mas Arif.
Di atas pelaminan, Anisa yang semula sedang bicara dengan tamu yang mengajak bicara setelah minta foto tak sengaja melihat ke arah bawah panggung, ke arah Iis dan Ibunya yang kini tengah berjalan menaiki anak tangga, dan juga...
Anisa terkesiap, manakala di sana kemudian dilihatnya Ridwan juga ada berjalan di belakang Iis dan Ibunya Iis.
Ya...
Ridwan...
Pastinya ia diundang oleh Wisnu, Anisa seharusnya sudah tahu itu, tapi melihatnya datang tetap membuat dirinya seperti tak siap.
"Selamat ya, semoga cepat dapat momongan."
__ADS_1
Kata tamu yang semula bicara dengan Anisa dan Wisnu, yang merupakan kerabat Umi nya Anisa.
Anisa terkesiap, ia gugup mengangguk lalu tersenyum mengiring Wisnu yang mengaminkan doa.
Iis dan Ibunya berjalan semakin mendekati posisi Anisa dan Wisnu yang kini masih berdiri karena baru saja ada tamu yang mengucapkan selamat.
Ibu dan Iis bersalaman dengan Bibik Sundari dan suaminya yang duduk di sebelah kanan pelaminan, lalu kemudian baru menyalami Wisnu dan Anisa.
Iis memeluk Anisa sambil cipika cipiki, Anisa tampak matanya berkaca-kaca.
"Selamat Nisa, doaku selalu ingin kamu bahagia Nisa."
Kata Iis,
Anisa menganggukkan kepalanya sambil memaksakan senyuman sambil menahan air matanya agar tak sampai jatuh.
"Semua akan menjadi baik-baik saja bersama laki-laki yang tepat."
Lirih Iis lagi sembari merenggangkan pelukannya.
Anisa mengangguk lagi, meskipun kali ini ia tak mampu menatap wajah Iis.
Iis lantas mengusap lengan Anisa dengan lembut, lalu baru kemudian ia melanjutkan langkahnya untuk bersalaman dengan Mbak Faizah lalu berikutnya Pak Haji Syamsul.
Ibunya Iis juga menyalami Anisa, saat disalami Ibunya Iis, akhirnya Anisa tak sanggup menahan tangis, Ibunya Iis memeluk Anisa dengan erat, menepuk-nepuk punggung Iis dengan lembut.
Anisa tersedu-sedu, jelas ia memang butuh sekali seorang Ibu saat ini untuk bisa menumpahkan seluruh apa yang mengganjal di dalam dadanya.
"Wis cah ayu, tidak apa-apa, ini hari yang membahagiakan, tersenyumlah, kamu secantik ini, jangan menangis lagi."
Lirih Ibunya Iis,
**-------------**
__ADS_1