
Ridwan memberikan saputangan miliknya kepada Anisa yang tampak terus bercucuran air mata.
Teman-teman Suci sudah pulang karena jadwal mengaji telah selesai, sementara Suci yang masuk rumah untuk menyimpan Al-Qur'annya malah kepincut nasi goreng di meja makan.
"Jangan terlalu menyalahkan diri atas semua yang telah terjadi. Sesuatu yang terjadi sudah menjadi takdir, semoga Allah ridho atas usahamu untuk ikhlas Anisa."
Kata Ridwan pada perempuan cantik yang duduk di sebrang meja di depannya.
Anisa tampak menyeka air matanya dengan sapu tangan pemberian Ridwan, tentu saja wajah Umi terus membayang di pelupuk mata dan itu membuat hati Anisa serasa hancur berkeping-keping.
Ridwan sebetulnya tak tega melihat perempuan yang telah begitu lama menjadi kekasih hatinya itu menangis di sana, mungkin jika Ridwan adalah laki-laki yang tak pernah belajar ilmu agama, ia akan meraih tubuh Anisa dan memeluknya agar Anisa lebih tenang.
Tapi...
Tidak. Ridwan tahu bahwa itu bukanlah sikap laki-laki muslim, ia menatap Anisa seperti sekarang pun sebetulnya ia takut hisab atas matanya kelak akan semakin berat.
Tapi...
Ridwan sebagai laki-laki biasa juga merasa begitu terenyuh, melihat kekasih hati begitu bersedih, matanya seolah tak mampu berpaling.
Ia ingin terus memastikan Anisa tangisnya akan segera reda, ia ingin wajah itu akan segera kembali berhias senyuman.
"Apa yang harus aku lakukan agar tidak terus menerus merasa bersalah? Andai aku bisa bertemu Umi."
Lirih Anisa.
Ridwan tersenyum getir,
"Lebih banyaklah berdoa untuk Umi, jika selama ini hanya setelah sholat, maka tambahkan, jika selama ini hanya saat ke makam saja, maka doakan di manapun kamu berada, apapun yang lakukan sebagai kebaikan, niatkan pahalanya kamu hadiahkan untuk Umi."
Kata Ridwan.
__ADS_1
"Anisa, beliau pasti tidak ingin kamu terus larut dalam kesedihan, karena jika kamu terus sedih, di sana Umi juga tidak akan tenang. Kuburnya akan gelap, jalannya akan sempit."
Anisa menatap Ridwan sebentar, namun akhirnya kembali menunduk manakala Ridwan membalas tatapnya yang sebetulnya juga hanya sekilas saja.
"Saat bertemu pemulung atau pengemis di jalan, di pasar, atau di depan rumah, bersedekah diniatkan karena Allah dan dihadiahkan untuk Umi."
"Jika ada tetangga anak yatim, orang miskin, atau keluarga yang tak mampu, santuni dan niatkan karena Allah juga hadiahkan pahalanya untuk Umi."
"Atau memberikan rezekimu sebagian ke masjid, atau pondok, atau bahkan yang paling mudah ada kucing liar di pasar saat Anisa jaga di toko, itupun bisa jadi amal kebajikan yang mendatangkan pahala dan bisa Anisa hadiahkan untuk Umi."
Anisa mengangguk mengerti,
"Saat kemarin aku ke pasar, ada beberapa kucing liar di pasar yang sedang mengais sampah untuk makan dan mereka kurus-kurus sekali, Anisa bisa memulai dari sana pun tak mengapa, karena sesungguhnya memberi makanan pada setiap mahluk yang bernyawa adalah sedekah."
Kata Ridwan.
Anisa mengangguk lagi.
"Setelah itu, banyaklah membaca sholawat, karena sholawat itu tak ada penghalangnya, ia akan langsung didengar langit."
Kata Ridwan.
Ridwan menghela nafas, lalu...
"Jangan terus tenggelam dalam kesedihan, batas kita terlalu sedih seperti hanya tiga hari saja, selebihnya kita harus ikhlas dan ridho atas ketetapan Allah. Memang mudah diucapkan dan pastinya akan sulit bagi yang melakukannya. Tapi, kita harus berusaha bisa, pelan-pelan, lama-lama pasti akan bisa."
Kata Ridwan lagi.
Anisa kemudian mulai bercerita pengalamannya sejak Umi tidak ada. Di mana ia sering tidur tak tenang karena mimpi buruk.
Ia tidak bisa lagi menikmati istirahat sebagaimana dulu, karena ia selalu merasa terganggu saat tidur.
__ADS_1
Ridwan mendengarkan semua cerita Anisa dengan sabar.
Ia sesekali menatap kekasihnya, meski hanya hitungan detik.
Debar di dadanya membuatnya antara bahagia namun sekaligus ikut juga sedih melihat Anisa yang ternyata memendam kesedihan begitu dalam.
Sementara itu, di luar ruangan mengaji, di mana Anisa dan Ridwan duduk berhadapan meski di batasi meja panjang, tampak seorang gadis berdiri di dekat pintu.
Matanya menatap kedua insan yang ada di dalam ruangan tersebut dengan tatapan mata nanar.
Telinganya yang ikut mendengarkan setiap kata yang sejak tadi Ridwan ucapkan membuat hatinya tergetar sekaligus juga tersayat.
Apalagi, jika melihat bagaimana tatapan mata Ridwan yang begitu lembut dan teduh tampak menatap Anisa, jelas terpancar rasa cinta di tatap mata itu untuk Anisa.
Ya, Anisa Larasati, siapa yang tak mengakui kecantikannya.
Semua orang yang mengenalnya hampir tak ada yang mengatakan Anisa tidak cantik.
Gadis itu, yang tak lain adalah Iis, kini akhirnya memilih untuk pergi dan pulang lagi ke rumah.
Niat hatinya yang akan mengambil paper bag miliknya justeru akhirnya membuatnya jadi melihat semuanya, dan jadi menyadari bahwa hatinya yang semula hanya terkagum dengan sosok Ridwan ternyata memiliki rasa yang berbeda juga.
Pantaslah kemarin saat mendengar Anisa menyebutkan nama Ridwan, dadanya terasa bergemuruh.
Pantaslah kemarin saat Anisa seolah begitu bersemangat menceritakan tentang perasaannya dan harapannya dengan Ridwan membuat satu sisi hati Iis seperti ada yang tidak rela.
Cinta...
Benarkah aku mencintai laki-laki yang sama dengan sahabatku? Kenapa begitu? Kenapa harus Anisa?
Iis mempercepat langkah kakinya keluar dari halaman rumah Anisa, melewati pagar besi rumah besar itu, dan segera melangkah cepat menuju rumahnya sendiri.
__ADS_1
Ya Allah, jangan jadikan aku pendengki, aku mohon. Doa Iis.
**-------------**